Jumat, 28 Juni 2013

Medan

Hai hai, blog ku sayang

Lama tidak mengisi perjalanan dikarenakan memang sedang tidak berjalan-jalan atau disibukkan oleh pekerjaan. Sudah tiga minggu ini saya pindah kerja dikantor yang baru. Dan baru seminggu kerja di kantor ini, saya pun langsung ditugaskan sebagai trainer untuk management training kantor saya.

Kali ini kota yang saya tempati adalah Medannnnn...Berada hampir dua minggu disini, saya sudah mencicipi banyak makanan khas Medan. Namun karena sebatas makan siang dan makan malam saja, mungkin nanti saya akan mereview makanan-makanan enak di kota medan sekaligus saja *wink.

Minggu lalu sih saya sudah berkunjung ke Berastagi, kota dengan suhu yang sangat dingin untuk ukuran saya bahkan pada siang hari. Besok saya akan kembali ke kota Berastagi yang dilanjut hingga pulau Samosir. Jadi, untuk tempat-tempat yang menyenangkan lainnya nanti saya update sekaligus juga di topik jalan-jalan.

Sampai jumpa dicerita berikutnya...

XOXO *wink

Rabu, 16 Januari 2013

Dari Keraton, Taman Sari hingga ke Museum Vredeburg

Hari kedua jalan-jalan di Jogja, kali ini kami akan memaksimalkan waktu untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah dan ikonik di kota Yogyakarta. Untuk mengunjungi beberapa tempat kami menggunakan transportasi becak charter. Abang becaknya bisa dicharter beberapa jam untuk mengantarkan kita kebeberapa spot wisata seperti Taman Sari, Keraton Yogyakarta, Pusat Dagadu dan Juga tentu saja pusat oleh-oleh Bakpia. Jika kalian kurang tertarik untuk mengunjungi pusat oleh-oleh Bakpia, abang becak akan berusaha menawarkan kembali dan meyakinkan bahwa kita perlu banget untuk membeli salah satu oleh-oleh makanan favorite dari kota Yogyakarta. Katanya sih mereka akan dapat fee dari toko jika membawa pelanggan yang berbelanjan ke toko oleh-oleh. Untuk charter becaknya tidak terlalu mahal hanya sekitar Rp. 100.000 untuk setengah hari.

Keraton Yogyakarta

Ini bukan pertama kali bagi beberapa orang diantara kami untuk mengunjungi Keraton Yogyakarta. Bagi yang sudah pergi sebelumnya, selain rasanya sudah tidak penasaran lagi, beberapa fasilitas keraton pun nampak dibiarkan menua dengan umur keraton Yogyakarta. Tidak nampak pembaharuan dibeberapa sudut ruangan keraton. Keraton ini lebih nampak sedang mati suri dan diperuntukkan hanya untuk wisata saja. 

Jadi dibandingkan berkeliling ke area dalam keraton, kami lebih tertarik untuk berfoto-foto disepanjang jalan yang menghubungkan area keraton yang satu dengan area keraton lainnya. Semoga dengan mengetahui bahwa Keraton Yogyakarta adalah wisata yang akan selalu dikunjungi oleh wisatawan, maka pemerintah dapat lebih serius untuk memberikan kesan "hidup" di beberapa sisi keraton. Bisa juga ditambahkan informasi interakhir mengenai keraton seperti yang sudah disediakan oleh beberapa museum besar dikota Jakarta.

Taman Sari

Destinasi selanjutnya yang kami tuju adalah taman sari. Konon ini adalah tempat permandian selir-selir Sultan maupun putri keraton jaman dahulu. Ibarat spa dan pusat rekreasi bangsawan, tapi isinya hanya kepemilikian dan diperuntukkan untuk selir-selir dan putri Sultan saja. Terdapat dua kolam permandian berbentuk kotak, juga terdapat ruangan-ruangan kecil yang diperuntukkan untuk ruang istirahat dengan pemandangan langsung menuju kolam *ehm. 

Kolam ini dikelilingi tembok-tembok tinggi dengan arsitektur dan ukiran khas yang biasa ditemukan di keraton Yogyakarta. Untuk masuk kedalam sini pun kita melewati gerbang besar dengan pintu kayu yang tebal. Mungkin selain karena ini adalah kepemilikan raja dan juga diperuntukkan untuk tempat permandian, maka keamanan tempat ini termasuk yang dimaksimalkan. 

Jika masuk lebih dalam lagi melewati satu pintu besar lainnya, kita juga dapat melihat taman yang tertata dengan asri. Area sekitar permandian ini selain menjadi tempat wisata juga banyak digunakan oleh calon pengantin sebagai lokasi foto prewedding. Untuk tiket masuk wisata biasa kami cukup membayar Rp.3000,- perorang. Namun untuk foto prewedding ada biaya retribusi legal lainnya yang perlu dilengkapi nampaknya. 

Setelah dari Taman Sari kami melanjutkan perjalanan ke dagadu. Kata abang becaknya dagadu sudah pecah kongsi. Sekarang si "kreator" dibalik dagadu sudah pisah dengan merk tersebut dan membuat usaha sendiri. Lokasinya kurang bisa saya kenali yah, selama kaosnya masih memiliki kata-kata menarik dan berbahan nyaman yah beli wae lah. Setelah membeli baju, tentu saja abang becak ini berhasil meyakinkan kami untuk membeli oleh-oleh bakpia Yogyakarta. Karena bakpia ini untuk konsumsi pribadi jadilah beli seperlunya saja. Yah iyalah buat konsumsi pribadi, wong yang serumah ikutan semua *:p. 

Museum Vredeburg

Untuk ke Museum Vredeburg ini kami tidak lagi menggunakan jasa abang becak. Kami harus pisah dengan rombongan sebelumnya karena mereka sudah harus kembali ke Jakarta, sedangkan kami memesan pesawat untuk malam harinya. Karena waktu yang masih lama, maka berdua berjalan-jalan kembali mengelilingi kota Yogyakarta. Dimulai dari berjalan melewati Malioboro disiang hari mencoba menemukan Yogyakarta titik nol, hingga akhirnya kami melewati suatu museum yang bernama Vrederburg. 

Mumpung museumnya masih buka, kami mencoba untuk masuk kesana. Biaya masuknya sangat murah Rp.3000,- untuk dewasa dan Rp.2.000,- untuk anak. Arsitekturnya sama seperti museum di Indonesia pada umumnya, khas dengan arsitektur perkantoran Belanda. Saat masuk kedalam salah satu ruangan, kita langsung dapat melihat diorama mini jaman perjuangan. Sambil melihat diorama ini, kita juga sambil mendengarkan backsound suasa perjuangan dulu. 

Tidak terlalu lama waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi ruangan di area museum, kami pun memilih untuk berduduk santai menikmati halaman tengan museum yang kesannya asri. Duduk-duduk dan ngobrol disini enak juga ternyata, tau gini beli minuman manis dulu sekalian sebelum masuk.
Demikian dulu kali yah cerita dari liburan singkat dan padat kami selama di Yogyakarta. Kalau kota ini sih pasti akan selalu kembali. Sampai jumpa dicerita tentang Yogyakarta berikutnya :D.






Minggu, 23 Desember 2012

Monumen & Museum Nasional


Memasuki liburan panjang menyambut natal, penduduk ibu kota mulai beranjak meninggalkan Jakarta menuju ke kampung halaman masing-masing. Tujuannya? Tentu saja ke daerah-daerah pusat liburan seperti Puncak, Bandung, Bali maupun ke luar negeri. Namun bagi saya, momen seperti ini justru kesempatan emas untuk menikmati Jakarta yang lengang, sepi dari kemacetan. Pada liburan kali ini, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Monumen dan Museum Nasional. Kedua tempat ini berlokasi di Jl. Medan Merdeka sehingga memudahkan saya untuk mengunjungi keduanya. Tidak perlu berpanjang lebar lagi, mari memulai cerita saya kali ini.

Museum Nasional
Kalau liburan musim panas identik dengan pantai dan pegunungan, maka  liburan di musim hujan akan saya identikkan dengan museum. Tujuannya apalagi kalau bukan agar bisa tenang berada didalam museum jika sewaktu-waktu hujan datang *wink. Berbeda dengan museum-museum sebelumnya yang saya kunjungi, museum kali ini lebih menceritakan secara umum mengenai Indonesia dari jaman pra-sejarah hingga jaman modern. Museum Nasional terdiri dari dua gedung. Yang pertama nampaknya gedung asli dari museum nasional, hanya terdiri dari satu lantai dan halaman tengah gedung yang begitu hijau, kontras dengan tiang-tiang tinggi di sekelilingnya yang berwarna putih.


Di bagian depan gedung, ada papan besar bergambar profil berbagai suku di Indonesia, lengkap dengan pakaian adatnya. Papan ini dilukis dengan sangat baik dan benar-benar menampilkan ciri khas yang berbeda antara seluruh suku di Indonesia. Beranjak dari gedung bagian depan, saya disambut dengan berbagai arca-arca asli peninggalan sejarah yang di kumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari arca yang hanya setinggi telapak tangan hingga arca yang menggapai langit-langit museum semuanya dipamerkan disini. Namun tidak perlu khawatir, setiap arca memiliki informasi yang bertuliskan nama, fungsi, dan sejarah singkat arca tersebut.

Selanjutnya, koleksi pameran yang berada dibagian belakang gedung nampak tidak mau kalah dengan deretan arca-arca tadi dalam menceritakan Indonesia kepada saya. Barang-barang yang dipamerkan didalam sini dibagi menjadi beberapa daerah di Indonesia. Setiap barang menceritakan fungsi dan sejarahnya masing-masing. Dari sini saya tahu kalau muka garang si barong dalam pertunjukan barong di Bali itu justru simbol kebaikan yang melumpuhkan kejahatan. Padahal awalnya saya berpikir, kalau penampilan barong yang mengerikan justru melambangkan kejahatan hehehe *wink.



Tidak hanya tentang barong dari pulau dewata, sejarah pembuatan tato, fungsi dan makna dibalik sebuah tato bagi suku Dayak juga diceritakan disini. Sekedar informasi bahwa bagi orang Dayak, tato bergambar bintang di bagian pundak itu berarti telah ada satu nyawa yang ‘dibebaskan’ oleh Mandau si pemilik tato. Mungkin, kalau orang dayak bertemu dengan perempuan yang gemar membuat tato bergambar bintang di bagian pundaknya akan berpikir “ngeri sekali perempuan-perempuan jaman sekarang.” Hahahaha…

Setelah mengelilingi gedung pertama secara keseluruhan, sekarang waktunya untuk beranjak ke bagian lain dari Museum Nasional Gedung kedua terlihat baru, terdiri dari tujuh lantai dimana lantai pertama hingga ke empat merupakan bagian gedung yang diperuntukkan sebagai museum. Yang menyenangkan, ada fasilitas eskalator dan lift untuk memudahkan para pengunjung mengelilingi bangunan museum.

Di lantai dasar, terdapat beragam koleksi yang menjelaskan tentang manusia purba, mulai dari teori-teori hingga temuan tulang belulang, serta contoh rangka dari zaman pra-sejarah. Di lantai dua, ada berbagai koleksi alat-alat perdagangan, prasasti dan miniatur-miniatur kapal yang banyak digunakan untuk pelayaran dan perdagangan. Uniknya, prasasti-prasasti  tersebut bukan hanya tertulis dalam bahasa sansekerta, melainkan juga huruf arab dan berbagai tulisan lainnya yang sudah punah.


Setelah mengelilingi lantai kedua, selanjutnya berpindah ke lantai atas. Sayangnya, pada saat saya berkunjung, sedang ada renovasi di lantai tiga. Tanpa membuang waktu lagi, saya langsung menuju lantai empat. Harta kekayaan kerajaan-kerajaan lampau Indonesia menjadi tema besar koleksi museum di lantai ini. Berbagai barang pameran dari guci yang ditemukan di dasar laut, hingga koleksi emas, perhiasan, dan alat-alat persembahan dari kerajaan-kerajaan di Indonesia juga di pamerkan disini. Sayangnya, di lantai ini tidak diperkenankan untuk mengambil gambar. 


Secara keseluruhan, saya sangat puas berjalan-jalan mengelilingi Museum Nasional ini. Para pengunjung juga tidak habis-habisnya berdatangan, baik rombongan wisatawan dalam negeri, turis luar negeri hingga anak-anak sekolah yang melakukan study tour. Selesai menjelajahi seluruh museum, akhirnya saya memutuskan untuk menikmati suasana Jakarta sore hari di sekitar Monumen Nasional.

Monumen Nasional (MONAS)
Tempat ini merupakan simbol ibukota Indonesia, Jakarta, sehingga keterlaluan kalau masih ada yang belum pernah mendengar tentang Monas sebelumnya. Saat sore hari, banyak hiburan murah meriah di sekitaran tempat ini. Mulai dari penyewaan sepeda gandeng, mobil-mobilan listrik untuk anak-anak, andong, layangan serta foto bersama dengan ondel-ondel sebagai ikon dari Jakarta. Selain itu, pengunjung juga dapat masuk ke museum di dalam monumen. Mau naik hingga ke puncak Monas? Tentu saja bisa. Cukup dengan membayar karcis – dan memiliki kesabaran untuk antri – kamu bisa menggunakan lift untuk naik hingga ke puncak dan menikmati pemandangan kota Jakarta dari ketinggian 130 meter.  Sayangnya, hari itu saya datang terlalu sore, hingga loket yang menjual karcis sudah tutup.
Untuk menghibur diri, saya hanya berkeliling-keliling di taman sekitar Monas, lalu duduk di salah satu kursi  dan menikmati pemandangan anak-anak bermain, keluarga yang sedang bercengkarama dan langit Jakarta yang saat itu sedang biru berawan. Bagi saya sendiri, menikmati suasana sore di tempat ini – walaupun selalu ramai pada saat akhir pekan – memberikan ‘ketenangan’ yang berbeda. Duduk santai dikelilingi hijaunya pohon dan rumput di sekitaran tugu, ditambah hembusan angin sepoi-sepoi, membuai saya dalam nikmatnya sisi lain kota Jakarta.




Mau ikut ‘bertualang’ ke tempat-tempat di atas? Tidak usah merogoh kantong terlalu dalam. Dijamin murah meriah!
Tiket masuk Museum Nasional: Dewasa Rp. 5.000; Anak-anak Rp. 2.000
Tiket masuk Museum Rombongan (min. 20 org): Dewasa Rp. 3.000; Anak-anak Rp. 1.000
Tiket masuk wisatawan mancanegara: Rp. 10.000
Foto bersama ondel-ondel: Rp. 10.000
Harga tiket masuk monas: Rp. 2000 - Rp. 5.000

Cerita oleh: Tenri Ake
Edit Cerita & Foto oleh: Cita Nursyadzaly

Sabtu, 20 Oktober 2012

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Tour


TMII atau Taman Mini Indonesia Indah terletak di timur Jakarta. Seperti kebanyakan orang ketahui, TMII memiliki koleksi rumah adat dari seluruh provinsi di seluruh Indonesia. Namun, saya tidak akan berkeliling dan menceritakan koleksi rumah adat tersebut. Tujuan saya kali ini adalah museum, gedung pertunjukan dan wahana balon udara. Pihak TMII berperan besar dalam cerita saya kali ini. Aksi gencar mereka menjual ‘paket’ murah berupa voucher ke wahana-wahana tersebut menjadi alasannya. Dan, aksi membeli voucher tersebut menjadi awal rekam jejak perjalanan saya di TMII. 

Museum IPTEK

“Seandainya waktu kecil saya diajak bermain sambil belajar di museum seperti ini, pasti sekarang saya sudah menjadi engineer.” Itulah hal pertama yang terlintas di kepala saya saat memasuki museum IPTEK ini. Hahaha ngarep! Tapi, tempat ini memang menarik untuk mempelajari ilmu fisika dan ‘kawan-kawannya’ yang lain. Di dalam museum ini, berbagai teori yang pernah saya baca di buku pelajaran semuanya dapat saya lihat aplikasinya melalui alat-alat peraga. Bahkan, teori-teori yang belum sempat diuraikan selama bersekolah juga diuraikan di sini. Saya sempat mencoba untuk duduk di atas paku, masuk ke dalam rumah simulasi gempa, dan duduk di kursi putar dengan memegang ban berputar untuk merasakan teori helikopter. Tidak hanya itu saja, saya juga merasakan pengalaman menjadi pemain sirkus yang mengendarai sepeda diatas tali baja yang tentu saja tidak akan pernah saya peroleh di sekolah.




Tempat ini benar-benar saya rekomendasikan untuk para orang tua maupun anak-anak sekolah sebagai tempat liburan alternative. Tidak perlu merasa aneh karena bermain sambil lucu-lucuan seru juga disini. Selamat menikmati liburan sambil belajar, ya :D.

Keong Emas
Tempat berikutnya yang saya kunjungi adalah keong emas. Wahana ini serupa bioskop yang mampu menayangkan film-film IMAX 3D. Durasi film yang diputar pun lumayan lama seperti di bioskop. Pertunjukan diadakan setiap jam, sehingga tidak perlu khawatir melewatkan pertunjukan film 3D di sini. Sayangnya, tidak diperkenankan untuk memotret di dalam Keong Mas, sehingga saya tidak dapat memberikan gambaran keadaan tempat ini dari dalam. Sebagai gantinya, saya tampilkan gambar saya dari luar saja ya *wink.

Balon Udara
Wahana yang satu ini lain daripada yang lain – tidak akan kamu temukan di pusat hiburan lain di Indonesia. Balon udara ini diterbangkan setinggi 100 meter dari tanah, dengan satu tali besi yang mengikat balon udara agar tidak terbang terbawa angin. Di dalam ‘keranjang’ balon udara, saya dapat berjalan melingkar 360° dan menikmati indahnya pemandangan Jakarta di sore hari saat matahari terbenam. Pergantian langit yang biru menjadi jingga benar-benar pemandangan yang berbeda. Transisi warna langit dari biru hingga menjadi merah kekuningan sungguh spekatkuler dan memanjakan mata. Dari atas tampak jelas seluruh bagian TMII dan kawasan di sekitarnya. 



Tidak perlu khawatir dengan masalah keamanan karena selama 10 menit berada di ketinggian, kita ditemani dengan para kru yang telah berpengalaman. Bahkan, semua kru sudah melewati beragam pelatihan sehingga bersertifikasi secara internasional. Aman! Untuk menaiki wahana balon udara ini, kamu harus merogoh kantong sebesar Rp. 90.000 – Rp. 120.000. Saya beruntung karena hanya harus membayar 1/3 dari harga normal berkat voucher murah dari internet tersebut. Dengan terbenamnya matahari yang menarik cahayanya dari bumi Indonesia, maka selesai jugalah perjalanan saya pada liburan kali ini. Selamat menikmati liburan yah thadaaaaa *wink.

Berwisata ke TMII bisa menjadi alternatif liburan jika memiliki bujet terbatas.
Anggaran biaya yang kamu keluarkan bisa dilihat di link berikut:

Cerita oleh Tenri Ake
Edit dan Foto oleh Cita Nursyadzaly
 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver