Minggu, 27 September 2015

Transit Sehari di Kuala Lumpur

Setelah menempuh 2 jam perjalan dari Melaka, akhirnya tibalah kami di Hotel 99 Bukit Bintang. Rate yang kami peroleh dari booking.com jauh lebih murah dibandingkan rate yang kami lihat di hotel ini. Untuk suite family kami dapat diharga RM 244 sedangkan jika pesan langsung kepihak hotel, harga kamar RM 100 lebih mahal dari yang kami dapat. Dalam kamar tersedia 2 queen bed dan 1 single bed. Intinya ini nyaman untuk 7 dewasa dan 1 anak kecil heheheh, dibuat senyaman mungkin saja namanya juga lagi trip *wink.

Tidak perlu dikoordinasi, semua orang sudah siap jalan mengelilingi KL hari ini tujuan utama kami hari ini adalah berbelanja, namun sangat disayangkan jika tidak mengunjungi salah satu ikon kota ini yaitu Petronas Tower. Beberapa tahun yang lalu saya sudah semaksimal mungkin berfoto-foto dengan tower ini saat bersama dengan teman-teman saya. Namun kecanggihan kamera yang belum seberapa, rasanya foto itu harus diulang lagi degh #ngeles hehehehe. Dari Pudu Sentral kami harus berganti 2 LRT menuju KLCC. Mintalah LRT map kepada petugas hotel untuk memudahkan dalam perjalanan yaw.

Setibanya di KLCC kami menyempatkan makan siang terlebih dahulu, kemudian berjalan menuju taman KLCC untuk berfoto-foto dengan air mancur yang berada ditengah kolam dan dengan Petronas Tower dari jembatan ditaman itu. Semua orang menikmati cuaca yang tidak terlalu terik hari ini. Namun sangat disayangkan, tidak berapa lama hujan yang cukup deras pun memaksa kami untuk segera kembali ke dalam mall. Awalnya kami bingung harus menunggu berapa lama agar bisa keluar dari KLCC dan menuju Pavilion. Namun berkat teknologi, akhirnya kami tahu bahwa sejak berapa tahun lalu sudah dibangun jalan bawah tanah menuju Pavilion. Perlu waktu sekitar 30 menit perjalan hingga ke Pavilion. Karena ruang bawah tanah ini lengkap dengan AC dan beberapa titik menyerupai food court, maka tanpa terasa kami pun sudah tiba di Pavilion. Dari pavilion cukup menyeberang sekali lagi ke Fahrenheit agar kami bisa langsung masuk ke counter Vinnci.




Disaat kumpulan ibu-ibu sibuk memilih sepatu, yang bapak-bapak pun ikutan menggila di Branded Shop. Bagaimana tidak jika harga dua celana laki-laki bisa diperoleh dengan RM 75 sedangkan baju di harga RM 29 saja. Dari semua perjalanan kami, waktu masuk toko inilah yang paling banyak memakan waktu, hingga tidak disadari saat keluar toko kami pun sudah langsung kelaparan dan mencari makan malam. Tidak perlu ditanyakan lagi rumah makan apa yang kami kunjungi. Tentu saja Chie Meng menjadi rumah makan tujuan utama, terlebih lagi karena waktu yang kami yang sangat terbatas di kota ini. Perut kenyang, hatipun senang. Mari kembali ke hotel dengan berjalan kaki sekitar 10 menit lagi hingga badan bisa rebahan dengan puas.

----
Menuju Bandara

Maskapai yang kami gunakan untuk kembali ke Indonesia adalah Lion Air. Kami menggunakan taxi dengan rate sekitar RM 85-90 untuk waktu tempuh sekitar 50 menit perjalanan. Hal yang paling mengherankan adalah Maskapai Lion Air ini berangkat dari terminal 1 dimana ini adalah penerbangan domestik. Karena tidak ada penjelasan yang mumpuni dari petugas bandara, akhirnya kami pun minta diantarkan ke terminal 2 untuk penerbangan antar bangsa. Sesampainya kami diterminal ini, petugas informasi pun memberitahukan kepada kami bahwa maskapai Lion Air terbang dari terimanl 1. Dibagian dalam terminal 1 ternyata ada penerbangan antar bangsanya juga. OH my God, kenapa tidak informasi yang jelas baik itu dari petugas maupun papan petunjuk yang seharusnya terpampang didepan terminal.

Untung saja ada kereta transit yang dapat kami gunakan dengan membayar sekitar RM 2. Kereta ini berangkat setiap 30 menit dari terminal. Saat kami tiba bertepatan 2 menit sebelum kereta tersebut kembali berjalan. Jangan bayangkan betapa hebohnya kami berlarian melewati mesin dengan membawa koper segembreng ibu hamil, manula dan anak kecil. Sehingga bagi kamu yang memiliki penerbangan international dan belum mengetahui kondisi seperti apa ada baiknya memang datang lebih awal.


Happy family, happy trip *wink.

Sabtu, 26 September 2015

Mengelilingi Mallaca Dalam Sehari

Hari ini perjalanan kami dilanjutkan dengan bus menuju ke Melaka. Pukul 07.00 kami sudah meninggalkan hostel menuju Lavender MRT station. Bus kami akan berangkat dari sini menuju ke Bus Poll di Hattan Hotel Melaka. Waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan tidak termasuk lamanya waktu yang harus kami habiskan di imigrasi Singapura lagi dan lagi. Membayangkan kejadian kemarin saja rasanya sudah malas bukan main. Setelah 30 menit perjalanan kami pun sampai di pintu gerbang Singapura. Rasanya senang sekali melihat banyaknya counter imigrasi yang buka dibandingkan dengan kemarin. Sehingga kami hanya menghabiskan waktu sekitar 5-10 menit untuk proses imigrasi, begitu pula yang kami rasakan ketika melewati imigrasi Malaysia yang memang sedari kemarin selalu bebas dari antrian panjang.

Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan perkebunan sawit dan sesekali melawati perkampungan melayu sehingga bisa dipastikan saya tertidur sepanjang perjalanan ini. Sesampainya kami di Malaka, kami harus berjalan sekitar 100 meter lagi menuju Fenix Inn Hotel & Apartment. Sungguh menyenangkan telah memilih penginapan ini, Dengan harga Rp.1jt/ malam kami memperoleh 1 unit apartemen dengan 2 kamar dan 1 sofa bed yang juga cukup untuk dua orang. Malam ini kami tetap bisa tidur nyenyak ber delapan dalam satu ruangan. Beginilah susahnya jika berjalan dengan rombongan keluarga karena semuanya ingin berapa didalam satu kamar. Katanya takut ketinggalan gossip jika kamarnya berbeda-beda, padahal sehari-hari pun kami masih satu rumah hehehehe.

Setelah menaruh barang, kami pun segera menuju ke kawasan tourist attraction. Hanya waktu 10 menit dengan berjalan kaki untuk sampai ke pusat wisata Melaka. Cuaca sangat panas hari ini, si anak kecil dan neneknya sudah mulai rewel kepanasan. Sebenarnya kami bisa mengitari seluruh museum dan tempat wisata bersejarah Melaka dengan berjalan kaki. Namun sangat disayangkan kali ini harus mengalah demi mood bersama. Kami pun menyewa becak wisata seharga  MYR 40/ becak untuk perjalanan mengitari sekitar 16 tempat wisata selama 40 menit. Satu becak cukup untuk 2 dewasa dan 1 anak kecil. Lokasi yang pertama yang kami kunjungi adalah Christ Church Malacca. Gereja ini sepertinya menjadi icon kota Melaka. Bangunannya yang masih asli dari jaman peninggalan Portugis membuat kesan kota tua begitu lekat dengan bangunan dan kota ini. Sayangnya, saat siang hari, pelataran gereja dipenuhi dengan tenda-tenda kaki lima dan becak wisata sehingga berfoto dibagian depan gedung lebih mirip foto didekat pasar. Cobalah datang saat malam hari, suasannya sungguh berbeda. Bahkan pelataran sudah bersih sama sekali dari tenda, becak dan sampah turis.

Selanjutnya kami pun melanjutkan becak trip ini menuju Maritim Museum Mallaca. Dikawasan ini ada 3 museum yang bisa wisatawan masuki hanya dengan membeli satu tiket terusan saja. Salah satu yang menjadi ikon wisata adalah museum maritim yang bentuknya menyerupai kapal-kapal Portugis. Selain museum maritime, tidak jauh dari situ juga ada wisata kanal/ sungai Melacca. Waktu perjalanan sekitar 30 menit menyusuri sungai. Paling ok jika naik kapal pada sore hari karena cuaca sudah tidak terlalu panas, cahaya pun cukup untuk melihat-lihat keindahan kota Melaka dari sungai pada sore hari.

Selanjutnya kami kembali naik becak menuju Taman Mallaca. Selama perjalanan kami melewati gedung observasi yang dikenal dengan nama Taman Sari Tower. Namanya juga tour, tidak perlu mengharapkan terlalu tinggi becak ini membawa kita berkeliling ke 16 titik wisata yang ada pada gambar. Tentu saja aka nada kata “melintasi”, jadi yah sekedar melintasi saja. Tapi sekali lagi, mengingat ini adalah perjalan group maka tenggang rasa adalah nomer satu heheheeh. Setelah berfoto-foto dan berbelanja souvenir khas Mallaca kami pun beristirahat makan siang dan kembali ke hotel. Perjalanan selanjutnya akan dilanjut ke pasar malam yang terkenal di Mallaca. 

Nama daerah pasar malam ini adalah Jongker Street. Lokasinya berseberangan dengan Christ Church Malacca. Dari hard rock café hingga ke ujung jalan Jongker ini penuh dengan penjualan dari makanan, souvenir hingga berbagai penemuan terbaru urusan dapur. Tidak ada kendaraan yang dapat melintasi jalan ini dikala malam, bahkan sepeda sekalipun. Harga yang ditawarkan pun bisa lebih murah dari kita bisa dapat saat siang hari. Jadi jangan takut, jika tadi siang belum bisa dapat oleh-oleh yang diinginkan, mencoba jalan-jalan malam di Jongker street tentu pilihan yang tepat.


Dengan berakhirnya malam ini, tepat jam 12 malam berjalan kembali menuju hotel untuk persiapan menuju Kuala Lumpur keesokan harinya. Untuk menuju Kuala Lumpur sebenarnya ada dua pilihan yaitu dengan bus dari Malacca Central atau menggunakan Mini Van sewaan sekitar RM 422 untuk 7 seater (adult). Karena malam ini terlalu maksimal jalannya, maka kami sepakat untuk menggunakan mini van saja. Meskipun harganya lebih mahal dibandingkan dengan naik bus namun ini menghemat energy kami untuk berpindah dari hotel ke Mallaca Central dan dari KL Central menuju Bukit Bintang. Tinggal naik, duduk manis dan sampai lagi degh *wink.

Klik link dibawah untuk cerita selanjutnya di Kuala Lumpur *wink


Jumat, 25 September 2015

Perjalanan Demi Bocah ke Lego Land, Johor Bahru

Perjalanan kami ribet banget loh, tinggalnya di Singapura  tapi jalan-jalannya ke Johor Bahru, Malaysia. Pertimbangan kami sih karena jarak dari Singapura ke Lego Land (1 jam untuk jarak 50.9 km) lebih dekat dibandingkan jika berangkatnya dari Kuala Lumpur (3.5 jam untuk jarak 287 km) dengan harapan waktu tempuh yang kami habiskan pun lebih sedikit. Ternyata untuk melewati kantor Imigrasi baik Singapore maupun Malaysia cukup memakan waktu. Sewaktu akan keluar dari Singapore maupun masuk kembali ke Singapore, salah satu keluarga kami selalu saja ditahan dan diinterograsi terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan nama yang tercetak dipasport hanya 1 kata. Sudah nama hanya 1 kata, mengandung istilah Islami pula. Disaat banyak orang yang lagi aware banget dengan terorisme, jadilah ipar saya ini selalu saja ketahan di Imigrasi Singapura. 
 
Baheklah, lanjut bahas budget dulu kali yah. Untuk transportasi ke Lego Land kami memilih perjalanan menggunakan bus dengan harga SGD 20 s.d SGD 30 yang berangkatnya dari Singapore Flyer. Kemudian untuk tiket masuk Lego Land sendiri kami kami perlu membayar sebesar berikut dewasa SGD 58, anak-anak (3-11 tahun) SGD 44, dan Senior (60+) SGD 44. Harga tiket wahananya lumayan banget sih yah harganya dihitung-hitung dengan transportnya omg dahsyat!.

Lanjut lagi ceritanya setelah kita melewati drama imigrasi yang berkepanjangan. Meskipun akhirnya kami tiba di Lego Land lebih lama dari yang dijadwalkan, namun masih tidak terlambat untuk memulai kesenangan ini yah teman-teman. Kok kita niat banget yah ke Lego Land?. Semua ini biar anak bocah (keponakan) saya juga merasakan liburannya sendiri. Ini adalah amusement park yang cocok dengan umur dan ukuran badannya. 
Yang berbeda dari amusement park lainnya adalah bentuk permainannya yang menyerupai lego dalam berbagai ukuran. Selain itu banyak patung-patung yang juga di susun dari lego-lego kecil. Lego land ini pas sih sebenarnya untuk orang dewasa dan anak-anak. Untuk orang dewasa, tempat ini masih memiliki atraksi yang memompa jantung juga seperti rolller coaster, the tower, dsb. Selain itu juga ada area bermain khusus anak. Permainannya berkisar mainan yang biasa kita temui diwahana bermain anak diMall. 
Kali ini saya tidak bisa menikmati permainan orang dewasa karena dalam kondisi sedang hamil. Selain saya, anggota keluarga yang lain seperti kakak ipar saya yang menemani anaknya di area anak, kemudian mertua saya karena sudah senior, kakak ipar saya takut ketinggian, jadi siapa yang main donk? Yah cuma suami dan 1 orang kakak ipar saya saja yang mau bermain. Kalau saya ikut yang area berfoto-foto dengan miniatur city yang dibuat dari lego-lego.
Eh setelah suami dan kakak ipar saya mau mencoba berbagai permainan, tiba-tiba kami kehilangan 1 paket donk keluarga ipar saya. Ipar saya dan anaknya tidak ditemukan diarea bermain anak sedangkan suaminya pun sudah berpisah dengan kami semua sejak awal. Inilah yang perlu diingat jika bepergian beramai-ramai seperti ini. Kita harus memastikan jam berkumpul dan tempat berkumpul saat waktu pulang telah tiba. Ini tentu saja adil yah untuk semua orang. Bagi yang mau main yah bebas main, yang mau nongkrong yah nongkrong aja, sedangkan yang mo hilang yah hilang aja (cuma ampe jam pulang yang disepakati yah ttp harus balik sendiri :p).

Jadilah kami mengelilingi wahana mencari keluarga kecil yang hilang itu nyaris sampai jam pulang donk sodara-sodara. Kami harus mengejar bus yang sudah kami booking sebelumnya (Link Jadwal Bus dan Harga ). Seharusnya yang menulis cerita ini keponakan saya saja kali yah, the one and only paling menikmati tour di Lego Land. Akhirnya kami pulang dengan bus dan mengalami masalah yang sama di Migrasi Singapura kembali *wink. Besok? Yup besok kami melewati imigrasi ini kembali untuk ke Malacca donk hahahahhahaha.

Senin, 29 Juni 2015

Hongkong Trip Day 3: Menuju Puncak "The Peak"

Hari ini kami memulai hari lebih santai. Nampaknya sih setiap hari kami selalu mulai hari dengan terlalu santai. Maklum yah masih Ramadhan jadi jalan-jalannya baru mulai siang hari biar kelaparan dan kehausannya pendek saja *wink. Rencananya kami ingin melihat Hongkong lagi dari ketinggian, hahahaha kemarin liat Hongkong malam hari, hari ini siang hari. Itu adalah bujuk rayu suami saya agar bucket listnya terpenuhi. Karena saya lemah akan rayuan, jadilah kami benar-benar berangkat menuju The Peak.

The Peak


Namanya juga The Peak tentu saja tempatnya tinggi yak, untuk mencapai puncaknya pun kami harus menggunakan tram. Tram ini sudah sangat lama dibangunnya bahkan ada museum tersendiri untuk melihat sejarah tram ini. Untuk menggunakan The Peak Tram, kalian hanya perlu membeli tiket di Garden Road Peak Tram Lower Terminus. Caranya adalah dengan menggunakan MRT menuju Central Station Exit J6. Setelah itu kalian dapat mengandalkan google map untuk menuju ke Place Mark 2. Dari pinggir jalan pun kalian sudah dapat melihat keramaian dan antrian panjang orang-orang yang ingin menggunakan tram. Saya sarankan untuk mengatur jadwal perjalanan kalian menjadi weekdays ketika merencakan untuk naik ke The Peak. Antrian di saat weekend benar-benar bikin menganga. Untuk harga tiket yang lebih update dapat dilihat di link berikut:

Pengalaman menaiki tram ini agak ngeri-ngeri sedap begitu. Tidak ada masalah apa-apa sebenarnya, hanya umur tram dan kemiringan tram 45' yang membuat perjalanan menuju puncak ini terasa menggelikan. Untunglah pemandangan hutan dari tram ini bisa mengalihkan perhatian sedikit (iya saya takut ketinggian anaknya :(...). Alhamdulillah yah sampai dengan selamat. Disini terdapat cafe dengan pemandangan Hongkong khas kota modern. Selain itu kalian juga bisa mengunjungi Madame Tussauds Hongkong. Beli tiket paketan yang ditawarkan sebelumnya agar kalian mendapatkan harga yang terbaik yah.

Kirain ini sudah tinggi, ternyata masih ada yang namanya Sky Terrace. Dari atas sana kalian bisa melihat pemandangan kota Hongkong 360' tanpa terhalang gedung. Kalau dari The Peak saja, yang pemandagannya masih terhalang tiang gedung Sky Terrace lah. Ada aja yah yang bisa dijual disini *wink.





























Selesai berkunjung ke The Peak kami pun melanjutkan perjalanan kami kembali berkeliling kota Hongkong. Tidak banyak makanan yang dapat kami coba selama perjalanan kali ini, padahal salah satu hal yang menyenangkan saat liburan adalah makan-makannya. Satu makanan yang masuk kedalam list kami adalah Tim Ho Wan.

Tim Ho Wan

Susah juga mendapatkan restoran ini, karena termasuk salah satu lokal restoran di kota Hongkong. Belum lagi, restoran ini selalu ramai dikunjungi baik itu jam makan siang maupun jam makan malam. Untung saja kami beruntung menemukan salah satu cabangnya yang tidak terlalu ramai. Tidak perlu membahas harganya yah, karena semua di Hongkong ini mahal. Berikut adalah beberapa foto menu yang kami rekomendasikan untuk kalian coba. Oh iya tidak perlu takut, meskipun ini local restoran namun mereka mempunya daftar menu dalam bahasa/ tulisan latin (English)




Selamat mencoba yah, tutup aja daftar harganya tidak rugi buat di santap selagi di Hongkong *wink





Sabtu, 27 Juni 2015

Hong Kong Trip Day 1: Another Budha Statue Another Trip Another Story

Tidak perlu diceritakan kembali panjangnya perjalanan kami dari Macau hingga ke Hotel. Kami tiba di Hongkong Ferry Terminal sudah malam hari. Sudah lelah dan sulit berkonsentrasi serta karena keterbatasan bahasa kami agak sulit untuk menanyakan lokasi train station disekitar kami. Berdasarkan informasi, kami hanya perlu naik train dan turun di station berikutnya, jadilah kami memutuskan untuk jalan kaki saja sekalian. Ternyata suami harus mengeret-geret koper 30kg kami sangat jauh. Hotel kami berada di salah satu lantai dari apartement. Nomernya pun ratusan dan kami memulai perjalanan kami dari gedung nomer 50-an (murkalah suami dengan ide jalan kaki saya ini).

Harga hotel di Hongkong ini gila-gilaan, untuk mendapatkan budget hotel dibawah Rp. 1jt itu sangatlah mustahil. Ketika kami mendapatkan hotel dengan harga tersebut ternyata bentuknya bukan hotel. Kami memasuki nama gedung yang dituju. Setelah memasuki gedung kami pun naik ke lantai atas dengan lift yang sudah tidak layak operasi. Suasananya persis seperti film mafia Hongkong hahahaha. Setelah sampai dilantai yang tuju, ternyata dilantai tersebut terdapat 3 hotel lainnya. Setelah berkeliling akhirnya kami menemukan tempat penginapan kami. Sebelumnya kami telah memesan kamar untuk 2 malam, namun karena ada perubahan rencana kami pun memesan tambahan hari namun dengan kode booking yang berbeda. Akhirnya hari ini kami harus rela tidur di tempat jemuran. Hahahahah yah ini adalah apartemen 3 kamar sebenarnya yang disulap oleh sipemeliki menjadi kamar hotel. Kamar asli yah jadilaha kamar, ruang tamu, ruang makan jadilah kamar dannnnnn jemuran pun jadilah kamar hahhahaahah. Belum lagi kamar mandi kami yang cuma ada air panas saja serta pintu kamar mandi yang hanya ditutup menggunakan tirai (cukuplah yah ceritanya sampai disini saja, kami sudah menertawai diri kami sendiri)

Ngong Ping 360'


Pagi pun tiba, kami bersiap-siap menuju ke Big Budha. Sebelumnya koper kami harus dikeluarkan dari kamar, agar langsung dipindahkan ke kamar dengan kode booking lainnya. Untuk menuju ke Big Budha kita bisa menggunakan Cable Car maupun dengan Bus. Jika memutuskan untuk naik bus maka cobalah untuk menggunakan Bus menuju ke Tung Chung Town Center, dari situ kalian dapat melanjutkan perjalanan dengan Ferry dari Tai O Ferry Pier.

Naik ferry? yah memang benar kita perlu menggunakan ferry untuk menyeberang pulau, karena Big Budha ini terletak di Lantau Island. Bagi ini yang ingin mencoba cara lain dapat menggunakan Cable Car. Caranya sama saja, kalian harus ke Tung Chung Station terlebih dahulu, kemudian berjalan menuju ke ticket booth Ngong Ping 360' untuk membeli tiket. Antriannya yang panjang ternyata bukan karena kami yang kesiangan melainkan ini selalu ramai weekdays maupun weekend dan dihampir semua jam. Oh iya ada dua pilihan Cabla Car yang kalian bisa pilih. Cable Car biasa atau Cable Car dengan lantai transparan *wink.




Buat lebih lengkapnya masalah harga silahkan klik link berikut:
http://www.hong-kong-traveller.com/ngong-ping-360.html#tickets

Berhubung di Hongkong ini apa-apa bayar apa-apa bayar jadinya kami mencoret Cable Car Crystal dari list percobaan kami. Meskipun setelah melewati laut dibawah sana rasanya keputusan yang saya ambil sangat tepat. Trip yang kami lewati cukup jauh dan kami sempat cukup lama bergelantungan diatas laut kemudian di atas hutan yang lebat. Ternyata, dibawah kami ada jalanan bagi yang ingin tracking loh. Tracknya tidak bisa dibilang mudah, melihatnya saja saya sudah lelah. Intinya pengalaman ini worth to try bahhh!



Big Budha



Dari Ngong Ping kami masih harus berjalan berapa ratus meter sebelum sampai di tangga pertama menuju ke Big Budha. Yah tentu saja sebentar lagi kita harus menaiki tangga yang tinggi dan terjadl ini. Meskipun fasilitas tangga sangat terawat, namun jarak antar anak tangga yang cukup tinggi membuat kita harus berhati-hati juga saat menaiki tangga tersebut. Be wise with you feet ladies, liburan ini bukan heels banget, semua yang menggunakan alas kaki selain sepatu teplek maupun sepatu keds harus berakhir dengan menenteng alas kaki mereka hingga ke atas.

Akhirnya sampai juga saya diatas Big Budha ini. Pemandangannya luar biasa memanjakan mata, meskipun cuaca yang masih sangat terik kami tetap semangat untuk berkeliling. Suami dan saya adalah tipe orang yang berbeda untuk liburan. Suami lebih suka bepergian dikala musim dingin sedangkan saya amat sangat menikmati liburan dimusim panas. Jadi tidak mengherankan jika foto kami di isi dengan ekspresi yang sangat berbeda. Satunya pecicilan dan yang satunya lagi penuh dengan peluh diwajah.





Tidak hanya dibagian atas Big Budha saja, di plataran Big Budha pun memiliki spot-spot foto yang menarik. Bagi yang suka makanan vegetarian, disin terdapat food court yang menjual banyak jenis makanan vegetarian. Nnamun bagi kalian yang karnivora tulen, kalian tentu saja dapat membeli makanan disepanjang jalan antra Ngong Ping dan Big Budha.

A Symphony of Light


Selanjutnya kami memilih menghabiskan malam di salah satu keramaian kota Hongkong. Setiap harinya, pada pukul 20.00 kalian bisa menyaksikan A symphony of Light dari Tsim Sha Tsui Waterfront. Untuk dapat menuju ketempat ini, ambilnya kereta dari mana saja menuju ke Tsim Sha Tsui Station exit 6. Dari situ ikutilah petunjuk arah menuju ke lokasi.

Menjelang acara akan dimulai orang-orang berbondong-bondong datang dan merapat ke pinggir dermaga. Kami berdua yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi pun bingung, dari mana sebenarnya spot terbaik untuk menonton melihat seluruh orang merapat kepinggir dermaga disepanjang taman ini. Setelah terdengar introduction dan musik yang bersenandung, saya pun bingung "mana pertunjukannya?". Dibayangan saya sebentar lagi akan ada air mancur yang keluar dari air didepan kami dan berwarna-warni. Untung saja suami saya mengerti yang terjadi, ternyata inti dari pertunjukan ini adalah deretan gedung diseberang sana akan menyala bergantian sesuai dengan iringan lagu. Gubrak! Dan 13 menit pertunjukan ini pun terasa 30 menit bagi saya. Tidak sampai acara berakhir kami sudah berkeliling-keliling taman saja.
Untuk lebih menarik mungkin kalian bisa memilih alternatif lain yaitu dengan menaiki harbour cruise sambil berkeliling sungai. Karena tidak mencobanya saya kurang tahu mengenai alternatif ini. Silahkan klik link berikut untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkapnya
http://www.discoverhongkong.com/eng/see-do/highlight-attractions/harbour-view/harbour-cruises.jsp
Sisa malam ini hanya kami habiskan berkeliling dermaga sambil mencoba kembali berjalan kaki menuju apartemen hahahahaha *wink

Besok kita mau ke Disney Land HK yeay yeay ye ye!

 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver