Sabtu, 29 Juni 2013

Medan Menuju Danau Toba

Hay semua, pekerjaan di kantor baru ini benar-benar menyita waktu. Kalau ada waktu lenggang pasti buat jalan-jalan keluar atau sekalian tertidur pulas di kamar. Mumpung hari ini semua berjalan lambat – termasuk otak saya yang kurang tidur karena harus sahur – maka mengisi blog saya harapkan bisa ‘memanaskan’ otak saya.


Kali ini saya akan menceritakan pengalaman jalan-jalan saya di provinsi Sumatera Utara. Selain kota Medan yang terkenal dengan kulinernya yang enak-enak, masih ada banyak tempat-tempat wisata yang wajib untuk kita kunjungi. Salah satunya di sepanjang jalan provinsi Sumatera Utara menuju Danau Toba. 

Untuk mencapai Danau Toba sebenarnya ada dua rute alternatif yang bisa kamu tempuh. Yang pertama melalui Prapat yang memakan waktu sekitar 4-5 jam perjalanan. Lalu, bisa juga melalui Berastagi yang memakan waktu sekitar 7-9 jam perjalanan. Kali ini saya akan melawati kedua jalan tersebut, pergi lewat Berastagi dan pulang melalui Parapat.

Berastagi

Kota yang satu ini dapat ditempuh  dalam 2 jam perjalanan dari kota Medan. Bertempat di daerah ketinggian di Sumatera Utara, kabupaten ini terkenal dengan kumpulan resort yang bisa disewa untuk menghabiskan akhir pekan. Tentunya sambil menikmati cuaca berkabut dan dingin ala pegunungan.

Seperti halnya daerah dataran tinggi di kota-kota lain, Berastagi juga terkenal dengan jeruk, stroberi dan sayur-sayurannya yang dapat dibeli dengan cara petik sendiri. Kalau kamu tidak terlalu ahli dalam memetik sayur dan buah-buahan, bisa langsung saja datang ke pasar buah Berastagi. Harga rata-rata buah-buahan di sini sekitar Rp.15.000,-/kg. Ajaibnya, untuk wisatawan internasional harganya bisa berubah menjadi Rp.50.000,-/kg. Kali ini saya membeli buah kesemek kupas untuk dibawa pulang. Pilih yang tidak terlalu matang, sehingga bisa dimakan seperti camilan selama perjalanan. 
Selain pasar buahnya, di Berastagi pun terdapat taman alam lumbini. Tempat ini sebenarnya adalah vihara yang mengadopsi model arsitektur dari Thailand. Bentuk vihara dengan stupa lancip diatasnya, diselimuti dengan warna emas, dan banyaknya tulisan dengan aksara Thai menghiasi arsitektur disekeliling tempat ibadah ini. Tak ada biaya masuk ke dalam vihara. Bahkan, kita bisa berkeliling dengan bebas sambil mengambil foto – sambil tetap menjaga kesopnanan tentunya. Oh iya, ada baiknya kamu jangan ngobrol di dalam vihara karena suara yang bergema bisa menganggu kekhusyukan umat Budha yang sedang berdoa.




Tidak hanya itu saja, di Berastagi ini juga ada Mickey Land – taman bermain outdoor. Hanya dengan membayar Rp.80.000,-/orang, kamu sudah bisa menikmati puluhan wahana bermain. Sayangnya, saya tidak sempat mencoba taman bermain ini karena waktu yang sempit. Mungkin lain kali ya…

Air Terjun Sipiso-Piso

Setelah tertidur selama beberapa jam di perjalanan, akhirnya saya sampai juga di salah satu tujuan wisata kabupaten Kaban Jahe, Sumatera utara. Apa itu? Apalagi kalau bukan Air Terjun Sipiso-Piso. Uniknya, saat tiba ditempat ini, ternyata posisi saya berada sejajar dengan puncak air terjun. Entah ada berapa ratus anak tangga yang harus saya lewati untuk sampai ke bagian bawah air terjun.
Jangan tertawa, namun untuk air terjun kali ini saya hanya mampu setengah perjalanan saja. Saya cukup menyesal tidak sempat melihat langsung dasar air terjun. Tapi, saya anggap tersebut alasan yang tepat untuk kembali ke Sipiso-Piso suatu saat nanti. Untungnya, tempat ini memiliki latar belakang yang sangat indah:  Danau Toba yang terhampar seperti lautan, sangat mengesankan.
*Sekadar tip dari guide saya: Kalau mau beli oleh seperti baju, daster atau baju hangat yang bertuliskan Berastagi, tempat ini menawarkan harga yang lebih murah, ketimbang di Pasar Buah Berastagi.


Samosir

Tidak berlama-lama di air terjun Sipiso-piso, perjalanan selanjutnya ditempuh selama 3 jam agar tepat waktu sebelum kapal penyebrangan dari Parapat menuju ke Samosir berangkat. Di kabupaten Parapat sendiri terdapat beberapa pelabuhan untuk menyebrangkan kendaraan maupun perorangan ke Pulau Samosir.  Untuk kapal penumpang tersedia di pelabuhan Ajibata. Ada yang menuju ke Tomok ada yang menuju ke Tuk-tuk. Pastikan penginapan kamu berada dekat dengan Tomok atau Tuk-tuk. Kapal berangkat setiap jam. Dari Ajibata kapal pertama jalan pukul 08.00 sedangkan kapal terkahir jalan pukul 19.00. Sedangkan dari samosir sendiri, kapal pertama jalan pukul 07.00 sedangkan kapal terakhir jalan pukul 18.00. Untuk sekali perjalanan, penumpang diwajibkan untuk membayar sebesar Rp. 10.000,00. 

Sebenarnya saya berencana untuk menyebrang bersama mobil saja agar mudah berjalan-jalan sekitar pulau Samosir keesokan harinya. Namun sangat disayangkan, membludaknya tingkat kunjungan di libur sekolah kali ini, mengharuskan kita untuk memparkir mobil di pelabuhan Ajibata dan menyebrang sendiri menuju samosir. Saya tidak perlu khawatir karena mobil aman bersama sopir yang telah saya sewa juga sebelumnya.
Kali ini saya menginap di Toba Cottage, kapal yang saya naiki langsung mengantarkan saya tepat ke dermaga cottage ini. Pertama kali tiba, saya benar-benar bingung harus ngapain seperti tersesat dipulau asing *wink. Setelah melapor ke receptionist, segeralah saya mendapatkan kamar. Malam ini kami berencana untuk keluar mencari makanan disekitar cottage namun cuaca yang hujan dan penerangan yang kurang mengharuskan kami menikmati dinner buffet di hotel saja. 

Namun saya tidak terlalu kecewa, karena meskipun terjebak oleh hujan saya tetap bisa menikmati suasana pulau Samosir. Makan sepuasnya sambil lesehan serta di temani live music yang memaikan lagu-lagu khas batak yang ceria. Hahahaah paling tidak terdengar riang, mungkin karena vocal orang batak yang keras aja kali yah hingga lagu-lagunya terdengar cerita oleh saya.

Tidak terasa waktu berlalu, satu persatu penghuni hotel telah menyelesaikan makan malam mereka dan beranjak ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Saya tidak sabar menanti besok pagi untuk berkeliling pulau Samosir ini.
Setelah semalaman diguyur hujan, pulau Samosir dan danau Toba begitu indah dipagi hari yang cerah. Tidak perlu berlama-lama menikmati sarapan pagi, kami segera menuju dermaga dibelakang cottage untuk berenang di danau Toba. Awalnya saya tidak yakin untuk masuk kedalam air danau, namun melihat banyak orang yang bersenang-senang di dalam air serta ibu-ibu dari penduduk sekitar yang masih berenang di danau untuk mandi setiap harinya, maka saya memberanikan diri masuk kedalam air. Tidak ada karang didalam sini, yang ada hanya tanaman bawah air dan ikan-ikan kecil yang berenang disekitar saya. Air danau toba masih sangat bersih, tidak hanya airnya namun udara pengunungan menambah kesejukan yang saya nikmati. Rasanya tidak ingin mengakhiri pengalaman saya didalam air, namun masih banyak tempat yang dapat saya kunjungi di pulau Samosir ini. Maka setelah beberapa kali percobaan melompat dari pinggir danau, akhirnya saya dengan berat hati harus segera bersiap-siap untuk perjalanan kami berikutnya.



Waktu telah menunjukkan pukul 10.00 pagi, karena tidak mau terburu-buru untuk kembali ke hotel untuk check out, saya memilih untuk check-out lebih awal. Setelah itu menitipkan tas pakaian saya pada receptionist dan menyewa motor untuk berkeliling pulau Samosir mengingat mobil kami sedang diparkir di daerah Parapat. Harga sewa motor adalah Rp. 30.000,00/ perjam untuk 2 jam pertama. Selebihnya Rp. 90.000,00 untuk penggunaan seharian. Harga tersebut sudah termasuk harga bensinya. Setelah semuanya siap, maka dimulailah perjalanan kami kali ini menuju salah satu situs sejarah di pulau Samosir yaitu Batu Kursi Raja Siallangan. 



Di dalam kompleks object wisata ini masih terdapat beberapa rumah adat suku batak yang asli. Tembok-tembok tinggi yang mengelilingi kompleks ini menunjukkan bahwa dahulu kompleks ini dapat dikatakan seperti kompleks kerajaan. Ditengah kompleks terdapat dua tempat pertemuan dimana meja dan kursinya terbuat dari batu yang dipahat. Tempat pertemuan pertama berada di depan kediaman raja untuk rapat-rapat baik itu tentang perang maupun hal-hal umum lainnya. Sedangkan tempat pertemuan ke dua bisa disebut sebagai persidangan dimana hukuman untuk tahanan perang dibahas disini beserta eksekusinya.

Saya baru tahu, kalau menjadi algojo orang Batak ini ternyata tidak mudah, jika tahanan perang mempunyai ilmu kebal yang lebih tinggi darinya sehingga tidak mati dengan sekali penggal saja, maka yang akan di eksekusi berikutnya adalah si algojo. Pekerjaan yang berat yah ternyata hohoho.

Setelah mengitari daerah wisata ini, selanjutnya perjalanan dengan motor kembali dilanjutkan ke daerah Tomok. Ternyata tomok ini merupakan pusat kota pulau Samosir. Disini terdapat pusat pasar basah maupun kering, pelabuhan dan tentu saja ada tempat wisata yang ingin saya kunjungi disini. Setelah parker dipinggir jalan daerah Tomok ini, kami berjalanan masuk kedalam pasar untuk sampai ke Makam Batu Raja Sidabutar. Sebelum masuk ke dalam kompleks makam, kami harus memakai ulos yaitu kain khas batak. Didalm makam, tour guide saya langsung menjelaskan kisah dan arti dari patung-patung yang menempel pada makam Raja Sidabutar. Aneh sekaligus lucunya, terdapat patung wanita di atas makam sang raja. Ternyata patung ini diperuntukan untuk tunangan Raja Sidabutar yang menghilang mendekati hari pernikahan mereka. Konon tunangannya ini dipercayai sebagai jelmaan Ratu Pantai Selatan. Saya tidak terbanyangkan menjadi istrinya kalau melihat patung dimakam suami saya bukan saya loh, bisa saya obrak-abrik lagi tuh makam kayaknya hahahah.


Setelah berkeliling objek wisata melewati jalan kampung, sawah, pegunungan akhirnya siang pun datang dan kami pun mengakhiri perjalanan kali ini dengan makan siang disalah satu rumah makan muslim. Bagi yang tidak ingin makan didalam restoran yang menjual makanan mengandung B1 (anjing) atau B2 ( babi) maka langsung saja memilih rumah makan muslim yang banyak terdapat disepanjang jalan. Setelah kenyang dan capai, kami pun kembali ke dermaga cottage, mengambil barang dan menunggu kapal berikutnya datang sambil tidur-tiduran di rumah adat Batak yang dibuat terbuka ini. Angin sepoi-sepoi pun membelai kami hingga ketiduran disana.


Puas dengan pulau Samosir dan keindahan Danau Toba, kami pun harus rela melewati 5 jam perjalan lagi menuju kota Medan. Jangan lupa untuk mampir di Kabupaten Siantar untuk menikmati roti selai kaya dan kopi/the/teh tarik panasnya yang bener-bener beda dari yang lain. Rotinya lembut hingga terasa meleleh dimulut bener-bener berbeda dari roti yang kita makan pada umumnya. Ah lapar saya membicarakan makanan dikala puasa seperti ini. Selamat mencoba saja yang teman, sampai jumpa diperjalan saya berikutnya *wink.

Itenary
Sewa mobil 2 hari: Rp. 600.000,00
Sewa sopir (makan + penginapan) 2 hari: Rp. 300.000,00
Bensin: Rp. 270.000,00
Penginapan: Rp. 275.000 – Rp. 550.000 (ada baiknya booking kamar online, untuk mendapatkan harga 20-30% lebih murah)
Sewa motor: Rp. 60.000,00 / motor/ 2 jam
Makan: Rp. 25.000,00 – Rp. 30.000,00/ orang/ makan
Buah-buahan di Berastagi: Rp. 15.000,00/ kg
Souvenir baju anak: Rp. 25.000,00/ sepasang
Souvenir baju dewasa: Rp. 20.000,00 - Rp 30.000,00/ baju

Jumat, 28 Juni 2013

Medan

Hai hai, blog ku sayang

Lama tidak mengisi perjalanan dikarenakan memang sedang tidak berjalan-jalan atau disibukkan oleh pekerjaan. Sudah tiga minggu ini saya pindah kerja dikantor yang baru. Dan baru seminggu kerja di kantor ini, saya pun langsung ditugaskan sebagai trainer untuk management training kantor saya.

Kali ini kota yang saya tempati adalah Medannnnn...Berada hampir dua minggu disini, saya sudah mencicipi banyak makanan khas Medan. Namun karena sebatas makan siang dan makan malam saja, mungkin nanti saya akan mereview makanan-makanan enak di kota medan sekaligus saja *wink.

Minggu lalu sih saya sudah berkunjung ke Berastagi, kota dengan suhu yang sangat dingin untuk ukuran saya bahkan pada siang hari. Besok saya akan kembali ke kota Berastagi yang dilanjut hingga pulau Samosir. Jadi, untuk tempat-tempat yang menyenangkan lainnya nanti saya update sekaligus juga di topik jalan-jalan.

Sampai jumpa dicerita berikutnya...

XOXO *wink

Rabu, 16 Januari 2013

Dari Keraton, Taman Sari hingga ke Museum Vredeburg

Hari kedua jalan-jalan di Jogja, kali ini kami akan memaksimalkan waktu untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah dan ikonik di kota Yogyakarta. Untuk mengunjungi beberapa tempat kami menggunakan transportasi becak charter. Abang becaknya bisa dicharter beberapa jam untuk mengantarkan kita kebeberapa spot wisata seperti Taman Sari, Keraton Yogyakarta, Pusat Dagadu dan Juga tentu saja pusat oleh-oleh Bakpia. Jika kalian kurang tertarik untuk mengunjungi pusat oleh-oleh Bakpia, abang becak akan berusaha menawarkan kembali dan meyakinkan bahwa kita perlu banget untuk membeli salah satu oleh-oleh makanan favorite dari kota Yogyakarta. Katanya sih mereka akan dapat fee dari toko jika membawa pelanggan yang berbelanjan ke toko oleh-oleh. Untuk charter becaknya tidak terlalu mahal hanya sekitar Rp. 100.000 untuk setengah hari.

Keraton Yogyakarta

Ini bukan pertama kali bagi beberapa orang diantara kami untuk mengunjungi Keraton Yogyakarta. Bagi yang sudah pergi sebelumnya, selain rasanya sudah tidak penasaran lagi, beberapa fasilitas keraton pun nampak dibiarkan menua dengan umur keraton Yogyakarta. Tidak nampak pembaharuan dibeberapa sudut ruangan keraton. Keraton ini lebih nampak sedang mati suri dan diperuntukkan hanya untuk wisata saja. 

Jadi dibandingkan berkeliling ke area dalam keraton, kami lebih tertarik untuk berfoto-foto disepanjang jalan yang menghubungkan area keraton yang satu dengan area keraton lainnya. Semoga dengan mengetahui bahwa Keraton Yogyakarta adalah wisata yang akan selalu dikunjungi oleh wisatawan, maka pemerintah dapat lebih serius untuk memberikan kesan "hidup" di beberapa sisi keraton. Bisa juga ditambahkan informasi interakhir mengenai keraton seperti yang sudah disediakan oleh beberapa museum besar dikota Jakarta.

Taman Sari

Destinasi selanjutnya yang kami tuju adalah taman sari. Konon ini adalah tempat permandian selir-selir Sultan maupun putri keraton jaman dahulu. Ibarat spa dan pusat rekreasi bangsawan, tapi isinya hanya kepemilikian dan diperuntukkan untuk selir-selir dan putri Sultan saja. Terdapat dua kolam permandian berbentuk kotak, juga terdapat ruangan-ruangan kecil yang diperuntukkan untuk ruang istirahat dengan pemandangan langsung menuju kolam *ehm. 

Kolam ini dikelilingi tembok-tembok tinggi dengan arsitektur dan ukiran khas yang biasa ditemukan di keraton Yogyakarta. Untuk masuk kedalam sini pun kita melewati gerbang besar dengan pintu kayu yang tebal. Mungkin selain karena ini adalah kepemilikan raja dan juga diperuntukkan untuk tempat permandian, maka keamanan tempat ini termasuk yang dimaksimalkan. 

Jika masuk lebih dalam lagi melewati satu pintu besar lainnya, kita juga dapat melihat taman yang tertata dengan asri. Area sekitar permandian ini selain menjadi tempat wisata juga banyak digunakan oleh calon pengantin sebagai lokasi foto prewedding. Untuk tiket masuk wisata biasa kami cukup membayar Rp.3000,- perorang. Namun untuk foto prewedding ada biaya retribusi legal lainnya yang perlu dilengkapi nampaknya. 

Setelah dari Taman Sari kami melanjutkan perjalanan ke dagadu. Kata abang becaknya dagadu sudah pecah kongsi. Sekarang si "kreator" dibalik dagadu sudah pisah dengan merk tersebut dan membuat usaha sendiri. Lokasinya kurang bisa saya kenali yah, selama kaosnya masih memiliki kata-kata menarik dan berbahan nyaman yah beli wae lah. Setelah membeli baju, tentu saja abang becak ini berhasil meyakinkan kami untuk membeli oleh-oleh bakpia Yogyakarta. Karena bakpia ini untuk konsumsi pribadi jadilah beli seperlunya saja. Yah iyalah buat konsumsi pribadi, wong yang serumah ikutan semua *:p. 

Museum Vredeburg

Untuk ke Museum Vredeburg ini kami tidak lagi menggunakan jasa abang becak. Kami harus pisah dengan rombongan sebelumnya karena mereka sudah harus kembali ke Jakarta, sedangkan kami memesan pesawat untuk malam harinya. Karena waktu yang masih lama, maka berdua berjalan-jalan kembali mengelilingi kota Yogyakarta. Dimulai dari berjalan melewati Malioboro disiang hari mencoba menemukan Yogyakarta titik nol, hingga akhirnya kami melewati suatu museum yang bernama Vrederburg. 

Mumpung museumnya masih buka, kami mencoba untuk masuk kesana. Biaya masuknya sangat murah Rp.3000,- untuk dewasa dan Rp.2.000,- untuk anak. Arsitekturnya sama seperti museum di Indonesia pada umumnya, khas dengan arsitektur perkantoran Belanda. Saat masuk kedalam salah satu ruangan, kita langsung dapat melihat diorama mini jaman perjuangan. Sambil melihat diorama ini, kita juga sambil mendengarkan backsound suasa perjuangan dulu. 

Tidak terlalu lama waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi ruangan di area museum, kami pun memilih untuk berduduk santai menikmati halaman tengan museum yang kesannya asri. Duduk-duduk dan ngobrol disini enak juga ternyata, tau gini beli minuman manis dulu sekalian sebelum masuk.
Demikian dulu kali yah cerita dari liburan singkat dan padat kami selama di Yogyakarta. Kalau kota ini sih pasti akan selalu kembali. Sampai jumpa dicerita tentang Yogyakarta berikutnya :D.






Minggu, 23 Desember 2012

Monumen & Museum Nasional


Memasuki liburan panjang menyambut natal, penduduk ibu kota mulai beranjak meninggalkan Jakarta menuju ke kampung halaman masing-masing. Tujuannya? Tentu saja ke daerah-daerah pusat liburan seperti Puncak, Bandung, Bali maupun ke luar negeri. Namun bagi saya, momen seperti ini justru kesempatan emas untuk menikmati Jakarta yang lengang, sepi dari kemacetan. Pada liburan kali ini, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Monumen dan Museum Nasional. Kedua tempat ini berlokasi di Jl. Medan Merdeka sehingga memudahkan saya untuk mengunjungi keduanya. Tidak perlu berpanjang lebar lagi, mari memulai cerita saya kali ini.

Museum Nasional
Kalau liburan musim panas identik dengan pantai dan pegunungan, maka  liburan di musim hujan akan saya identikkan dengan museum. Tujuannya apalagi kalau bukan agar bisa tenang berada didalam museum jika sewaktu-waktu hujan datang *wink. Berbeda dengan museum-museum sebelumnya yang saya kunjungi, museum kali ini lebih menceritakan secara umum mengenai Indonesia dari jaman pra-sejarah hingga jaman modern. Museum Nasional terdiri dari dua gedung. Yang pertama nampaknya gedung asli dari museum nasional, hanya terdiri dari satu lantai dan halaman tengah gedung yang begitu hijau, kontras dengan tiang-tiang tinggi di sekelilingnya yang berwarna putih.


Di bagian depan gedung, ada papan besar bergambar profil berbagai suku di Indonesia, lengkap dengan pakaian adatnya. Papan ini dilukis dengan sangat baik dan benar-benar menampilkan ciri khas yang berbeda antara seluruh suku di Indonesia. Beranjak dari gedung bagian depan, saya disambut dengan berbagai arca-arca asli peninggalan sejarah yang di kumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari arca yang hanya setinggi telapak tangan hingga arca yang menggapai langit-langit museum semuanya dipamerkan disini. Namun tidak perlu khawatir, setiap arca memiliki informasi yang bertuliskan nama, fungsi, dan sejarah singkat arca tersebut.

Selanjutnya, koleksi pameran yang berada dibagian belakang gedung nampak tidak mau kalah dengan deretan arca-arca tadi dalam menceritakan Indonesia kepada saya. Barang-barang yang dipamerkan didalam sini dibagi menjadi beberapa daerah di Indonesia. Setiap barang menceritakan fungsi dan sejarahnya masing-masing. Dari sini saya tahu kalau muka garang si barong dalam pertunjukan barong di Bali itu justru simbol kebaikan yang melumpuhkan kejahatan. Padahal awalnya saya berpikir, kalau penampilan barong yang mengerikan justru melambangkan kejahatan hehehe *wink.



Tidak hanya tentang barong dari pulau dewata, sejarah pembuatan tato, fungsi dan makna dibalik sebuah tato bagi suku Dayak juga diceritakan disini. Sekedar informasi bahwa bagi orang Dayak, tato bergambar bintang di bagian pundak itu berarti telah ada satu nyawa yang ‘dibebaskan’ oleh Mandau si pemilik tato. Mungkin, kalau orang dayak bertemu dengan perempuan yang gemar membuat tato bergambar bintang di bagian pundaknya akan berpikir “ngeri sekali perempuan-perempuan jaman sekarang.” Hahahaha…

Setelah mengelilingi gedung pertama secara keseluruhan, sekarang waktunya untuk beranjak ke bagian lain dari Museum Nasional Gedung kedua terlihat baru, terdiri dari tujuh lantai dimana lantai pertama hingga ke empat merupakan bagian gedung yang diperuntukkan sebagai museum. Yang menyenangkan, ada fasilitas eskalator dan lift untuk memudahkan para pengunjung mengelilingi bangunan museum.

Di lantai dasar, terdapat beragam koleksi yang menjelaskan tentang manusia purba, mulai dari teori-teori hingga temuan tulang belulang, serta contoh rangka dari zaman pra-sejarah. Di lantai dua, ada berbagai koleksi alat-alat perdagangan, prasasti dan miniatur-miniatur kapal yang banyak digunakan untuk pelayaran dan perdagangan. Uniknya, prasasti-prasasti  tersebut bukan hanya tertulis dalam bahasa sansekerta, melainkan juga huruf arab dan berbagai tulisan lainnya yang sudah punah.


Setelah mengelilingi lantai kedua, selanjutnya berpindah ke lantai atas. Sayangnya, pada saat saya berkunjung, sedang ada renovasi di lantai tiga. Tanpa membuang waktu lagi, saya langsung menuju lantai empat. Harta kekayaan kerajaan-kerajaan lampau Indonesia menjadi tema besar koleksi museum di lantai ini. Berbagai barang pameran dari guci yang ditemukan di dasar laut, hingga koleksi emas, perhiasan, dan alat-alat persembahan dari kerajaan-kerajaan di Indonesia juga di pamerkan disini. Sayangnya, di lantai ini tidak diperkenankan untuk mengambil gambar. 


Secara keseluruhan, saya sangat puas berjalan-jalan mengelilingi Museum Nasional ini. Para pengunjung juga tidak habis-habisnya berdatangan, baik rombongan wisatawan dalam negeri, turis luar negeri hingga anak-anak sekolah yang melakukan study tour. Selesai menjelajahi seluruh museum, akhirnya saya memutuskan untuk menikmati suasana Jakarta sore hari di sekitar Monumen Nasional.

Monumen Nasional (MONAS)
Tempat ini merupakan simbol ibukota Indonesia, Jakarta, sehingga keterlaluan kalau masih ada yang belum pernah mendengar tentang Monas sebelumnya. Saat sore hari, banyak hiburan murah meriah di sekitaran tempat ini. Mulai dari penyewaan sepeda gandeng, mobil-mobilan listrik untuk anak-anak, andong, layangan serta foto bersama dengan ondel-ondel sebagai ikon dari Jakarta. Selain itu, pengunjung juga dapat masuk ke museum di dalam monumen. Mau naik hingga ke puncak Monas? Tentu saja bisa. Cukup dengan membayar karcis – dan memiliki kesabaran untuk antri – kamu bisa menggunakan lift untuk naik hingga ke puncak dan menikmati pemandangan kota Jakarta dari ketinggian 130 meter.  Sayangnya, hari itu saya datang terlalu sore, hingga loket yang menjual karcis sudah tutup.
Untuk menghibur diri, saya hanya berkeliling-keliling di taman sekitar Monas, lalu duduk di salah satu kursi  dan menikmati pemandangan anak-anak bermain, keluarga yang sedang bercengkarama dan langit Jakarta yang saat itu sedang biru berawan. Bagi saya sendiri, menikmati suasana sore di tempat ini – walaupun selalu ramai pada saat akhir pekan – memberikan ‘ketenangan’ yang berbeda. Duduk santai dikelilingi hijaunya pohon dan rumput di sekitaran tugu, ditambah hembusan angin sepoi-sepoi, membuai saya dalam nikmatnya sisi lain kota Jakarta.




Mau ikut ‘bertualang’ ke tempat-tempat di atas? Tidak usah merogoh kantong terlalu dalam. Dijamin murah meriah!
Tiket masuk Museum Nasional: Dewasa Rp. 5.000; Anak-anak Rp. 2.000
Tiket masuk Museum Rombongan (min. 20 org): Dewasa Rp. 3.000; Anak-anak Rp. 1.000
Tiket masuk wisatawan mancanegara: Rp. 10.000
Foto bersama ondel-ondel: Rp. 10.000
Harga tiket masuk monas: Rp. 2000 - Rp. 5.000

Cerita oleh: Tenri Ake
Edit Cerita & Foto oleh: Cita Nursyadzaly

 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver