Selasa, 28 Juni 2011

Merayakan Ulang Tahun di Big Ben London

 Selamat Ulang Tahun Love,

Akhirnya tujuan datang kesini untuk sekalian merayakan ulang tahun pertama dia dengan status pacar terwujud juga. Kita sudah pisah dengan rombongan liburan kemarin. Dua hari terakhir di Inggris kami memilih menghabiskannya di kota London. Di sini kami nginepnya di hotel Ibis Style London Southwark. Lokasinya enak karena berada ditengah kota London dan dekat sekali dengan Big Ben apalagi London Bridge. Biar kalau kemana-mana cukup jalan kaki saja tidak perlu lagi naik turun bus apalagi MRT. 

Karena lelah beberapa hari ini jalan-jalanannya kesana kemarin banget, hari ini kami cukup berkeliling kota santai-santi saja. Dia juga masih kurang enak badan setelah demam tinggi beberapa hari yang lalu. Tujuan pertama kami adalah ke Stadium Arsenal, bukan karena nge-fans tapi buat foto dan membeli souvenir titipan saja sih. Sayangnya kami datang kepagian, stadiumnya masih tutup bahkan toko souvenirnya pun.

Selanjutnya kembali berjalan-jalan hingga masuk ke salah satu traditional market "Covent Garden Market". Didalamnya banyak dijajakan souvenir dan oleh-oleh. Tapi harganya sih lebih bersahabat harga oleh-oleh di area King Cross. Jadilah kesini hanya untuk melihat-lihat saja. Selain traditional market, disini juga banyak toko-toko baju seperti toko Fred Perry yang saya kunjungin, lagi-lagi bukan buat diri sendiri tapi untuk titipan juga hahahaah. 

Setelah itu kami memilih salah satu kafe untuk mampir. Ini bukan cafe yang enak banget atau spesial banget sih, ini cafe pada umumnya saja. Kami memesan kue dan cokelat hangat untuk dinikmati bersama. Sengaja memilih kursi tipe kursi dan meja bar namun yang menghadap ke jendela luar. Rasanya cozy dan romantis aja berduaan di jendela besar salah satu cafe di kota London, ngobrol sambil ngeliatin orang berlalu-lalang. I just love this moment so <3.


Setelah cokelat terakhir diseruput, kami pun melanjutkan jalan-jalan santai kami mengelilingi kota London. Saya ngak ngerti yah ini jalan-jalan aja tembus kemana, jalan-jalan aja tembus kemana. Tidak mungkin kota London sekecil ini kan yak. Atau mungkin pusat kebudayaan dan wisatanya memang terpusat seperti yang biasanya kita jumpai juga dikota-kota besar lainya. Dengan berjalan-jalan santai saja saya sekarang sudah berada di area sekitar istana ratu. Tapi bukan Istana Buckingham. Kata si pacar sih ini masih area "halaman rumah" ratu. Wow luas sekali halaman belakangnya yah bu. Satu yang menarik, disalah satu area berdiri memorial statu tentang korban-korban bom Bali. Isinya nama-nama warna negara Inggris yang sayangnya saat itu sedang berada dilokasi kejadin dan akhirnya menjadi korban perbuatan tidak bertanggungjawab oknum teroris tersebut.

Setelah foto, perjalanan pun akhirnya sampai ke Webminister Bridge dengan dua pemandangan yang bagus sekali. Dari jembatan ini kita dapat berfoto dengan latar belakang Big Ben, dari angle foto yang berbeda lainnya kita juga dapat berfoto dengan latar belakang London Eye. Disini juga terdapat kanal besar yang banyak dilalui kapal-kapal. Nampaknya kapal wisatawan adalah salah satu kapal yang bayak berlalulalang diatas aliran kanal. Saya baru tahu kalau Big Ben itu adalah tower dan pusat parlemen di Inggris. Seru amat yah bangunan parlemennya jadi salah satu destinasi utama. 

 

Setelah ini cari makan karena laparrrrr cuaca Inggris yang dingin selalu membuat perut terasa kurang makan. Sekali lagi selamat ulang tahun pacal, semoga segera lulus dan bertemu di Jakarta. Amin.

Continue to Besok Pulang :(

Senin, 20 Juni 2011

Dari Leeds University hingga ke Leeds Museum

Tiba dikota Leeds hari kedua. Setelah lelah perjalanan dua hari Indonesia - Malaysia - London - Leeds akhirnya sampai juga dan bertemu dengan pacar. Derita tiket murah tapi bahagia karena dengan hanya Rp.6.400.000 udah dapat tiket bolak balik Indonesia-Malaysia-UK, terima kasih Air Asia yang menjadi solusi cinta berat diongkos ini :D.

Hari ini pemanasan dulu, jadi jalan-jalannya di Leeds. Kota Leeds ini adalah kota tempat pacar bersekolah. Ceritanya mau melihat dan merasakan saja selama 9 bulan terakhir ini dia hidupnya seperti apa. Ke kampusnya gimana, belanjanya dimana, makannya dimana dan melihat perpustakaan yang selama ini jadi tempat favoritenya banget kalau kerja tugas. Temanya inpeksi pacar *wink.

Leeds University

Leeds ini kalau di Indonesia mungkin seperti Jogja kali yah, banyak universitas disini dan kata pacar biaya hidup disini cocok untuk kantong mahasiswa. Dikotanya juga banyak anak muda berlalu-lalang, mungkin karena saya masih berkeliling disekitar daerah universitas kali yah jadinya kesannya memang banyak mahasiswa yang berlalulalang. Tapi kan anak sma versi bule juga keliatan kayak mahasiswa sih bagi saya hahhhaah. 

Saya diajak mengunjungi bagian kampus yang masih mempertahankan arsitektur aslinya. Bagus-bagus aja bentuknya ngak spooky. Kalau kampus model Belanda berada di Indonesia kenapa kesannya berbeda yah?. Kemudian kami masuk ke dalam salah satu gedung yang terbuka kemudian berfoto-foto di koridornya. Maklum lagi musim libur, jadinya tidak ada kegiatan perkuliahan di kampus. Setelah masuk, koridor didalam gedung dan plafonnya tidak terlalu lebar dan tinggi. Mirip seperti memasuki rumah saja. Saya pikir bagian dalam gedung akan setua luarnya, ternyata tidak juga. Bisa tiba-tiba ada lobby yang di desain nampak modern. Benar-benar perpaduan klasik dan modern yang pantas untuk disandingkan.

 

 

Selanjutnya mau diajak ke Perpustakaan nih ceritanya, yah masa yah ngelewatin taman yang dibawahnya ada batu nisan coy. Jadi pas jalan dengan santai diatas bebatuan lebar, saya menyadari bebatuan ini ada pahat-pahatannya gitu. Ternyata setelah duduk banyak tulisan "in memory", omg didekat kampus banget nih ada beginian. Wassalam dagh klo harus lembur ngerjain tugas di perpusatakaan. Untung yah masih siang, jadinya nikmati pemandangannya aja meskipun ngilu juga nih harus jalan diatas batu nisan berderet-deret gini. 



Oh iya kebetulan di kampus lagi ada acara garage sale gitu. Jadi mahasiswa yang sudah mau pulang ke negaranya bisa drop berbagai barang nih di aula yang telah disediakan, tentu saja ada panitiannya dari BEM sana gitu. Barang dikelompokkan dan dijejerkan, semua jenis barang ada banget sih dari pakaian dalam sampai alat memasak dan karpet. Nah untuk siapa saja yang mau ambil barang tersebut yah silahkan. Gratis! Lumayan topinya bisa dipakai buat gaya-gayan hari ini. 

Dipake dululah buat foto-foto ditaman belakang kampus biar kesannya casual romatis gitu pacarannya diatas rumput hahaahaha. Blognya jadi galery foto yah dibandingkan ada tips and trick jalan-jalannya. Yaudahlah yah namanya juga baru pacaran lagi, foto terus :D

Leeds City Museum

Selanjutnya masih jalan kaki nih ceritanya, kita mau mengunjungi salah satu museum di kota Leeds. Museum di luar negeri itu seperti salah satu objek wisata yang wajib dan layak banget kita kunjungi sih. Dalam museum ini banyak hal yang bisa kita lihat untuk mengenal sejarah dari kota Leeds sendiri maupun United Kingdom pada umumnya. Selain membaca berbagai sejarah hidup, pelaratan rumah tangga, cara berpakaian. Kita juga bisa loh mencoba berbagai alat peraga attractive yang telah disediakan. Seperti yang iseng kami lakukan yaitu mencoba rambut palsu berwarna putih yang dulu sangat trend dimasanya untuk menunjukkan status sosial seseorang. Ada juga sejarah huruf-huruf yang bisa saya gunakan untuk membentuk nama saya berdasarkan sejarah huruf kapital dari jaman lalu.

Senangnya yah kalau mainan attractive semacam ini juga dapat sering kita lihat di museum-museum yang ada di Indonesia. Nampaknya pulang ke Indonesia, mengunjungi museum akan menjadi kegiatan kami lainnya. Ternyata menyenangkan juga masuk museum. Masa di negera orang ke museum mulu tapi negara sendiri belum pernah yee kan. Oh iya wisata museum di Leeds City Museum ini bahkan gratis loh. Jadi tinggal masuk aja dan langsung berkeliling museum. Jangan sibuk foto doank yak, baca juga literatur yang telah disediakan oleh pihak Museum biar pinter ;P (wink).

Besok kemana yah? Jalan lebih jauhan ahhh :D


Minggu, 19 Juni 2011

Transit di Malaysia

Hai hai hai...almost 12 hours saya di negara orang sebut saja initialnya K.L dibaca Malaysia! Rencannya adalah saya akan stay dinegara ini hingga besok subuh sebelum keberangkatan selanjutnya 12 hours menuju negara orang lain lagi sebut saja initialnya U.K dibaca Inggris *wink...

Hari ini saya tiba di K.L pada pukul 12.40 a.m waktu setempat. Kalau dulu menggunakan Air Asia turunnya di bandara LCCT maka kali ini dengan penerbangan menggunakan Malaysian Airlines saya mendarat di KLIA. Awalnya saya pikir KLIA itu nama perusahaan pengelola angkutan kereta saja ternyata itu nama bandara utama di K.L rupanya saudara-saudara :p. Nah beda airport beda pula tips perjalanan yang saya berikan. Sekarang saya mencoba alternatif transportasi selain bus untuk mencapai KL. Sentral. Kalau diepisode sebelumnya saya dan teman-teman menggunakan bus kali ini saya menggunakan KLIA express. Biaya yang harus dikeluarkan adalah 35 RM untuk perjalanan 28 menit menuju KL Sentral karena kereta ini tidak berhenti disetiap stasiun. Sedangkan untuk mencapai tiap stasiun atau pun LCCT kamu bisa menggunakan KLIA transit dengan biaya 12 RM. Setelah itu seperti biasalah keluar dari K.L sentral untuk mengambil Monorail atau bisa mengambil komuter.

Kayaknya cuma itu update-an dari ilmu jalan-jalan saya di Malaysia, sisanya seperti biasa pengalaman mengalahkan hawa nafsu, hawa toko, hawa diskon dan hawa atm yang rela gila isi perutnya saya gerogotin untuk mengeluarkan uang dari sana. Oh iya satu lagi ilmu ekonomi yang bisa ditiru adalah perbedaan nilai kurs tukar IDR-RM yang cukup tinggi antara saya menukarkannya di Indonesia dan di Malaysia. Di Indonesia per R.M nya saya mendapatkan harga 2.900 idr sedangkan di Malaysia per R.M nya saya mendapatkan harga 3.460 idr untuk sell dan 3.440 untuk buy. Jadi menurut ilmu ekonominya kalo saya membeli ringgit di Indonesia seharga 2.900 idr dan menukarkannya kembali ke Indonesia seharga 3.440 idr maka per 1 R.M saya bisa untung 540 idr.

Ehm mau cerita apa lagi yah saya...sebenarnya ini karena bosan tingkat aku sampai saya update blog dikala liburan bukan diakhir liburannya. lalalalalalalal....yaudah daghhh semoga bermanfaat yah informasi transportasi dan ekonomi pada malam hari ini. See Yaaa di jam dan kesempatan yang sama stay tune *wink

Check Postingan Blog Perjalanan Ke Malaysia juga disini
http://makansambiljalan.blogspot.com/2011/03/malaysia-kemana-kita-akan-pergi.html

Jumat, 10 Juni 2011

Anak Pantai ke Gunung Gede



Sesuai dengan judulnya, dari berbagai cerita perjalanan saya dari pantai ke pantai dan pulau ke pulau, akhirnya untuk pertama kalinya saya menghabiskan weekend dengan jarak kurang lebih 2650 meter dari atas pantai . Gunung pertama yang saya akan taklukan adalah Gunung Gede. Gunung gede telah lama menjadi favorit orang-orang yang gemar mendaki. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari kota Jakarta yaitu kawasan puncak, kabupaten Bogor, cukup memudahkan untuk dicapai. Perjalanan saya kali ini dimulai dari Jumat malam di daerah UKI. Karena kali ini pendakian akan diikuti sekitar 14 orang, maka tentu saja harus bertemu di meeting point yang paling strategis menurut pilihan pemirsa *wink. Dengan perjuangan membawa ransel setinggi setengah badan (agak lebay), bergegaslah saya ke daerah UKI sepulang dari kantor. Seperti selalu saya bilang sebelumnya, perjalanan malam menuju tempat liburan itu selalu menjadi pilihan terbaik karena bisa tidurrrrrrrrrrrrrrr di jalan. Tidak lama setelah semuanya berkumpul di meeting point, maka berangkatlah kami ke basecamp pertama yaitu Cibodas dengan menggunakan mini bus sewaan seharga rph.xxx.
  
Cibodas merupakan tempat peristirahatan para pendaki yang biasanya datang pada malam hari namun baru akan melakukan pendakian pada saat subuh sekitar jam 4. Di Cibodas tentu saja kita tidak perlu mendirikan tenda yang kita bawa karena setiap warung telah menyiapkan ruangan seperti aula untuk tempat  tidur. Jangan kaget kalau harus tidur satu atap dengan puluhan orang yang tidak dikenal. Baru di kaki gunung saja, berbagai perlengkapan anti dingin berupa jaket, syal, kupluk, kaos kaki dan kaos tangan telah saya gunakan tapi apa mau dikata tetap saja kedinginan. Jangan pernah tertipu dengan tebalnya perlengkapan yang kamu miliki. Bukan seberapa tebal tapi seberapa anti angin perlengkapan itu. Sebisa mungkin kenakan pakaian yang terbuat dari bahan polyester atau parasut, kedua bahan ini lebih hangat daripada bahan kaos.
Berlanjut keacara malam, setelah perut kenyang melahap semangkuk mie instant telur dan teh hangat pada pukul 12.00 malam, berarti saat yang tepat untuk tidur. Tidak perlu membawa bantal apalagi bawa boneka saat naik gunung. Pakai saja sleeping bag atau ransel sebagai bantal. Salah urat leher salah urat leher degh *wink. 
 *kukuruyukkkk petak petok petak petok. 


Apa mau dikata, niat bangun jam 4 subuh untuk pendakian tapi apa daya mata tak kuasa melek maka jadilah jam 6 pagi rombongan saya harus naik angkutan umum lagi ke kaki gunung puteri karena pendakian kami akan dimulai disana. Sebenarnya dari Cibodas juga terdapat awal pendakian menuju puncak Gunung Gede dengan jalan yang lebih landai dan pemandangan yang lebih indah. Tapi entah apa gerangan hingga rombongan kami harus menikmati pendakian yang sebenarnya huft. Peraturan (1), ini adalah satu-satunya kesempatan untuk sikat gigi hingga dua hari kedepan, maka sikatlah gigimu dengan telaten dan cucilah muka dengan seciamik-ciamiknya karena segala perlengkapan mandi akan ditahan diposko Gunung Gede sebelum melakukan pendakian.

Pendakian di Gunung Gede memang lain daripada yang lain. Peraturan (2), setiap orang maupun kelompok yang ingin mendaki tidak bisa melakukan pendakian seenak jidat, seenaknya datang dan langsung mendaki. Paling tidak sehari sebelum pendakian telah melapor ke posko Gunung Gede terlebih dahulu dan menyerahkan KTP. Jika salah seorang temen kita berhalangan, maka tidak bisa digantikan dengan orang lain. Peraturan (3), gunakan sepatu gunung atau sandal gunung untuk mendaki demi alasan keselamatan. Bagi yang tidak memenuhi standar maka bisa saja tidak diizinkan untuk melakukan pendakian. Karena kami semua anak yang patuh maka setelah melapor kami langsung berangkat menelusuri jalur pendakian Gunung Gede.
Sebelum melakukan pendakian, tim kita dibagi menjadi beberapa kelompok pendakian. Orang-orang yang secara fisik lemah ataupun jalannya lebih lambat akan dibiarkan jalan terlebih dahulu. Kelompok ini biasanya yang cewek-cewek. Beberapa kelompok berikutnya adalah orang-orang yang memiliki fisik lebih bagus sedangkan kelompok terakhir biasanya yang dituakan dan difungsikan mengurusi berbagai keperluan :p. Tentu saja ketuan ini bergerak lurus sejalan dengan pengalaman dan fisik mereka yang sudah sangat terbiasa dengan pendakian. Selain kelompok pendaki, kalau tidak mau susah ada kelompok tambahan yaitu kelompok para pembawa carier. Ada jasa joki untuk mengangkat bahan makanan dan tenda hingga ke puncak gunung Gede cukup membayar rph.250.000 per joki untuk sekali jalan atau rph.350.000 untuk membawakan barang saat naik maupun turun dari gunung.
Memanjat gunung tidak sesusah yang dipikirkan namun tidak pula semenyenangkan cerita orang. Berbagai perasaan muncul selama perjalanan yang alurnya bisa dibilang seperti ini. Perasaan capek minta mampus campur gengsi di 30 menit pendakian pertama. Perasaan semangat menggebu-gebu dan menyenangkan di 2 jam berikutnya. Selain karena sudah bertemu pos pertama, jalanan dari pos pertama ke pos ketiga pun dirasakan cukup landai. Perasaan mulai bingung dan kelaparan di 1 jam berikutnya. Hal ini disebabkan, sikap terlalu menganggap remeh. Sesuai dengan persetujuan awal bahwa beberapa kelompok pendakian akan berkumpul di pos 3 untuk makan siang. Sebenarnya ultimatum ini mengandung makna yang sangat penting terutama saat salah seorang anggota yang berkata tidak boleh makan sebelum pos 3. Namun apa mau dikata euphoria pendakian yang cukup landai ini menyebabkan kalimat berikut keluar “yaudah yuk jalan saja, udah tinggal 2 pos ini”. Sayang disayang perasaan heran, berpikir, takjub, ngos-ngosan dan yang paling penting adalah Kelaparan telah bercampur jadi gado-gado di 2 jam berikutnya. Perasaan ini tentu saja terjadi saat melihat pendakian yang terus menerus didepan mata tanpa jalur landai sedikit pun. Kemudian perasaan menyerah akan segera merasuki di 30 menit terakhir dengan kalimat “kapan sampainya” yang menyertai. Namun setelah 6 jam berlalu, semuanya benar-benar amazing. Perasaan terbebas dari beban (beban mental + beban ransel) benar-benar terobati dengan pemandangan padang yang sangat luas. Rasanya gimana yah? Selama 6 jam berjalan tidak tentu ujungnya didalam hutan yang cahayanya pun remang-remang tiba-tiba keluar mendapati pemandangan yang begitu luas, langit, cahaya matahari, dan angin *wink wink wink.
 
 
  
Bedanya naik gunung dan liburan dipantai adalah kita tidak perlu bergegas menyimpan barang kemudian segera menuju pantai untuk bermain air. Digunung semua yang akan kita nikmati ada disepanjang perjalanan selama kita berkumpul dengan teman-teman pendaki lainnya. Itu versi bagusnya, versi biasanya yah kita ke gunung bener-bener pindah makan dan pindah tidur *wink. Pada malam hari biasanya akan diisi dengan acara makan indomie bareng, minuman hangat, kartu, gitar dan ngobrol panjang lebar hingga semua lelah dan masuk ke tenda masing-masing. Kalau malam ini semua menyerah dengan hujan yang tidak kunjung henti serasa menyuruh kita tidur dengan cepat *ngeless. Setelah menahan dingin yang mulai menusuk di pagi-pagi buta, akhirnya pagi pun tiba dan untung saja matahari bersinar dengan teriknya diantara kabut yang masih menutupi kawasan pengunungan. Biasanya sejam sebelum matahari terbit, para pendaki akan mulai mendaki menuju puncak Gede untuk melihat sunrise. Namun kali ini saya lebih baik melihat matahari saat sudah tinggi saja dari padang perkemahan ini daripada harus memaksakan kaki urat yang mulai ketarik dan lebih menderita lagi saat penurunan gunung nantinya.
Nah saat matahari sudah tinggi inilah waktunya keluar dari perkemahan dan mengambil foto sebanyak mungkin sambil menunggu makan siang disajikan. Kalau untuk hal ini saya lebih menyerah lagi. Saya bagian ngumpulin sampah saja dari pada harus memasak. Serahkanlah semua pada ahlinya saja. Hal yang paling beruntung untuk pendakian kali ini adalah salah satu pendakinya adalah koki. Menu makan siang kami kali ini: Nasi putih, Sop Iga, Rica-rica Ikan Jambal, Telur sosis dan Bubur kacang hijau hahaahaa nikmatnya lebih enak dari makanan dikosan *wink. Tidak hanya itu saja, perjalanan sebelum menuruni Gunung Gede kami pun masih sempat-sempatnya makan kue pancake. Bring pancious to the top of Gede.
Setelah pukul 12 siang menghampiri, sudah saatnya membenahi barang masing-masing dan tenda serta jangan lupa membungkus semua sampah di daerah perkemahan kita untuk dibawa turun. Peraturan (4) kumpulkan sampah-sampah non-organic kedalam kantong sampah dan bakar sampah-sampah organic seperti sisa makanan. Sampah-sampah ini harus diserahkan saat kita tiba kembali di posko Gunung Gede, jika tidak siapkan kaki kamu untuk kembali naik kembali untuk mengambil sampah kamu. Demikianlah pendakian ini mengisi weekend saya dengan sangat menakjubkan. Penurunan Gunung Gede tidak lebih lama dari pendakiannya karena hanya menghabiskan waktu sekitar 3 jam namun medannya benar-benar berat karena setepak-setapak terjal dibawah saya mengharuskan saya harus menahan badan sementar kaki saya berlari-lari kecil selama penurunan. Gunung memang menyimpan rahasianya sendiri. Tidak ada yang mudah untuk dilalui baik itu mendaki maupun menuruninya.Dan satu hal yang saya buktikan dari kata-kata orang bahwa liburan ke gunung itu lebih berkesan dari liburan kepantai.. Benar-benar berkesan ternyata, berkesan dihati dan berkesan dibetis seminggu *wink

 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver