Minggu, 16 Oktober 2011

Kota Tua Batavia

Museum Bank Indonesia
Museum Bank Indonesia

Setelah lelah dengan kehidupan kerja-kosan-kerja-kosan dan berbagai deadlineyang menimpa kini saatnya untuk berjalan-jalan. Jalan-jalan kali ini lebih santai dari pada biasanya karena minggu yang masih sangat melelahkan masih tepat di depan mata, jadi saya memilih untuk berkeliling museum saja di kota Jakarta ini. Ada puluhan museum yang terdapat di kota Jakarta, tapi jangan khawatir karena lokasi kumpulan museum yang paling terkenal adalah di daerah kota tua. Di kompleks kota tua terdapat sekitar 5 museum yaitu Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Fatahillah dan Museum Keramik. Museum ini buka dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00 WIB. Kalau mau mengunjungi ke lima museum ini dalam waktu sehari sebaiknya datang sekurang-kurangnya pukul 10 pagi karena pada umumnya dibutuhkan waktu 1-2 jam untuk melihat koleksi-koleksi menarik disetiap museum.
 
Pintu Start Tour Museum BI

Tidak perlu berlama-lama, kunjungan pertama saya adalah ke museum Bank Indonesia. Untuk masuk ke museum Bank Indonesia ini kita hanya perlu membawa diri saja karena tidak dikenakan uang masuk dan barang-barang seperti tas harus dititipkan sebelum masuk ke dalam museum. Garis besar museum bank Indonesia ini adalah menceritakan sejarah peredaran uang di Indonesia sejak zaman barter sampai zaman modern seperti sekarang ini. Tidak hanya itu saja, sejarah kebijakan perbankan, krisis yang melanda keuangan Indonesia pada zaman presiden Soekarno dan presiden Soeharto pada tahun 1997-1998 juga diceritakan. Alur perjalanan museum benar-benar membawa kita dari masa lalu hingga masa sekarang.    

Atraktif Billboard

Video Kerusuhan Krisi Ekonomi 1998

Theater Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia termasuk museum baru yang didirikan di kawasan kota tua dan nampaknya ini adalah museum modern pertama di Indonesia yang memiliki banyak media atraktif seperti information LCD, mainan atraktif, theater room, dan yang paling penting ini satu-satunya museum yang full AC di kota tua *wink. Tidak hanya tentang sejarah keuangan di Indonesia, museum Bank Indonesia pun memiliki ruang display mata uang dari berbagai negara yang disusun secara menarik di ruang display dengan gaya dan alat-alat modern. 

Underground Display Baju Pahlawan dan Kompeni

Bank Indonesia lagi Nyari Wajah Buat Gantiin Ibu Kartini

Atraktif Tools Buat Liat Uang Sebesar Kuku Jari

Atraktif Sample Rasanya Megang Emas Batangan
Atraktif Lemari Kaca untuk Melihat Display Uang Berbagai Negara

Museum Bank Mandiri

Museum berikutnya adalah museum Bank Mandiri, sama-sama museum bank tapi apa yang ditampilkan dan garis besar yang ingin disampaikan tentu saja berbeda. Museum Bank Mandiri lebih menceritakan tentang sejarah Bank Batavia yang secara kebetulan bangunan museum ini adalah bangunan asli Bank Batavia jaman kompeni. Untuk masuk kedalam museum kita harus membayar kontribusi sebesar Rp.2000  namun untuk pelajar, mahasiswa dan nasabah bank Mandiri Gretongggg cin!.
Lobby Bank Batavia

Kebanyakan isi museum bank Mandiri adalah alat-alat yang digunakan dalam kegiatan perbankan dari jaman kompeni sampai sekarang. Terdapat mesin ketik segede gaban, alat hitung yang berevolusi, mesin ATM yang nampaknya bisa masukin 2 orang didalamnya, CPU yang lebarnya selebar saya dan tingginya sepinggang saya. Saya tidak kebayang kalau barang itu ada di dalam kamar kosan saya, bingung saya mau tidur dimana heheheh.

Evolusi Disket to Flashdisk

Evolusi PC

Evolusi Mesin Ketik
Vault BI

Di dalam museum bank Mandiri ini terdapat banyak ruangan seperti ruang pertemuan dan ruang yang berada di ruang bawah tanah. Namun alur yang kurang jelas dalam gedung museum ini membuat orang kadang terlewatkan untuk melihat langsung brankas bank yang seluas rumah di bawah tanah. Jadi rajin-rajinlah memperhatikan tanda-tanda jalan untuk mencari tempat menarik ini.
Miniatur Transaksi Keuangan

Hal menarik lainnya yang terdapat dalam museum Bank Mandiri adalah halaman tengah museum yang asri dan rindang. Nyaman untuk dijadikan tempat piknik sebenarnya terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil karena terdapat taman bermain juga di dalamnya. Monolog, “rasa-rasa mau gelar tikar dan tidur siang disaat Jakarta seterik ini”.

Museum Wayang


Museum berikutnya adalah Museum Wayang. Untuk masuk kedalam museum wayang ini, saya harus membayar sebesar Rp.2000  (umum), Rp.1000  (mahasiswa), Rp.600  (pelajar). Dengan harga biaya masuk museum yang semurah ini seharusnya semua pelajaran sejarah dibuatkan museumnya saja. Ini bisa lebih masuk kedalam otak saya daripada saya harus membaca buku sejarah yang tidak pernah terjadi lagi dimasa hidup saya. Monolog, “Gimana cara mau membayangkannya coba? Liat contohnya saja tidak pernah, dibuat filmnya eh malah pakai naga-naga dengan teknologi bapuk yang saya tahu pasti itu bohongan #nomention :P ”. 

Melanjutkan cerita perjalanan saya di Museum Wayang ini, hal menarik di dalam museum wayang adalah terdapat banyak tipe wayang yang sebenarnya menurut saya itu adalah boneka kayu biasa namun ternyata boneka-boneka kayu ini merupakan jenis wayang juga. Sebagian besar dari kita berpikir bahwa wayang itu adalah karakter-karakter yang terbuat dari bahan tipis 2 dimensi, tapi ternyata banyak wayang Indonesia yang terbuat dari boneka kayu 3 dimensi. Selain bentuknya terdapat pula jenis-jenis wayang yang berasal dari berbagai suku di Indonesia. Kalau yang saya kenal sih wayang cepot khas Sunda. Selain wayang khas Indonesia, ada juga wayang-wayang dari berbagai negara yang ditampilkan di museum ini seperti wayang dari Thailand, Inggris, India, dan Cina.
Wayang Lokal 

Wayang China
Wayang Import *wink
Tidak hanya melihat koleksi wayang, setiap akhir pekan selalu ada penampilan wayang yang dimainkan oleh dalang-dalang yang berbeda serta mengangkat cerita yang berbeda-beda pula di setiap penampilannya. Untuk biaya melihat pertunjukkan ini saya tidak dapat menginformasikan karena tidak nonton hehehe.


Sayang disayang saya hanya dapat menceritakan ketiga museum ini. Saat mau melangkah masuk ke Museum Fatahillah, museum tersebut sudah tutup, kalau untuk museum keramik nampaknya pada hari kunjungan saya museum ini memang tidak buka sedari tadi. Tidak usah khawatir tidak usah bersedih *ala-ala penjual obat maklum dialun-alun kota tua terdapat banyak penjual obat, penampilan pantomim, dan berbagai jajanan pasar yang dijual disekitar alun-alun. Untuk menghabiskan waktu yang baru jam 4 sore ini, saya memilih untuk naik sepeda berkeliling area kota tua. Untuk sepeda biasa harga sewa sekitar Rp.10.000  perjamnya sedangkan untuk sepeda tandem harga sewanya Rp.15.000 -20.000  perjamnya. Kita dapat mengendarai sepeda ini keluar kompleks kota tua hingga ke jembatan tua (jembatan pertama pintu masuk perdagangan Batavia) dan ke stasiun kota yang berada di sekitar kompleks kota tua.

Demikianlah sekiranya perjalanan perdana saya di museum kota tua Batavia setelah numpang hidup selama 6 tahun di kota Jakarta. Perjalanan kali ini benar-benar menarik dan tidak kalah menyenangkan dengan bermain dipantai. Sayangi sejarah kita, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga sejarahnya“.

Attention!
1.Jangan pakai blitz saat mengambil foto yah, barang-barang yang dipajang itu barang langka yang tidak dapat diambil lagi loh dari masa lalu, jangan sampai warna dan kemewahannya pudar karena blitz foto yang terus menerus kan yah.
2. Ambil foto dengan pajangan-pajangan dalam museum memang bagus untuk profile picture tapi jangan disentuh bisa kali yah? Kalau patah dan kotor siapa yang mau ambil dari masa lalu barang yang sama seperti itu lagi *wink.
Cerita oleh Tenri Ake
Foto oleh Cita Nursyadzaly
Penyunting Cita Nursyadzaly

Sabtu, 01 Oktober 2011

Gua Buniayu

Pantai? SUDAH! Gunung? SUDAH, Next?….Menjelajahi bagian bumi yang lain berada 18 meter di bawah tanah apalagi kalo bukan jelajah GUA. Ini sebenarnya bukan gua pertama yang saya jelajahi sebelumnya ada beberapa gua yang sudah pernah saya masuki namun rasanya seperti masuk ke museum biasa. Bedanya dengan gua yang satu ini adalah BEDA! :p 
Gua Buniayu juga dikenal dengan nama gua Siluman.  Gua ini berlokasi di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Untuk mencapai tempat ini dibutuhkan waktu sekitar 4-6 jam tergantung kecepatan mobil, tingkat kemacetan dan seberapa gila sopir yang mengendarai mobil anda *wink.  Kebanyakan backpacker datang ke lokasi ini untuk caving pada malam hari. Apabila masuk ke dalam gua sekitar jam 12 malam maka perjalanan akan berakhir di mulut gua yang lain sekitar jam 6 pagi yang nantinya akan dilanjutkan dengan mandi di air terjun sekitar gua. Namun masuk ke dalam gua jam 12 siang bagi saya pun tetap berkesan. Namun tentu saja untuk masuk gua jam 12 siang berarti harus berangkat jam 6 subuh dari Jakarta sehingga sesampainya di lokasi bisa makan siang terlebih dahulu sebelum masuk kedalam gua. Kalau untuk penginapan tidak usah bimbang tidak usah bingung bisa minta dicarikan rumah penduduk oleh bapak penjaga villanya. Sebenarnya sih ada penginapan yang jaraknya sekitar 30 menit dari gua tapi saya tidak jamin ada yang mau nyetir buat balik ke villa lagi kalau sudah keluar dari mulut gua *wink. Tidak mahal kok, hanya menghabiskan dana Rp.250-350 ribu permalamnya untuk sewa satu rumah.
Perjalanan sudah , penginapan sudah sekarang kita mulai jelajah guanya. Pertama sampai kita harus menggunakan seragam safety terlebih dahulu sebelum masuk gua. Ada helm, waterpack dan sepatu boot plastik. Berbagai perlengkapannya nampak sudah usang dan robek di berbagai tempat begitu pula sepatu bootnya sehingga muncullah berbagai prasangka. Monolog pikiran negatifnya “gak dirawat banget yah alat-alatnya”, pikiran positif agak negatifnya “apa yang terjadi pada mereka yang menggunakan alat-alat ini sebelum kami ya Tuhan!!!!!!!”. Biaya perlengkapan dan biaya masuk ke dalam gua ditemani 3 orang penjaga guanya sebesar Rp.70.000 perorangnya. Selain menggunakan perlengkapan yang disiapkan pihak pengelola gua buniayau, ingat juga untuk membawa perlengkapan pribadi yaitu senter (bawalah senter kepala), tas kecil yang muat untuk memasukkan botol air mineral tentu saja beserta air di dalamnya dan kamera anti air.
Antrian Masuk Mulut Gua
Barang yang agak makruh untuk dibawa yaitu:
1.Kamera pocket biasa dan kamera gede (lo bakalan nyesel banget ajak mereka ikutan dan menggendongnya tanpa mengeluarkannya)
2. Hape. (mau nelpon siapa? kejebak juga ngak ada sinyal :p)
3. Duit sejuta (ngak ada penjual indomie ama cokelat hangat kok di dalam apalagi penjual souvenir)
Jadi simpanlah barang-barang ini di mobil, tenang saja aman kok.
Setelah perlengkapan perang beres, saya pun masih harus berjalan sekitar 200 meter untuk mencapai mulut gua. Cari mencari mulut gua didepan mata, eh ternyata mulut gua ada didekat kaki saya. Kesan pertama yang cukup menantang dari Gua Buniayu. Saya harus menggunakan alat keselamatan berikutnya untuk masuk terkantuk-kantuk kedalam gua yang jaraknya 18 meter kebawah dari mulut gua. Dibawah tentu saja sudah ada dua penjaga lainnya yang siap menyelamatkan saya tapi semoga mereka tidak perlu melakukan hal tersebut. Saya tidak butuh diselamatkan, saya butuh selamat Tuhan! Please itu beda, itu beda L. Dikarenakan besarnya mulut gua hanya cukup untuk satu orang saja, maka kami harus turun satu persatu. Setelah semuanya berada dibawah, perjalanan akan segera dimulai.
Tergantung-gantung 18 meter dari Dasar Gua Buniayu
Satu jam perjalanan pertama didalam Gua Buniayu, saya disuguhi berbagai ragam bentukan batu-batuan didalam gua ini. Dari batu yang terkikis karena aliran air, batu yang terbentuk dari tetesan air biasa disebut stalaktit dan stalaknit, batu yang berkilau-kilau. Monolog, ”apakah itu emas? tidak, itu pasti berlian? Dan ternyata itu hanya batu kapur :P ”. Tidak hanya itu saja, bentukan batu yang paling aneh juga saya temui disini bentuknya seperti alat kelamin pria dan jumlahnya banyak *pemandangan yang bikin senyum-senyum tapi tetap memandang sodara-sodara waakakakk.


Setelah satu jam pertama, mungkin gua ini tau kali yah saya dan teman-teman dalam hati mengganggap remeh apa yang dimiliki oleh Gua Buniayu. Monolog “kalau isi guanya hanya sekedar tampilan batu-batu heboh amat pake safety segala”.  Perjalanan berikutnya setiap sudut lain dari Gua Buniayu mulai memberikan kejutan-kejutan berbeda. Setelah turun dengan tali dari ketinggian 18 meter ada empat kali perjalanan vertikal lainnya yang benar-benar berkesan bagi saya. Turunan berikutnya adalah saya harus berpegangan pada tali yang hanya dikaitkan di salah satu batu dinding Gua Buniayu. Jangan salah, tali ini pun hanya saya gunakan untuk bergerak mendekati aliran sungai di bawah saya. Pada akhirnya, saya pun harus melepaskan tali tersebut dan menceburkan diri masuk kedalam aliran sungai setinggi perut itu. 
Perjalan vertikal yang menarik berikutnya adalah menaiki tanjakan mulus setinggi 3 meter yang benar-benar lumpur. Karena tanjakan ini tingkat kemiringannya hanya 5’ maka saya harus menggunakan tangga. Jangan mengharapkan tangga lipat atau tangga bambu ditengah hutan. Tangga ini hanya terbuat dari besi tipis. Tiap anak tangganya hanya sepanjang sepatu boot saya dan selebar satu ruas jari. Dengan sepatu boot yang sudah berlumur lumpur tentu saja perjalanan kali ini memakan satu korban yang karena terpeleset, teman saya ini harus meluncur sempurna sejauh 3 meter.
Perjalanan vertikal yang menarik lainnya adalah berjalan mendaki yang karena ini adalah lumpur, maka hampir setiap langkah boot saya harus terjebak dalam lumpur. Monolog, ”menyelamatkan kaki kiri, kanan kejebak. Busetttttttt!!! Udah ah ngak usah pake boot bikin susah”. Perjalanan vertikal terakhir yang juga berkesan, saking terjal dan beceknya lumpur dalam gua Buniayu ini maka seluncuran adalah jalan yang terbaik. Maka jangan heran kalau waterpack yang kami gunakan tadi sudah dalam keadaaan robek-robek terutama dibagian bokong! Yakin dan percaya bahwa seluncuran inilah yang menyebabkan itu semua terjadi.
Lain perjalanan lain pula rintangannya. Kalau berpikir perjalanan vertikal memang sudah seharusnya menyusahkan, perjalanan horizontal pun tidak kalah memakan korbannya. Bagi saya ada 3 perjalanan horizontal yang sangat berkesan bagi saya. Perjalanan horizontal yang pertama tentu saja cukup menyeramkan karena saya harus berjalan di daerah yang miring dan sebut saja itu miring di tengah jurang didalam gua (bingung yah? Yah sekiranya seperti itulah). Udah miring, di tengah jurang dan saya harus melompat ke bagian gua yang lainnya. Belum melompat pun saya sudah lemas, tapi karena ini gerak cepat tiba-tiba saja saya sudah berada di seberang gua Buniayu. Ini yang teman saya sebut, ”saat kita harus melakukan sesuatu, segenap alam semesta akan bantu mewujudkannya”.


Perjalanan horizontal berikutnya adalah berjalan di dalam lumpur yang sekali injak kaki saya langsung tenggelam selutut. Ini benar-benar bikin saya mau nangis saking desperadonya. Gimana mau jalan kalo setiap langkah harus mengangkat sepatu boot dari lumpur dulu yang mana  saya mesti minta bantuan orang lain untuk menariknya. Setelah itu saya tahu kenapa sepatu boot yang kami pakai sudah robek beberapa bagian. Gimana tidak robek kalau ditariknya memang sampai mau robek. Keputusan saya seperti biasa adalah membuka boot, angkat dan berjalan seperti biasa. Paling tidak saya tidak harus capek-capek mencari boot yang tenggelam di dalam lumpur. Tapi ternyata ada teman saya yang entah dia terlalu kreatif atau itu wujud desperado yang lebih dalam. Teman saya benar-benar jalan merangkak badan dari leher hingga ujung kaki rata denga tanah. Benar-benar seperti pasukan perang berani mati melawan Belanda. 

Keluar Mulut Gua Buniayu

The last but not the least, sebelum keluar dari mulut gua pun masih ada satu perjalnan horizontal yang harus saya lalui. Untuk mencapai mulut gua saya harus merangkak. Dengan posisi bersetubuh dengan tanah ini pun jarak badan saya dengan langit-langit gua kurang dari satu jengkal.  
Setelah 6 Jam Perjalanan di Dalam Gua Buniayu
Dan perjalanan 6 jam didalam Gua Buniayu pun berakhir dengan penuh haru. Bagi pendaki gunung perasaan ini sama dengan perasaan kita saat sudah sampai di puncak gunung yang telah kita daki berjam-jam. Benar-benar pengalaman yang sangat berkesan dan harus dicoba.  Sampai jumpa di jalan-jalan berikutnya *wink. 

Itinerary:
  • Biaya penginapan ala rumah penduduk : Rp.250.000 sampai dengan 350.000 / rmh/ malam
  •  Biaya makan 3 kali makan: Rp.30.000/ orang
  • BIaya masuk gua: Rp.70.000 / orang
  • Biaya bensin dan tol: Sekali isi full saja udah bisa untuk PP


Cerita Oleh Tenri Ake
Edit oleh Cita Nursyadzaly

Minggu, 21 Agustus 2011

Beras Basah


Di pagi yang cerah ini saya sudah sangat siap untuk mengunjungi pulau Beras Basah setelah menempuh perjalanan darat sekitar 6-7 jam perjalanan dari kota Balikpapan menuju kota Bontang. Sebenarnya pulau Beras Basah ini adalah pulau pribadi yang dikelola oleh PT. Badak, namun belakangan ini telah dibuka untuk umum. Tidak ada biaya apa-apa yang harus dibayar saat memasuki wilayah pulau ini. Kita hanya perlu membayar sewa kapal yang ditumpangi dari dermaga dekat café Singapura. Untuk satu kapal yang muat 8 orang harga sewanya sebesar Rp.400.000. Perjalanan dengan kapal ini menempuh waktu sekitar 1-1.5 jam. Beruntungnya saya memiliki teman yang bekerja di PT.Badak sehingga saya mendapatkan fasilitas 2 speed boat gratis ke Pulau Beras Basah yang ditempuh hanya dalam 10 menit saja *wink.
Dermaga PT. Badak
Speed Boat dari PT. Badak ke Pulau Beras Basaha
Pantai Pulau Beras Basah
Pulau ini benar-benar hanya sebesar beras kalau dilihat dari atas. Mungkin pula namanya Beras Basah karena pulaunya kecil dan pasirnya yang benar-benar putih sehingga tampak dari atas seperti beras yang selalu basah karena berada ditengah laut. Di dalam pulau ini cuma ada dua bangunan saja yaitu mercusuar dan rumah penjaga pulaunya Sebenarnya banyak yang bisa dinikmati di pulau ini seperti snorkeling dan diving jika kita punya kapal yang membawa kita ke tengah laut. Karang-karang di dekat pulau beras basah sudah banyak yang hancur, dan sekarang baru memasuki tahap rehabilitasi awal lagi, sehingga yang paling bisa kami lakukan untuk menikmati pulau Beras Basah ini adalah bermain air di pantai, mengambil foto di berbagai sudut pulau dan menikmati suasana pantai di dermaga.  Saat menjelang siang hari justru banyak keluarga yang datang mengunjungi pulau Beras Basah ini membawa anak-anak mereka bermain air laut. 
Taman Hijau di Pulau Beras Basah
Family Occasion Pulau Beras Basah
Another View of Pulau Beras Basah
Dermaga Pulau Beras Basah
Mercusuar Pulau Beras Basah

Namun kami hanya memiliki waktu dua jam saja menikmati pulau Beras Basah ini sebelum akhirnya dijemput lagi dengan speed boat PT. Badak. Ada satu hal yang membuat hati miris ketika mendengar cerita dari anak asli sini dengan kalimat seperti ini, “DULU disini banyak karang, tapi banyak juga nelayan yang menangkap ikan dengan bom jadi karangnya sudah rusak”. Benci kata dulu di kalimat itu degh, dulu orang merusak, sekarang saya yang tidak bisa menikmati. Kalau sekarang kita yang merusak pasti dimasa depan ada orang yang seperti saya juga yang mendengar kata yang sama *huks…Dijaga yah pantai dan lautnya belum terlambat inga-inga *wink. 

Cerita oleh T. Ake
Edit oleh C. Nursyadzaly
Foto oleh Yola & Roni

Sabtu, 20 Agustus 2011

Kutai Kertanegara to Bontang


Mungkin bisa dibilang, tidak ada yang bisa menghalangi saya mengunjungi pulau atau saya yang tidak bisa kalau tidak berlibur ke tempat jauh dalam sebulan saja. Kunjungan saya berikutnya dibulan Ramadhan ini adalah pulau Beras Basah. Pulau Beras Basah berjarak 6-7 jam perjalanan darat dari kota Balikpapan menuju kota Bontang. Namun sebelum menceritakan Pulau Beras Basah ini, mungkin ada banyak hal-hal menarik yang harus saya ceritakan terlebih dahulu khusus di halaman blog ini.
Untuk mencapai kota Bontang bisa menggunakan jasa travel sekitar Rp.125.000 / orang atau kalau perginya ramai-ramai bisa rental mobil saja dari Balikpapan dengan rate sekitar Rp.600.000 / harinya. Jika menyewa mobil sendiri tentu saja bisa mampir ke kota-kota yang dilalui sebelum akhirnya sampai di kota Bontang. Salah satu kota yang biasanya dikunjungi di Kalimantan Timur ini adalah kota Kutai Kertanegara. Di kota ini ada dua tempat yang seharusnya dikunjungi. Yang pertama yaitu Jembatan Kutai Kertanegara. Pada malam hari jembatan yang membelah sungai Mahakam ini penuh dengan hiasan lampu dari ujung ke ujung. Sayangnya saya melewati kota ini pada siang hari sehingga hanya bisa berfoto-foto dengan kesan jembatan ini benar-benar panjang.


Selain itu, ada taman yang sebenarnya digadang-gadang untuk menjadi taman bermain di tengah pulau sungai Mahakam. Nama taman ini adalah pulau Kemala, namun sudah banyak fasilitasnya yang rusak dan jarak antar wahana yang cukup jauh pun menjadi salah satu kendala. Untuk mencapai pulau Kumala ini kita harus menggunakan perahu. Perahu ini bisa dipakai hanya untuk menyeberang namun bisa pula disewa untuk berkeliling sungai Mahakam. Biaya masuk ke pulau ini adalah Rp.20.000 /orang untuk fasilitas mobil yang mengantar keliling pulau dan soft drink.
Ojek Perahu untuk menyebrang ke pulau
Bus Wisata untuk berkeliling pulau Kemala

Rumah Adat Suku Dayak


Pura simbol Kutai sebagai kota berkembangnya Hindu
Beranjak ke kota berikutnya adalah kota Samarinda. Kota Samarinda ini adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Timur namun tidak ada yang dapat saya sarankan untuk dikunjungi disini selain makanan pinggir sungai Mahakam dan Islamic Center atau Mesjid Raya kota Samarinda yang dibangun sangat besar dan penuh cahaya lampu pada malam hari. Konon untuk menyalakan lampu seluruh mesjid ini dalam sehari harus menghabiskan solar yang sampai sejumlah Rp.5.000.000  (benar atau salah?).
Tidak berlama-lama perjalanan kembali dilanjutkan hingga tiba akhirnya di kota Bontang. Saya dan teman-teman menginap di Hotel Andika. Selain gratis, buat saya dan teman-teman jaraknya dari tempat keberangkatan pun cukup dekat. Kalau saya gratis kalau kamu tentu saja bayar :p. Harga hotel di sini dimulai dari harga Rp.250.000 hingga Rp.450.000  permalam. Saran saya, jika pergi beramai-ramai ambillah kamar yang seharga Rp.350.000  dan pesan saja kasur tambahan (extra bed) seharga Rp.20.000 . Jangan khawatir karena luas kamar dua kali kamar standar di hotel.

Patung Merlion khas Bontang
Pada malam hari ada dua tempat yang bisa dikunjungi di kota Bontang. Tempat pertama yaitu café Singapura. Dinamakan Singapura karena di cafe ini terdapat Statue Merlion yang juga menyemburkan air dari mulutnya. Kalau pengambilan fotonya hanya badan kita dan Merlionnya saja, orang-orang tentu percaya kita sedang berada di Singapore. Hal yang menarik dari café Singapura ini adalah seluruh bagian café berada di atas teluk. Sebagian besar tempat duduk di cafe ini pun adalah outdoor jadi suasana nyaman dan tenang benar-benar dapat dinikmati di sini. Monolog, ”gimana ngak tenang kalau cuma ada café ini saja di ujung berug Bontang”.
Tempat yang satunya lagi bernama Tanjung Koala. Tanjung Koala ini juga tidak kalah aneh tempatnya dari café Singapura. Kalau café Singapura hanya cafenya saja yang berada diatas air, kalau Tanjung Koala ini dari pinggir jalan masuk kedalam Tanjung Koala sepanjang satu kilometer semuanya berada diatas tanjung. Tanjung Koala ini adalah kumpulan café-café pinggir laut yang biasanya ditemui di kota-kota yang dekat dari pantai. Untuk mencapai café-café ini saya harus berjalan sekitar satu kilometer melewati perkampungan yang rumah-rumah dan jalanan depannya pun dibangun diatas air dengan menggunakan kayu ulin. Monolog,”ulin-ulin betapa malang nasib mu nak nak nak”.
Capek berkeliling kota Bontang pada malam hari saatnya pulang tidur, bagi yang siap melanjutkan perjalanan silahkan mengunjungi bukit di daerah pupuk kaltim. Dari atas bukit, pemandangan pabrik pupuk yang sangat besar ini juga fantastis untuk dinikmati dengan banyak lampu pabrik dan kobaran api abadi di sekeliling pabrik.


Cerita oleh Tenri Ake
Edit oleh Cita Nursyadzaly
Foto oleh Yola & Cak Roni


Minggu, 17 Juli 2011

CANOPY BRIDGE BANGKIRAI

Setelah penat bekerja yang kejar-kejaran dengan waktu akhirnya saya memutuskan untuk memanjakan sedikit otak dengan menulis pengalaman jalan-jalan yang indah. Paling tidak meskipun dibulan Ramadhan ini ngak bisa jalan-jalan, kenangan jalan-jalannya bisa sedikit menyenangkan hati. Perjalanan saya terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan ini adalah ke hutan Bangkirai. 

Hutan bangkirai ini merupakan salah satu hutan lindung di kawasan Kalimantan Timur karena lokasinya yang masih masuk dalam kawasan Bukit Soeharto. Namun kekayaan alam yang dimiliki hutan Bangkirai ini nampaknya tidak dapat menyelamatkannya dari proyek pertambangan. Untuk mencapai kawasan hutan ini, dibutuhkan perjalanan sekitar dua jam dari kota Balikpapan. Untuk mencapai jalan masuk ke hutan Bangkirai sih hanya membutuhkan waktu sekitar sejam namun dari jalan raya terdekat ini dibutuhkan waktu yang sama lamanya hingga bisa masuk ketengah hutan. Mungkin untuk menikmati kawasan wisata ini dibutuhkan niat yang lebih dan ketekukan serta kerja keras *mulai ngawur wink. Tapi kali ini sih saya tidak main-main tentang kondisi jalan yang harus dilewati. Jalan tambang yang berbatu dan tanah merah, serta kondisi jalan yang sempit, mendaki dan berkelok benar-benar pengalaman off-road naik bus yang menyenangkan.
Namun semua usaha yang susah payah untuk mencapati tengah hutan Bangkirai ini rasanya terbayarkan dengan pengalaman yang akan saya dapat nanti. Setelah perjalanan dua jam memasuki kawasan hutan dan pertambangan, kini saatnya turun dari bus dan segera berjalan tracking memasuki hutan menuju “Canopy Bridge Bangkirai”. Canopy bridge adalah jembatan kayu yang dihubungkan dari tali temali. Tali-tali ini diikatkan pada pepohonan tinggi ditengah hutan. Jarak jembatan tersebut sekitar 30 meter dari tanah. Jembatan ini akan menghubungkan beberapa pohon besar yang menjulang tinggi. Baru mendengar deskripsi wisata ini saja saya sudah begitu bersemangat sekaligus memaksakan diri untuk mencobanya (sok-sok ngajakin padahal takut ketinggian *wink). Sebelum jantung berdebar, dari pintu masuk hutan, saya masih memiliki waktu sekitar 20 menit untuk mengumpulkan keberanian. Tracking melewati hutan yang masih alami dan banyak bekas pohon-pohon tumbang dipinggir jalan serta ranting-ranting ala-ala tarzan yang menguak masa lalu saya sebagai Jen :p. 
 
Setibanya dikawasan wisata Canopy Bridge hal yang pertama saya lakukan adalah membeli air minum. Hal ini penting karena saya harus menaiki sekitar 14-20 tangga atau setinggi bangunan 7 lantai untuk sampai keatas pohon. Tidak usah khawatir kalau lupa membawa air minum karena ada monopoli perdagangan minuman dilokasi wisata (tentu saja perdagangan monopoli selalu masang harga seenak jidat, jadi sedia minum lebih baik daripada beli minum :p).  Setelah membeli minuman dan membayar Rp15.000/org (domestik) atau Rp20.000/org (foreigner), maka pendakian anak tangga pun dimulai. Berbagai tips bagi si paranoid ketinggian saat mencoba wisata ini adalah sebagai berikut: 
Menara untuk mencapai atas pohon
 1) saat menaiki tangga paling awal percepatlah langkah sehingga semangat yang belum surut bisa mendorong kamu hingga tangga yang lebih tinggi.
2) Jika pemandangan yang terlihat sudah dedaunan dan ranting maka jangan pernah melihat kebawah karena akan terasa mual, tetaplah menaiki anak tangga.
3) Jika mual tetap terjadi maka melihatlah kebawah sekarang maka dipikiran kamu bisa jadi adalah
  • mau turun udah kepalang basah setinggi ini masa turun
  • makin melihat kebawah makin mual aja
  • keatas sudah lebih dekat, lanjut gannnnn!!! Hahaha ini nama jurusnya adalah menjebak diri sendiri *wink.


Saat sampai ditangga yang paling tinggi maka pemandangan hutan Bangkirai yang hijau dan udara yang sejuk akan segera menyapa. Berdiri diatas memberikan berbagai rasa yang berbeda. Ada perasaan takut karena ini benar-benar tinggi. Ada tiga pemandangan bebas yang bisa saya nikmati. Pemandangan atas langit yang luas setelah melewati hutan yang lebat, pemandangan hijau terbentang sejauh-jauhnya didepan mata dan pemandangan tanah cokelat jauh dibawah kaki saja polos tanpa ada pohon maupun ranting yang menghalanginya. 

Meskipun saya heran kepada diri sendiri kenapa sering sekali membayar untuk membahayakan diri sendiri. Berjalan dijembatan kayu yang hanya dieratkan dengan besi dan tali-temali. Lebar jembatan pun hanya dapat dilewati oleh satu orang. Tentu saja, karena ini hanya kayu yang saling diikat maka mari bergoyang diatas ketinggian 30 meter tanpa alat pengaman sekali pun. Jika pertama melangkahkan kaki ada perasaan mencaci maki diri sendiri terhadap kegilaan ini, maka langkah berikutnya cuma ada rasa takjub dengan pemandangan yang ada. Selain pengalaman hati, pengalaman mata pun benar-benar sangat dimanjakan. Sempatkan beberapa waktu untuk berdiri dan menikmati pemandangan sekitar. Angin dan udara sejuk tentu saja akan menyapa dengan ramah. OMG!! Lagi –lagi alam Borneo ini membuat saya takjub. 

Cerita oleh Tenri Ake
Foto oleh Yola & Cak Roni
Edit oleh Cita Nursyadzaly

Minggu, 10 Juli 2011

Jalan-jalan ke Balikpapan

Selamat datang di kota Balikpapan yang seharusnya menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Timur (pendapat pribadi penulis *wink). Provinsi Kalimantan timur ini dikenal sebagai provinsi yang dihuni beraneka ragam penduduk pendatang yang datang dalam rangka kerja jangka pendek (*saya), kerja jangka panjang (*karyawan tambang atau industri) maupun kerja seumur hidup. Kalau kerja seumur hidup ini bisa jadi karena sudah minum air sungai Mahakam. Konon ceritanya kalau sudah minum air sungai Mahakam maka tidak akan bisa lagi menginjakkan kaki keluar pulau Kalimantan, apa lagi kalo airnya disuguhkan oleh putra-putri daerah, maka cuma tinggal surat yang akan kembali ke kampung halaman *wink. Kalau ini bisa percaya bisa tidak tapi entah kenapa tidak percaya pun namun berdasarkan cerita blog saya dalam setahun ini saja saya sudah dua kali project di pulau Kalimantan *huft dan sekali dalam rangka liburan ditahun 2009. 


Daripada membahas mitos lebih panjang lagi ada baiknya saya menceritakan hal-hal yang lebih nyata dan lebih menarik lainnya mengenai Balikpapan. Kali ini saya dan teman-teman project mengunjungi 3 tempat wisata yang memang menjadi tujuan para wisatawan saat berada di Balikpapan. Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah “Tritip” yang berlokasi 25 km dari tengah kota Balikpapan. Kalau dari namanya saya tidak kebayang tempat macam apa yang akan saya kunjungi ini. Namanya bisa saja lucu tapi apa yang saya kunjungi tidak lucu sama sekali. Tritip ini adalah tempat penangkaran buaya muara. Meskipun Kalimantan memiliki banyak sungai rawa dan muara namun kelestarian hewan ini ternyata perlu dijaga juga dalam suatu penangkaran. Disini terdapat banyak kolam yang airnya hanya sekitar 10 cm tingginya. Bisalah buat cuci-cuci kaki buaya. Setiap kolam memiliki ukuran dan umur buaya yang berbeda. 

Ada banyak kolam disini, dimana ada sekitar 20 ekor buaya perkolamnya. Untuk buaya dewasa yang panjangnya bisa mencapai 3 meter, kolam-kolam biasa sudah tidak cukup lagi untuk menampung. Buaya-buaya yang telah dewasa ditempatkan ditempat seperti rawa. Warna air permukaannya sudah hijau sehingga kadang kita hanya bisa melihat mata buayanya saja. Kalau melihat buaya yang sedang berjemur, bentuknya yang membeku seperti patung benar-benar menipu mata. Kalau buayanya dibiarkan jalan-jalan trus nongkrong diam ditengah gitu bisa-bisa udah foto bareng 1..2..3..HAP lalu ditangkap. Tapi kalau memang mau mewujudkan sensasi foto bersama buaya, dilokasi penangkaran ini itu tentu saja tidak mustahil. Cukup dengan membayar Rp.5000, kita bisa foto bersama anak buaya dengan hitungan 1..2..3..click *wink. Selain melihat kolam, berfoto bersama anak buaya, satu hal lain lagi yang patut dicoba dipenangkaran ini adalah sate buaya. Dengan harga Rp.35000 per porsi (10 tusuk), kita sudah bisa menikmati daging buaya bumbu manis pedas. Tidak hanya hal-hal yang berhubungan dengan buaya, di lokasi ini juga ada beberapa hewan yang saya juga bingung mau mengkategorikan mereka apa. Ada 2 ekor gajah dan beberapa ekor monyet beda ras. Tentu saja bukan hewan dalam penangkaran karena kondisi mereka nampak sangat tidak terurus. 




Setelah beramah tamah dengan buaya-buaya muara sebagai hewan khas Kalimantan, sekarang waktunya mengunjungi lokasi “konservasi beruang madu”. Lokasi beruang madu ini berjarak sekitar 28 km. Tidak terlalu jauh memang dari lokasi penangkaran buaya. Lokasi konservasi ini berada dalam wilayah hutan lindung sungai wain. Kalau tadi kita harus membayar Rp.10000 untuk melihat buaya. maka hanya dibutuhkan biaya Rp.0 untuk melihat beruang madu dari jarak dekat. Tetap ada kotak donasi bagi dermawan yang ingin membantu kelangsungan hidup beruang madu ini. Jika ingin melihat beruang madu, datanglah pada jam 09.00 dan 15.00 karena ini adalah saat makan beruang madu. Tidak banyak hal yang bisa dinikmati sebenarnya di lokasi konservasi ini selain melihat beruang madu lagi makan siang. Namun suasana yang sejuk dan panjangnya jalur tracking yang mengelilingi kandang hutan buatan ini bisa membantu untuk menikmati alam.


Setelah sore menghampiri, perjalanan pulang rombongan saya diarahkan menuju ke satu lagi tujuan wisatawan yaitu “Kebun Sayur”. Kebun sayur ini bukan ladang tempat petani menanam sayur dan kita bisa langsung memetik sayuran segar untuk dibeli dan dibawah pulang kerumah. Kebun sayur ini adalah nama pusat perdagangan oleh-oleh khas Balikpapan. Disini kamu bisa membeli souvenir Kaltim seperti baju, kain corak khas Kalimantan, senjata tradisional daerah Kalimantan (Mandau), pernak-pernik Kalimantan hingga batu-batuan alam yang telah dibentuk menjadi perhiasan yang bagus. Sayang disayang saat saya menawar beberapa perhiasan yang saya suka harganya benar-benar jauh dari ekspektasi saya. Memang sih harganya bisa lebih murah daripada harga diJakarta karena masih dibawah Rp.100000 tapi berbekal pengalaman saya berbelanjan di Martapura harganya lebih mahal karena diatas Rp.50000 semua. Namun dengan niat yang tulus dan keinginan yang kuat setelah berkeliling akhirnya saya mendapatkan satu kalung berbentuk kepala patung dayak dengan harga Rp.35000. Senangnya hatiku turun panas demamku, kini aku bisa pulang dengan tenang *wink. Kalau sampai ke kebun sayur jangan lupa juga mencoba makanan ringan khas Kalimantan timur yaitu “pisang gapit”. Pisang gapit adalah pisang bakar yang dipotong dadu besar kemudian dilumuri dengan saos rasa srikaya plus toping sesuai keinginan kita. 

Dan dengan berakhirnya riwayat pisang gaping dalam perut saya, maka berakhir pulalah perjalan saya diminggu pertama saya di Kalimantan Timur ini. Untuk cerita berikutnya silahkan membuka post list Kalimantan Timur yah… Selamat Liburan yah *wink



Cerita oleh Tenri Ake
Edit oleh Cita Nursyadzaly
Foto oleh Yola
 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver