Sabtu, 26 September 2020

Review Hotel: Four Season Jakarta

Semenjak PSBB (Pembatasan Sosial Skala Besar) akibat Covid ini adalah hotel kedua kami yang tentu saja belinya dari Flash Sale Traveloka. Kali ini alasan kami staycation dihotel adalah untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-enam. Sebenarnya kami booking hotel yang Executive. Pakai kamar paling biasa aja udah seneng yah klo sekelas bintang 5 gini. Saat pesan kami hanya request untuk baby crip karena akan membawa bayi untuk nginap bersama. Cerita punya cerita suami saya mengirimkan email ke pihak Four Season Jakarta dan menanyakan apakah ada arragement khusus yang disediakan pihak hotel jika kami ingin menginap untuk merayakan ulang tahun pernikahan. Dan thadaaaaa...they put something sweet on the table, window, bed, bath up and in my heart (*cipok). Tidak lupa juga pihak hotel memberikan upgrade kamar gratis kepada kami dari Executive ke Executive Deluxe. Jadi harga hotel yang kami bayar sebesar Rp.1.500.000 untuk harga semula Rp.3.100.000 menjadi worth it dengan harga Rp.4.500.000 donk saudara-saudara.

Tidak cuma itu saja, pihak hotel care banget yah sama printilan anak bayi. Kami mintanya hanya baby crib, tapi pihak hotel juga menyediakan essential bayi seperti perlengkapan mandi (sabun shampo) dan perlengkapan setelah mandi (popok, tissue basah dsb). Kebetulan sekali saat itu saya memang lupa untuk membawakan perlengkapan mandi untuk mereka (*wink)

Prosedur Covid

Untuk dari lobby hingga pintu masuk, prosedur covidnya standard yah dengan pengukuran suhu tubuh dan juga membersihkan tangan dengan hand santizer. Namun untuk kamarnya mereka sudah bekerja sama dengan pihak ke-tiga untuk mengontrol sterilizasi ruangan yah. Ruangan dibersihkan dengan disinfektant 4 jam sebelum waktu check in. Selain itu ada tambahan sinar UV untuk memastikan sekali lagi tidak ada bakteri/virus yang tertinggal. 
 
Ketika PSBB transisi dijalankan, banyak area public yang dibuka seperti kolam renang (by reservation) dan lobby. Namun semenjak PSBB diaktifkan kembali, seluruh area public di tutup kecuali GYM (by reservation). Padahal waktu kami membeli kamar ini, sudah terbayang loh berenang di kolam renangnya dengan metode reservation tadi (*poor us)
 
Check In/ Check Out

Proses check-in sangat mudah yah, dan private banget rasanya. Apakah memang demikian atau karena pada saat masuk lobby hanya saya saja tamu yang sedang check in. Bell boy-nya siap sedia, saat kami turun dari mobil bell-boy sudah siap untuk membuka bagasi dan menurunkan barang. Setelah masuk lobby saya disapa dengan staff lainnya yang menanyakan booking saya. Setelah saya menyebutkan booking a.n suami saya, selanjutnya staff tersebut mendampingi saya ke meja check-in dan terus menyapa saya dan anak-anak dengan nama suami saya tersebut. Kurang dari 10 menit kami pun sudah bisa menuju kamar. 
 
Proses check-out pun sangat mudah. Bell-boy cepat datang untuk mengambil barang. Barang kita dipastikan berada dengan aman dibagasi mobil. Satu hal yang membuat saya merasa private lagi adalah bellboy tidak langsung meninggalkan kami setelah barang dan kami semua masuk kedalam mobil. Bell-boy memastikan mobil kami berjalan pergi barulah bell-boy tersebut juga berbalik kembali ke lobby.  

Kamar

Masuk kamar eh ku langsung kelepek-kelepek. Udah kamarnya free upgrade, eh didalamnya udah ada tulisan "Happy Anniversary" di jendela kamar plus cokelat dan kue enyak-enyak di meja. Tidak lupa loh dikasi kartu ucapan. Ini hotelnya lebih romantis dari suami saya rasanya kalau nyiapin gini-ginian. Belum selesai sampai disitu, tempat tidur dan bathup kami juga dipermanis dengan taburan bunga love (aihhh manisnya nih hotel). Buat bapak-bapak yang mau kasi surprise buat istrinya, ok banget nih buat kesini, udah terima jadilah hasilnya entar malam (*ups blog edisi anniversary).
Kamarnya nyaman banget yah. Layout ruangan seperti apartement dengan 1 kamar sehingga terasa private antara kamar dan ruang kerjanya. Diarea tempat tidur maupun living room, masing-masing memiliki jendela besar yang langsung menyuguhkan kita pemandangan kota Jakarta. Kebetulan view yang kami lihat adalah view sunset. Meskipun jendelanya besar dan menghadap ke jalan utama tapi kedap suara loh. Mau hujan mau ada yang trek-trekan di jalan tol pun suaranya hening aja gitu didalam kamar. 
 
Oh iya baby crib tidak membuat kamar ini mejadi terkesan lebih sempit yah, nambah extra bed satu aja tetap terasa luas banget. Jadilah ukuran kamar dan layout kamarnya pas banget buat anak-anak untuk menghabiskan tenaga meraka berlarian kesana kemari. Biar kalau malam anaknya bisa tidur nyenyak, mama papanya yang baru mau liburan hahahahha. 

Tidak hanya kamar tidurnya, kamar mandi pun sangat luas. Layoutnya yang tanpa sekat dengan walking toilet menambah kesan luas untuk kamar mandinya. Ukuran bathup pun ok banget untuk tiga anak main bersama. Kalau saya lagi rajin beliin bath boom biar mereka tetap terhibur dengan mandi di bathup ini. Kasian banget karena seharusnya mereka bisa berenang dikolam, apa daya psbb diperkatat lagi jadinya no kolam-kolam renang.
 
 

Restoran, Kolam Renang, Kids Club
 

Ahhhhhhhhh saya ngak bisa cobain semua ini karena psbb yang kembali diperketat. Padahal hotel ini bener-bener salah satu hotel bucket list kami. Cuma bisa kasi info kalau mereka menyediakan dine in sarapan dan makan malam selama psbb diperketat. Mungkin kalau psbb tidak diperketat, kami bisa turun kebawah untuk sarapan dengan prosedur covid tentunya.

Kemudian untuk kolam renang, ada maksimal orang yang bisa menggunakan kolam renang dalam kurun waktu tertentu. Selain itu kita harus melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum menggunakan agar jumlah orangnya tetap dapat dikontrol yah (ini informasi ketika psbb transisi yah)

Nah kalau untuk kids clubnya memang belum buka selama psbb ini. Yah padahal kids clubnya bagus banget loh. Dari gambar aja pun sudah tertarik dan pengen main bersama rasanya.
 
Demikianlah cerita staycation versi liburan kami. Tiap bulan kedepanlah ini ada cerita tentang staycation, karena sampai sekarang ini salah satu jalan tengah liburan yang menyenangkan bagi anak yang paling aman menurut kami. Lagian mumpung harganya lagi sales semua, ini saatnya nyobain hotel berbintang dengan harga miring shay.
 
See yaa 






Kamis, 10 September 2020

Tracking ke Curug Cibeureum

Setelah sebulan lebih PSBB transisi, Senin depan PSBB mau diperketat lagi. Bisa jadi mobilitas antar kota akan sulit kembali. Jauh sebelumnya kami sudah merencanakan perjalanan ini sih, pas banget hari Jumat terakhir PSBB transisi kami merencanakan untuk ke Cibodas. Kali ini mau mencoba tracking 2.8km menuju Curug Cibeureum. Jalur yang kami lewati juga jalur yang biasanya dilewati para pendaki menuju Gunung Gede, tapi jaraknya beda jauh cin masih +/- 9 km lagi dari pengkolan terakhir jalur ini bertemu :p.

Beda dengan trip terakhir ke Sentul yang jaraknya dari tengah kota hanya memakan waktu 1 jam, kali ini perjalanan kami ditempuh dalam 2 jam. Akhirnya sekitar pukul 9 pagi kami pun tiba diparkiran Taman Nasional Gunugn Gede Pangrango. Tiket masuk dengan retribusi legal adalah sebesar 8.000 idr/ mobil. Setelah sampai di dalam, biaya parkirnya yang ilegal nambah lagi 10.000 idr/ mobil. Dari parkiran, kami perlu berjalan lagi +/- 500 meter menuju loket penjualan tiket. Harga tiketnya 19.000 idr/ orang. 



Dari loket ini-lah perjalanan 2.8km menuju curug dimulai. Selama 2 km pertama, perjalananterus menanjak. Berbeda dengan jalur lain yang saya pernah gunakan untuk mendaki Gunung Gede, jalur ini benar-benar sudah jalur wisata. Kami tidak lagi mendaki tanah liat dan bebatuan alami gunung, justru kami melewati bebatuan gunung yang telah disusun berbentuk tangga sejauh 2 km. Setelah perjalanan +/- 1.5km kami akhirnya sampai di pos 2. Tepat di depan pos 2 kita bisa melihat telaga yang pemandangannya misterius indah gitu yah. Telaga ini disebutnya Telaga Biru, namun tergantung tumbuhan yang sedang tumbuh didalam telaga maka warna telaga pun kadang akan berubah menjadi warna hijau. Tentu saja kami mampir untuk menikmati pemandangan telaga sambil beristirahat sejenak.


Setelah puas mengambil gambar pemandangan, kami pun melanjutkan perjalanan kami kembali menyusuri tangga bebatuan. Gw pikir tangga bebatuan ini akan terus menanjak hingga ke air terjun. Alhamdulillah banget track tangga ini berakhir di 20 HM atau sekitar 2 km.  

Perjalanan berikutnya enak banget, selain jalannya mendatar bentukan jalannya pun jembatan beton yah. Jadi berakhirlah refleksi 2 km terakhir ini. Itu jalannya bagus rapi tapi batunya benar-benar menusuk telapak kaki sih guys. Di 800 meter perjalanan terakhir sudah enak bangetlah jalannya, hingga akhirnya kami pun tiba di Curug Cibeureum. Kami tiba sekitar pukul 10 WIB lewat setelah perjalanan sekitar 70 menit. Bagi yang terbiasa naiak gunung katanya track ini bisa ditempuh selama 50 menit, kemudian jika kita ingin mengajak anak atau keluarga yang lebih seniur untuk ikutan biasa akan menghabiskan waktu sekitar 120 menit perjalanan.

 

Disini ada 3 curug, curug pertama dan kedua bisa langsung terlihat ketika kita masuk, sedangkan curug ketiga perlu effor untuk melewati bebatuan yang lain. Sayangnya jalur ini harus melewati jalan yang cukup terjal dengan bebatuan berlumur, takut jatuh gak jelas kami pun mengurungkan niat kami untuk melihat curug ketiga.

Air terjunnya ini tinggi banget sih dan angin pun berhembus cukup kencang, jadi meskipun kita duduk agak jauh dari air terjun tetap saja kita akan kena sisaan air yang terbawa angin. Satu yang kami sayangkan adalah ternyata dibawah air terjun itu bentukannya bukan kolam tapi hanya pod air dengan kedalaman setengah betis dan itupun berpasir. Menimbang-nimbang untuk main air dibawah air terjun yang super dingin atau duduk manis aja menikmati pemandangan dengan pop mie yang wajib banget untuk dimakan yah teman-teman. 


Akhirnya kami memutuskan untuk memesan 2 cup pop mie dan memilih untuk duduk menghadap air terjun. Ngobrol santai sambil menikmati pemandangan benar-benar lebih dari cukup untuk liburan kali ini (jauh amat mau ngobrolnya mbak mas??? hahahaha). Setelah pukul 12.00 cuaca disini tetap dingin yah teman-teman, disepanjang perjalanan pun tetap dingin. Kita benar-benar jalan diantara pepohonan hutan. Kemudian diperjalan pulang outfit orang yang naik pagi dan naik sore beda loh teman-teman. Kalau yang naik pagi mostly pakai baju olah raga dan sepatu yang proper untuk naik gunung pada umumnya. Tapi yang naik gunung setelah siang lebih banyak yang tampilannya mau kemall dengan parfume yang semerbak loh. Dahysat sekali saya melihat alas kaki mall yang mereka gunakan sambil melirik kelingking kaki saya yang sudah diplester kiri kanan. 

Sepulangnya, kami mampir dulu direstoran Bumi Aki namanya (buminini.co.id ). Restoran ini lumayan ramai sih tapi prosedur covidnya lumayanlah. Setiap meja dibersihkan dengan disinfektant setiap kali pergantian customer. Selain itu pegawainya juga menggunakan seragam covid kit yang proper. Layout rumah makan yang semi terbuka juga mengurangi pertukaran udara yang beresiko selama makan didalam rumah makan tersebut yah. 

Setelah selesai makan, kami langsung siap-siap untuk menuju pulang. Pergi 2jam, ternyata pulang 3 jam. Jadilah kami keluar rumah jam 6 pagi dan kembali lagi kerumah jam 6 sore, inilah 12 jam perjalanan weekend kami yang dihabiskan sebelum PSBB kembali. Semoga pengalaman covid ini berakhir dengan kita semua sehat-sehat saja yah, jadi bisa jalan jauh-jauh lagi nih :D.

Dari kaki yang luka dan hati yang bahagia *wink
Dari kaki yang luka dan hati yang bahagia *wink

Senin, 17 Agustus 2020

Tracking ke Leuwi Cepet

Setelah kami pulang sabtu kemarin dari lewi Hejo, tiga hari kemudian tepatnya hari Selasa kami pun kembali mengunjungi kawasan Curug di Sentul ini. Semua itu karena banyak postingan orang-orang di instagram yang menunjukkan kalau mereka bebas saja mengunjungi Lewi Hejo di hari Senin. Berbekal postingan ini kami pun berasumsi kalau satpol PP hanya bertugas di weekend mengingat pengunjung pasti akan ramai berdatang bersama keluarga diteman dikala weekend. 

Jadilah kami mengambil cuti tambahan dan berangkat hari Selasa kembali ke area Sentul. Ternyata retribusi liarnya beda loh antara weekday dan weekend. Retribusi ilegal ditempat kemari yang ada jalan mendaki yang rusak berubah dari seikhlasnya menjadi 10.000 idr per mobil. Setelah itu, pembayaran untuk parkir dan biaya masukknya juga berubah. Kali ini kami parkir tidak dipinggir jalan lagi, kami masuk kearea yang memang diperuntukkan untuk parkir. Kami harus membayar 50.000 idr per mobil yang sebelumnya hanya 10.000 idr/ mobil. Tapi kali ini tidak ada biaya retribusi perorangan yang diwajibkan untuk kami. 


Lewi Hejo
Pertama tentu saja kami mengunjungi Lewi Hejo, namun ternyata banyak juga orang yang berpikiran sama seperti kami. Mereka juga memilih berlibur dihari kerja sehingga area Lewi Hejo ini benar-benar padat. Susah untuk menjaga jarak antara satu pengunjung dengan pengunjung lainnya. Tentu saja ini ada spot yang paling dikejar oleh orang-orang. Ini Lewi terendah kedua setelah Lewi Barong yang bisa dinikmati disini. Dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dari parkiran, anak kecil pun masih bisa diajak untuk menikmati kedua Lewi ini.

Akhirnya kami memilih untuk melanjutkan perjalanan, jarak temputnya 500 meter tapi dengan waktu tempuh 20 menit donk. Perasaan langsung ngak enak yak bacanya. Ternyata benar saja, 500 meter ini ternyata tangga semua. Tangganya pun tidak santai, tingginya dua kali tangga rumah biasanya. Jarak antar tangga pun aman tidak kecil-kecil sehingga bisa santai sedikit jika tidak kuat mendaki, sambil memberi jalan kepada orang yang ingin lebih dulu.

Di 100 meter terakhir ada "peak" dengan pemandangan indah. Kami mampir dulu beristirahat sambil menikmati pemandangannya. Kami pikir perjalanan masih jauh. Ternyata setelah ini perjalanan yang ditempuh sudah turunan menuju ke Lewi Cepet. Retribusi untuk melanjutkan perjalanan ke Lewi Cepet adalah sebesar 10.000 idr.


Jalanan turunnya tidak lagi berbentuk tangga namun sudah terbuat dari akar-akar pepohonan dan jejak yang dibuka oleh orang-orang. Sesampainya kami pun kami melewati warung yang roboh ditebing karena longsor. Tidak heran sih mengingat warung yang bisa muncul tiba-tiba di antara pepohonan dan tebing.

Cuma ada dua warung di Lewi Cepet, masing-masing warung punya kamar ganti namun tidak lebih baik dari kamar ganti di Lewi Hejo. Yang enaknya, disini ada lokernya, loker dihitung perorang jadi satu loker di isi 1 orang bayarnya 3.000 idr. Kalau 1 loker di isi berdua maka bayarnya 6.000 idr, aneh juga yang cara perhitungan biaya loker ini *wink. Lokernya seadanya sih lebih mirim kandang ayam karena dibuat dari bambu-bambu seadanya dengan kunci gembok didalamnya. Tapi ini sangat membantu, karena pasti kita akan berenang cukup jauh dari barang-barang kita selama kita disini.

Ternyata kami hanya dua group disini. Group pertama berjumlah 5 orang dan kami berdua saja. Keputusan yang benar kami milih untuk melanjutkan perjalanan ke Lewi Cepet. Masing-masing Lewi ini berbeda ciri khasnya. Kalau Lewi Hejo dengan warna airnya yang kehijauan efek dari kedalaman kolam +/- 7 meter, Lewi Cepet mempunyai ngarai yang panjang dengan kedalaman +/- 2 meter. Kalau difoto gini seperti punya kolam renang pribadi saja. Airnya yang sejuk dan dingin serta arus sungai baek-baek kakinya ketarik yak *wink. Bagi yang tidak bisa berenag, salah satu warung disini menyewakan jaket pelampung (maaf gk nanya harga tapi barang-barang jualan disini hanganya masih daerah kok bukan mendadak harga tempat wisata gtu). 

Lewi Cepet

Lewi Cepet

Puas berenang bolak balik di kolam renang pribadi ini, kami pun menyusuri sungai untuk melihat pemandangan yang lain. Ternyata banyak kolam-kolam kecil yang kedalamannya +/- 1 meter. Kolam-kolam ini enak juga untuk dipakai berendam-rendam. Suami istri butuh banget yah suasanan berdua begini aja supaya kembali jadi pacar bukan pasangan ataupun orang tua (you know what i mean yah bu ibu).




Tadi kami naiknya jam 8 kemudian setelah jam 12 siang kami pun memilih untuk turun. Karena kurang sreg dengan kamar ganti di Lewi Cepet saya pun memilih mengeringkan badan sebentar dulu sambil berfoto-foto. Setelah itu nyemek-nyemek jalan 30 menit menuju parkiran lagi deh. Dua hari ini saya milih berbaju olah raga sih memang, alasannya biar gampang kering kalau keringantan dan juga biar ngak nyemek-nyemek amat yah kalau harus jalan turun ke parkiran gini.

Next trip sih kita mau ke Lewi Lieuk, ini posisinya setelah Lewi Cepet. Yang khas dari Lewi Lieuk adalah cliff jumpingnya. Berhubung udah U jadinya gak berani ah kalau cm berdua. Lah kalau suami gw kejedot batu dibawah, gw mah cm bs nunggu ngambang bantuinnya cuy hahahahaha (ketok-ketok kepala orang :p)




Jumat, 14 Agustus 2020

Wisata Keluarga Leuwi Hejo

Bagaimana kebiasaan barunya? sudah beradaptasi banget kan yak. Setelah berbulan-bulan di rumah akhirnya gw masuk kantor, suami masih wfh sedangkan anak-anak masih sfh semua. Meskipun mereka nampaknya sudah puas dengan berjalan-jalan keliling kota hanya diatas mobil saja, namun tetap kasian juga sama mereka. Akhirnya minggu kemarin kami memberanikan diri buat mengajak abang dan kakak untuk tracking ke curug.

Tujuan kami adalah ke Lewi Hejo, lokasinya di Sentul. Dari tengah kota Jakarta ke parkir terdekat yang menuju Lewi Hejo memakan waktu +/- 1jam. Jalan yang berbatu, mendaki dan berkelok membuat perjalanan kami lebih lambat. Kami membutuhkan waktu 30 menit untuk 6km dari perumahan sentul hingga ke pintu masuk lewi hejo. Sepanjang perjalanan ada beberapa "polisi" kampung yang memungut retribusi ilegal. Kami hanya memberikan seadanya ke salah satu polisi kampung. Itupun karena jalanan didepan kami jelek dan mendaki, baek-baek yah pas ngak ngasih retribusi terus ternyata mobil kita mogok butuh bantuan dorong dan mereka ngambek ngak mau bantuin hahahhaah.

Setelah perjalanan lumayan jauh ini akhirnya sampai juga di pintu gerbang Lewi Hejo. Betapa kagetnya kami ketika melihat portalnya yang tertutup dan ada tulisan "ditutup sementara". Ternyata lagi ada kasus sengketa lahan antara pihak pegelola Lewi Hejo dan PT. Sentul. Untungnya hari itu adalah hari libur, kami melihat banyak orang yang tetap melaju dengan kendaraan pribadi mereka. Kemudian waze pun menunjukkan titik lain yang menunjukkan arah ke lLewi Hejo. Pikir kami sih, kalau tidak ke Lewi Hejo, curug manapun bolehlah. Kasian banget sama abang dan kakak yang sangat menanti hari ini tiba.


Tidak perlu berjalan jauh kedepan kami tiba di jembatan dengan aliran sungai berbatu dibawahnya. Banyak juga orang yang berhenti disitu. Ternyata kita tetap bisa menuju Lewi Hejo melewati jalan ini. Lagi-lagi retribusi ilegal, kali ini retribusi ilegalnya disebut sebagai biaya tiket masuk oleh orang lokal yang sedang berjaga. Jadilah kami harus membayar 20.000 idr/ orang untuk tiket masuknya dan 10.000 idr/ kendaraan untuk parkirnya. Sebelum memulai tracking, pastikan dulu semua anak-anak ini sudah selesai hajatnya di wc. Setelah itu cek berikutnya adalah covid kit (masker, topi, handsanitizer dan disinfectant). 

Setelah semuanya ok maka kami pun mengikuti rombongan didepan kami. Namun karena suatu hal kami tidak bisa mengikuti mereka. Sempat kami hanya berempat ditengah ladang sambil wondering jalan mana yang mesti kami pilih nih, harus ke kiri atau ke kanan. Alangkah senangnya ketika melihat ada segerombolan akamsi (anak kampung sini) yang menunjukkan jalan mana yang harus kami  lewati. Tapi kata laki gw, bocah-bocah gini juga ngak bisa dipercaya. Akhirnya kami berhenti lagi dan menunggu rombongan lainnya, bener aja donk, ternyata kami hampir salah memilih arah...omg bocah-bocah.

Perjalanan dari tempat parkir ke Lewi Hejo ditempuh +/- 15 menit untuk orang dewasa dan +/- 20 menit ketika membawa anak. Banyak jalan yang landai hanya sesekali terjal keatas, namun tidak membuat anak-anak mengeluh. Gw rasa tujuan utama mereka untuk berenang membuat adrenalin lagi tinggi-tingginya, sabar aja nih nanti pas turunnya (*wink).

Setelah sampai dilokasinya, kami dilarang naik ke Lewi Hejo. Banyak satpol pp yang berjaga disana. Satpol menjelaskan bahwa area lokasi wisata sudah ditutup selama satu minggu terakhir. Kita bisa naik ke Lewi Hejo hanya untuk melihat dan berfoto saja, namun untuk bisa berwisata air kami tidak diperbolehkan. Akhirnya kami turun saja berenang di aliran air setelah Lewi Hejo. Bagi anak-anak sih mereka tidak peduli berenang dan berfotonya harus dimana. Sepanjang perjalanan pun mereka sudah menyarankan kami untuk nyemplung aja langsung dimana-mana aliran sungai terlihat.








Kami memilih menyebrang sungai terlebih dahulu menuju warung diseberang. Selain tidak banyak dilewatin orang-orang yang mau ke Lewi Hejo, barang pun aman digeletakkan diatas meja yang sangat dekat dengan aliran sungai tempat kami bermain air. Selama bermain air mereka senang dan banyak belajar. Terutama belajar berjalan diatas batu yang kadang licin kadang berlumut, atau dasar sungat yang berpasir. 

Tidak hanya itu saja pelajaran lain yang mereka harus lalui adalah kamar mandi yang kurang menyenangkan. Kamar mandi gelap, lantai semen yang berlumut, tanah liat yang harus mereka lewati dari sungai menuju kamar mandi itu sendiri. Namun syukurlah mereka tetap menikmati liburan outdoor mereka. Memang banyak hal yang hanya bisa dipelajari ketika kita berada jauh dari rumah. Semoga pandemi ini bisa segera berlalu dan kita dalam keadaan sehatlah. Amin

Dua hari kemudian, gw dan suami tidak kapok donk untuk mencoba lagi. Tapi kali ini tanpa anak dan dengan persiapan lebih matang. Yuk check sekalin ceritanya Tracking ke Lewi Cepet. 

 

Covid Version

 

 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver