Sabtu, 19 Mei 2012

Pulau Balak

Seharusnya tagline pariwisata Indonesia adalah "Kecantikan Yang Terlupakan".

Under Water Balak Island

Kalimat ini bisa berarti dua hal.Pertama bahwa keindahan Indonesia yang masih belum dilirik atau dikunjungi oleh orang-orang asing, atau keindahan Indonesia yang benar-benar terlupakan atau tak dikenal oleh orang Indonesia sendiri. Tidak mau kemakan dengan omongan sendiri maka liburan kali ini mencoba untuk mengunjungi salah satu pulau di daerah Lampung. Jangankan saya yang tinggal di Jakarta, orang Lampung sendiri sebagaian besar tidak mengetahui pulau yang akan saya kunjungi ini .

Dermaga Pulau Balak
Tradaaaaaaaa selamat datang di Pulau Balak, Provinsi Lampung. Untuk mencapai pulau ini diperlukan sekitar 1 jam perjalan darat dari Bandar Lampung dan 1 jam perjalan laut menuju pulau Balak. Untuk mencapai Pulau Balak ini, kita harus menyewa perahu terlebih dahulu. Jika kamu mempunyai waktu yang cukup luang, bisa menghemat biaya dengan membayar sebesar Rp. 300.000 - Rp. 350.000 untuk menyewa kapal berkapasitas 15-20 orang. Namun memakan waktu sekitar 2 jam lebih untuk mencapai pulau Balak. Sedangkan, bila tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu dilaut, maka memilih speedboat seharga Rp. 350.000-Rp 400.000 untuk seharian dengan waktu tempuh sekitar 1 jam adalah keputusan yang benar. Kekurangannya adalah perahu jenis ini hanya dapat menampung orang sebanyak 6 orang. 

Setelah menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga kami di Pulau Balak. Pulau ini hanya memiliki penghuni tetap sebanyak  3 rumah tangga. Namun jangan sedih, kalau ada rencana menginap di Pulau ini , tersedia juga pondokan yang bisa dipakai menginap bersama teman-teman. Selain itu, kita juga bisa membawa ikan atau hasil laut yang sebelumnya telah dibeli di kota untuk di bakar-bakar bersama di pulau ini. Tidak perlu berlama-lama, sesampainya di pulau ini kami segera mempersiapkan peralatan untuk snorkling dan melakukan streacthing agar tidak terjadi keram pada saatu turun ke laut nanti.

Kalau biasanya saya melakukan susur pantai sekarang susur bawah laut. Susur bawah laut yaitu mengelilingi pulau balak ini sambil bersnorkling. Jadi kami harus berjalan terlebih dahulu menjauhi dermaga pulau Balak, sehingga kami bisa bersnorkling hingga ke dermaga. Menurut instruktur, ke dalaman bawah laut sekeliling dermaga dianggap paling curam. jadi ada baiknya kita mulai dari yang lebih landai terlebih dahulu.

Setelah sampai di tempat start, kami perlu berjalan sekitar 5 meter dari bibir pantai menuju laut. Setelah itu kegiatan snorkling pun dimulai. Baru membenamkan mata, saya sudah dibuat terperangah dengan pemandangan yang saya liat. Kalau di pulau seribu, saya harus naik kapal ketengah laut dulu baru mendapatkan pemandangan ini sedangkan kalau ke derawan saya harus berhati-hati karena pemandangan semacam ini  berada di pinggir tebing bawah laut pulau Kakaban. Namun di pulau Balak, pemandangan ini segera didapatkan dari jarak beberapa meter saja dari bibir pantai.



Berbeda dengan karang yang pernah saya temukan di pulau -pulau lain di Indonesia, karang di bawah laut pulau Balak ini masih besar, berbentuk menarik dan berwarna-warni. Hal ini dikarenakan pulau Balak jauh dari pemungkiman warga sehingga sedari dulu karang-karang dan ikan di daerah ini tidak pernah mengalami bahaya bom penangkap ikan. Ikan disini juga selain menarik, mereka tidak takut untuk datang kepada pengunjung. Cukup memberikan umpan berupa roti yang disobek-sobek menjadi potongan kecil dan sebarkan di dalam air, ikan-ikan kecil berwarna-warni akan segera menghampiri. Selain itu, karena perairannya yang tidak terlalu dalam dan tenang, teman-teman saya yang tidak dapat berenang pun tidak perlu takut terbawa ombak laut atau semacamnya.

When Spongebob meets Patrick

Puas mengelilingi bawah laut pulau Balak ini, setelah bersih-bersih saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk berkeliling pulau. Tentu saja tidak lengkap rasanya kalau berkeliling pantai tanpa berfoto-foto. Banyak objek menarik untuk di jadikan background foto disini. Kalau perlu, coba berfoto diatas pohon kelapa seperti yang saya dan teman-teman coba lakukan. Hanya saja usaha untuk mendapatkan foto yang menarik tentu tidak semudah kelihatannya. Kalau tidak percaya silahkan mencoba *wink. Selain pulau Balak, disekitar pulau ini juga terdapat banyak pulau yang menarik. Bahkan ada pulau yang terkenal dengan hiu liarnya. Kita dapat berenang dengan hiu yang hidup di alam liar. Namun tidak perlu takut, hiu-hiu disini bukan hiu pembunuh, ukurannya pun kecil-kecil. Mintalah kepada instruktur untuk membawa kamu berkeliling-keliling pulau. Apalagi kalau kamu merencanakan waktu 2 hari 1 malam di sekitar kepulauan ini.
Berusaha Mencari Spot Foto di Pohon Kelapa

Foto di Pinggir Dermaga

Gaya Wajib "Foto Loncat"

Demikianlah perjalanan saya kali ini, semoga kalian bisa mendapatkan pengalaman yang sama. Sebagai saran, kunjungi tempat-tempat menarik itu jangan ditunda-tunda. Tau sendiri kan kebiasaan wisatawan itu adalah datang ketempat bagus untuk membuatnya tidak lagi bagus :p. Semoga kita bukan termasuk kategori itu yah *wink...Have a good trip.



Ittenary:

Bus Jakarta -Lampung : Rp. 135.000/ executive atau Rp. 115.000/ biasa
Travel Balak Island from Lampung: Rp. 350.000- Rp. 450.000/ orang/ all in
CP: Fanessa (duren.montong88@gmail.com)

Senin, 05 Maret 2012

Trans Studio Bandung


Setelah deadline project berkepanjangan yang mengharuskan saya menginap di kantor (curhatan penulis), saya butuh berteriak dan tertawa sepuasnya untuk menghilangkan semua penat ini. Maka, mengunjungi taman hiburan merupakan pilihan yang sangat tepat. Kali ini saya menyempatkan diri untuk mengambil cuti kerja dan berlibur pada hari Senin  ke kota Bandung. Di kota ini terdapat taman hiburan indoor baru yaitu “Trans Studio Bandung”.

Bagi yang sudah pernah mengunjungi Trans Studio Makassar, tentu sudah tahu bagaimana konsep taman hiburan Trans Studio Bandung. Konsep taman hiburan ini tidak jauh beda, tapi untuk wahana dan permainannya nampak lebih bervariatif daripada yang ada di Makassar.
Trans Studio Bandung berlokasi di dalam Bandung Super Mall, Jl. Gatot Subroto. Jika memasuki kota Bandung dari Jl. Juanda, kamu dapat mengarah ke Daerah Dago hingga simpang lima di daerah Kota Tua Bandung. Dari situ, sudah terdapat penunjuk jalan yang dapat membantu kamu menuju ke Trans Studio Bandung. Ketika memasuki Bandung Super Mall, dari halaman Mall sudah nampak jalur Roller Coaster yang tinggi dan berliku-liku, tentu saja ini pertanda baik bahwa permainan di dalam sana tentu akan seru. Tapi sebelum menikmati pengalaman menarik di dalam taman hiburan ini, tentunya saya harus membeli tiket. Bagi yang belum mempunyai kartu Trans Studio, berarti harus membeli kartu terlebih dahulu kemudian mengisi saldo dalam kartu tersebut. Deposit ini berfungsi untuk membayar tiket, makanan, minuman dan souvenir di dalam Trans Studio. Jika sudah pernah mempunyai kartu Trans Studio sebelumnya, maka cukup menambahkan deposit maksimal 2 tiket untuk satu kartu. Siapkan dana tunai kalian yah, karena selain pengguna kartu Bank Mega, maka untuk transaksi dengan kartu kredit ada pembelian minimal sebesar Rp.600.000,00.
Setelah kelar dengan urusan bayar membayar sekarang giliran menceritakan pengalaman saya bermain di ketiga zona bermain dalam Trans Studio Bandung yaitu Trans Studio Central, Magic Corner dan Lost City. Sejak pertama memasuki Trans Studio Bandung, saya tentu saja langsung memasuki zona Studio Central. Meskipun Roller Coaster tepat berada disebelah kiri pintu masuk, tapi kayaknya kurang cihuy jika mencoba the king of this theme park terlebih dahulu. Jadi saya memutuskan untuk mencobanya nanti saja.

Permainan pertama yang saya coba adalah Vertigo. Permainan ini seperti kicir-kicir di Dufan, namun sekarang diputar-putarnya dalam ruangan. Hal yang bikin stress adalah perasaan seolah-olah akan terlempar ke langit-langit gedung atau bahkan mencium tanah air. Entah sudah tua, sudah lama tidak ke taman hiburan, atau karena sensasi dalam ruangannya yang membuat tangan saya keringatan juga pada akhirnya.
Efek gayanya yang seru lalal

Efek mukanya saja yang seru hahaha
Permainan berikutnya yang saya coba adalah Giant Swing. Permainan ini hampir sama dengan Vertigo dimana kita juga diayun tinggi hingga ke langit-langit gedung. Rasanya saya siap untuk menghantam dinding yang berada di Trans Studio ini. Permainan lainnya Transcar Racing, yaitu permainan miniatur arena balapan dengan miniatur mobil balapan juga tentunya. Yang asik dari wahana ini karena kita bisa mengatur kecepatan dan arah setir kendaraan kita sendiri untuk balapan dengan mobil di jalur lainnya. Permainan ini cocok untuk menurunkan sedikit ketegangan.

Si Bolang versi Jakarta identik dengan "awas lobang"

Kami Si Bolang dari Makassar
Jika ketegangan belum selesai maka bisa mengunjungi wahana Si Bolang Adventure. Wahana ini seperti rumah boneka di Dufan, namun lebih khas karena semua boneka yang ada disini menampilkan bolang dari berbagai daerah di Indonesia. Yang menarik perhatian saya adalah boneka Bolang Jakarta yang memegang papan bertuliskan “awas lubang”, ohhh poor Jakarta.
Keluar dari wahana ini, saya langsung penasaran dengan wahana yang berada di sebelahnya yaitu Trans Studio Science Center. Sayang sungguh sayang, museum ilmu pengetahuan secanggih ini malah milik pihak swasta bukannya pihak pemerintah sehingga hanya orang-orang mampu saja yang bisa menikmatinya *poor Indonesia. Di dalam museum ini, terdapat berbagai alat peraga ilmu fisika, matematika dan kimia. Setiap alat peraga menjelaskan teori ilmu pengetahuan dan fakta-fakta dibalik berbagai kejadian alam. Kalau beruntung, ada pertunjukan percobaan langsung yang diperagakan oleh Professor I Know dan Assistennya Miss May. Percobaan langsung ini dibawakan secara menarik dan interaktif.

Tidur diatas paku

Simulasi muka saya saat umur 40 tahun
My Evolution *wink

Laboraturium
Finally adegan di film bisa jadi nyata lol
 Permainan menarik lainnya di zona Studio Central adalah Marvel Superheroes 4D. Terdapat layar super besar yang menayangkan film tentang aksi Superhero Marvel seperti Spiderman, Captain America, Iron Man, dll melawan si penjahat Dr.Doom yang ingin menghancurkan kota London. Kursi yang berguncang mengikuti adegan dalam film menambah keseruan menonton. Tapi sayang sungguh sayang karena kesan 4D tidak saya rasakan sepenuhnya disini. Hanya guncangan kursi saja tanpa ada asap atau cipratan air yang seharusnya bisa saya rasakan dibeberapa adegan. Karena film ini adalah film action, maka banyak adegan berantem yang dipastikan bikin ngilu. Tapi sayang, entah kenapa layarnya seakan buram dan kurang terang sehingga mata jadi agak siwer ketika menonton.
Demi afdolnya mengunjungi zona Studio Central ini maka beranjaklah saya menuju wahana Yamaha Racing Coaster. Tidak usah khawatir tidak usah bimbang, mungkin nanti kalau sponsornya sudah berganti ke Kawasaki, nama wahana ini akan berubah menjadi Kawazaki Racing Coaster *wink. Roller Coaster di Trans Studio ini tidak kalah menarik dan membuat jantung seakan-akan mau copot juga karena ada manuver mundur yang saya rasakan saat menaiki roller coaster ini. Tips: coba Roller Coaster ini pada sore dan malam hari untuk kesan yang berbeda :D.
Marvel Superhero 4D


Motor Roller Coaster
Setelah puas menikmati zona Studio Central, maka zona berikutnya yang saya kunjungi adalah Magic Corner. Tidak sebanyak permainan di zona sebelumnya, dari 6 wahana yaitu Dunia Lain The Ride, Negeri Raksasa, Special Effects Action, Dragon Riders, Pulau Liliput dan Blackheart Pirate Ship, saya hanya menikmati 3 wahana saja.
Wahana pertama yaitu Dunia Lain The Ride. Untuk memasuki wahana ini saya benar-benar dipaksa untuk masuk. Belum apa-apa, ruang tunggu untuk memasuki wahana ini saja sudah seram bukan kepayang. Backdrop dan suasana yang saya temui selama berada didalam sana benar-benar membuat saya berimajinasi sendiri. Belum lagi efek-efek yang segaja dibuat untuk menakut-nakuti pengunjung. Namun semoga kamu tidak mendapatkan additional effect yaitu dikerjain sama penjaga keamanan sana. Saya tidak perlu menceritakannya seperti apa, tapi itu benar-benar berhasil membuat kami stress berteriak. Kata penjaganya, ”Habis bosan mbak jaga doank!.” 

Tidak berlama-lama berada di wahana dunia lain, karena memang tidak perlu berlama-lama dan tidak usah lama-lama *dendam penulis :p. Wahana berikutnya yang saya coba adalah Special Effects Action. Dalam wahana ini, saya bisa menyaksikan pertunjukan live beberapa aksi special effect yang biasa digunakan dalam film. Namun sayang sungguh sayang dari masuk hingga selesai, saya menghabiskan waktu sekitar 45 menit untuk penampilan yang hanya sekitar 10 menit, selebihnya aksi MC yang seperti kebanyakan berbicara. Wahana lainnya yang saya coba dalam zona Magic Corner adalah Negeri Raksasa. Permainan ini seperti Hysteria di dufan atau Dragon Tower di Trans Studio Makassar. Saya duduk di kursi yang berderet, lalu diangkat sangat tinggi kemudian seketika saja tanpa saya sadari, saya dihempaskan turun sehingga badan terasa melayang selama sepersekian detik.
Dan tibalah saatnya saya mencoba wahana di zona Lost City. Dalam zona ini, ada 4 wahana yaitu Amphitheater, Skypirates, Jelajah dan Kong Climb. Sangat disayangkan saya hanya mencoba satu wahana saja disini yaitu Sky Pirates. Di wahana ini saya dapat berkeliling menggunakan perahu yang tergantung langit-langit gedung. Perahu ini akan bergerak mengelilingi seluruh area Trans Studio Bandung, sehingga semua pemandangan dapat saya lihat dari atas. Wahana lain yang bisa saya ceritakan juga adalah wahana Jelajah. Wahana ini sama saja dengan Jelajah di Trans Studio Makassar, sehingga saya tidak terlalu berminat untuk mencobanya. Hal yang berbeda hanya dari bentuk perahunya yang lebih besar sehingga penumpang dapat duduk dua berdampingan juga. Di wahana ini, kamu akan menaiki perahu kecil yang mengelilingi jalur yang sudah ditentukan dengan bantuan dorongan air. Jalur yang ditempuh berkelok-kelok dan bermuara pada satu titik puncak. Pada saat mencapat puncak, perahu yang kamu naiki akan terjun bebas dari ketinggian 13 meter yang dipastikan akan membuat kaki lemas.
Tips:
  1. Bagi kamu yang ingin menikmati semua permainan, ada baiknya datang lebih pagi karena ada beberapa pertunjukan drama yang hanya diadakan sekali sehari. Begitu sampai di lokasi, tanyakan langsung ke kru Trans Studio Bandung langsung setiap jam berapa saja pertunjukan tersebut akan ditampilkan.
  2. Apabila masih banyak sisa saldo di kartu Trans kamu pada saat sudah keluar dari Trans Studio Bandung, maka jangan lupa untuk melakukan refund di loket yang ada di area food court.
  3. Suka duka datang ke taman hiburan pada saat weekdays adalah harga lebih murah dan tidak usah mengantri panjang, namun harus menunggu wahana yang ngetem menunggu penumpang. Wahana hanya akan dioperasikan jika terdapat lebih dari 4 orang yang ingin mencoba wahana tersebut.
  4. Estimasi Budget
Tiket masuk weekend    : Rp.200.000,00
Tiket masuk weekdays  : Rp.150.000,00
VIP Access                           : Rp.200.000,00
Makan                                  : Rp.35.000 - Rp.50.000 / sekali makan

Selamat berlibur…*wink

Minggu, 22 Januari 2012

Pampang Kampung Dayak Kaltim





















Sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan Timur, ada issue perang suku antara suku Bugis dan suku Dayak. Sebagai orang Bugis yang bertamu di tanah suku Dayak maka jadilah saya agak-agak gimana gitu dengan suku Dayak. Namun alangkah ajaibnya karena setelah beberapa bulan berlalu sekarang saya akan berwisata ke kampung suku Dayak Asli.

Jangan membayangkan saya memasuki hutan untuk dapat bertemu dengan warga asli suku Dayak ini. Sekarang, wanita-wanita suku Dayak asli dapat langsung ditemui di salah satu perkampungan suku Dayak yang bernama Kampung Pampang. Kampung ini memang telah disiapkan sebagai kampung wisata. Hal ini dapat dilihat dari adanya pertunjukan tari-tarian adat suku Dayak yang diselenggarakan setiap hari minggu pukul 14.00 sampai dengan 15.00 WITA.

























































Perjalanan yang harus ditempuh dari kota Balikpapan hingga ke Desa Pampang ini sekitar 3 jam. Kendaraan saya dan teman-teman harus melintasi kota Samarinda terlebih dahulu untuk mencapai Desa Pampang tersebut. Tarif masuk ke dalam balai desa ini sebesar Rp.15.000/ orang, harga sudah termasuk biaya parkir. Setelah membayar, saya dan teman-teman dapat menikmati pertunjukan budaya berupa tari-tarian Dayak selama 1 jam. Ada beberapa tarian yang melibatkan penonton untuk ikut serta menari bersama. Tidak usah malu untuk berpartisipasi karena untuk mendapatkan pengalaman ini saya harus menempuh jarak ribuan kilometer dari Jakarta *wink.

























































Setelah acara budaya selesai maka ada waktu untuk berfoto-foto dengan orang-orang suku Dayak asli. Jika melalui panitia, kita dapat membeli karcis foto seharga Rp.25.000 untuk mendapatkan kesempatan foto bersama dengan salah satu orang tua adat suku Dayak. Bagi yang ingin berfoto dengan anak-anak suku Dayak juga dapat langsung berfoto tanpa membeli tiket. Tapi jangan salah, beli ataupun tidak membeli tiket saya tetap harus memberikan sejumlah tip kepada anak-anak ini. Nampaknya ini merupakan ajang mengumpulkan uang jajan sekali seminggu buat mereka. Jangan lewatkan juga kesempatan untuk berfoto ala suku Dayak. Ada beberapa stand kecil di balai desa yang menyediakan baju adat untuk disewa, sehingga kita dapat berfoto dengan menggunakan baju adat tersebut.
Tidak hanya pertunjukan budaya dan sesi berfoto. Pengunjung juga dapat membeli beberapa suvenir asli Dayak yang dijual oleh warga desa di perkampungan tersebut. Puas menikmati semua hal tersebut, berarti ini waktunya untuk kembali ke Balikpapan. Bagi yang masih ingin berkeliling kota, dapat menghabiskan waktu di kota Samarinda untuk makan kepiting asap maupun untuk menikmati jajanan di pinggir sungai Mahakam. Demikian cerita perjalanan diakhir pekan ini, sampai jumpa di cerita berikutnya *wink.
Cerita oleh Tenri Ake
Foto oleh Cita Nursyadzaly & Arman
Penyunting oleh Cita Nursyadzaly
       

Sabtu, 29 Oktober 2011

Kepulauan Derawan


Haiii selamat datang di salah satu kepulauan menakjubkan milik Indonesia. Selain kepulauan Seribu yang ada di Jawa dan Raja Ampat yang ada di Papua, kepulauan satu ini memiliki pesona alam yang tidak kalah cantiknya. Nama kepulauan tersebut adalah Kepulauan Derawan. Kepuluan ini masih termasuk dalam provinsi Kalimantan Timur, namun jaraknya yang jauh mengharuskan saya untuk memilih apakah akan melakukan perjalanan darat selama sekitar 16 jam untuk mencapai kota Berau atau menggunakan pesawat yang hanya memakan waktu sekitar satu jam perjalanan.  Tentu saja biayanya berbeda. Untung saja ada promo Sriwijaya buy 1 get 1 free sehingga saya bisa membeli tiket PP seharga Rp.600.000/ ++ untuk perjalanan pulang pergi Balikpapan - Berau.
Untuk mencapai kepulauan Derawan, tidak semudah yang saya bayangkan. Perjalanan pesawat saja tidak dapat langsung membawa saya ke kepulauan tersebut. Masih ada perjalanan darat dan perjalanan laut yang harus saya lewati. Namun karena kecapaian setelah kerja dan segala macamnya  maka saya dan teman-teman memutuskan untuk menginap di kota Berau dulu semalam sebelum paginya berangkat menuju kepulauan Derawan.

Penginapan di Berau
Keesokan harinya, kami memulai perjalanan pagi-pagi sekali sekitar jam 5 subuh. Bisa dipastikan sebagai backpacker sejati yang sangat peduli masalah alam, saya tidak akan membuang-buang air bersih untuk pagi sepagi itu, kan sebentar lagi saya bisa mandi sepuasnya dilaut *wink. Tepat jam 5 subuh, mobil sewaan yang akan kami gunakan sudah menjemput kami di depan hotel. Harga sewa mobil ini sebesar Rp.600.000 untuk mengantar dan menjemput kami dari pelabuhan Tanjung Batu. Mobil akan mengantar kami ke pelabuhan yang berjarak sekitar 2 jam dari Berau. Sepanjang perjalanan hanya ada hutan dan bekas tambang pasir yang berkilauan ditempa sinar matahari.

Setelah perjalanan selama 2 jam, kami akhirnya sampai di pelabuhan. Kapal yang sudah kami pesan sebelumnya lewat telepon siap mengantar kami berkeliling selama dua hari ke depan. Yah berhubung belum ada jembatan Suramadu yang menghubungkan antar pulau maka harus naik kapal untuk pergi dari satu pulau ke pulau yang lain. Biaya sewa kapal berkapasitas 10 orang selama dua hari sebesar Rp.1.400.000. Pulau pertama yang saya tuju adalah Pulau Derawan karena di pulau ini banyak penginapan murah dan pemukiman warga sehingga lebih mudah mendapatkan makanan dan belanja saat malam hari. Sesampainya di Pulau Derawan, jurus anak jalan-jalan tidak mau rugi adalah simpan tas ciyat sewa snorkeling set ciyat dan kembali ke kapal ciyat ciyat ciyat. 
Penginapan di Derawan

Pulau Maratua

Karena kami tinggalnya di Pulau Derawan maka, Pulau Derawan berada di prioritas terakhir untuk dieksplor. Pulau pertama yang saya dan teman-teman akan kunjungi adalah Pulau Maratua. Namanya boleh berakhiran “tua” tapi sesampainya di pulau ini maka serasa terdampar di kolam renang. Pulau ini dikelilingi banyak pasir putih tanpa karang sehingga saat kita berenang maka serasa berenang di kolam renang. Selain pasirnya yang sangat putih sehingga mirip kolam renang dengan lantai marmer putih, airnya juga amat jernih sehingga sejauh mata memandang kita masih bisa melihat teman kita berenang di bawah air dengan jelas. Kalau melihat foto-foto bawah air di Pulau Maratua ini, yakinlah ini fotonya diambil di laut bukan di kolam renang semata *wink. 

Di Pulau Maratua ini juga terdapat penginapan kelas menengah ke atas. Nampaknya pernginapan ini juga satu-satunya penginapan di Pulau ini. Sehingga ada aturan yang amat saya sesalkan yang berlaku di hotel ini yang amat sangat membahayakan keselamatan pengunjung lain. “Pihak hotel dilarang menjual makanan dan minuman kepada pengunjung yang tidak menginap di penginapan tersebut”. What the hahahhahaha, setelah capek berenang, berjalan menyusuri pantai dan tertawa cekikikan, maka haus pun melanda. Setiap orang hanya membawa air minum sebanyak satu botol mineral 500ml yang tentu saja sudah hampir habis diminum. “Apa yang akan terjadi kepada kami semua di sisa perjalanan sedangkan masih banyak pulau yang harus kami kunjungi?”

Pulau Kakaban

Tidak berlama-lama di Pulau Maratua, pulau berikutnya yang saya dan teman-teman kunjungi adalah Pulau Kakaban. Setiap pulau tentu punya ciri khas sendiri. Di Pulau Kakaban ini, saya dapat menikmati dua hal sekaligus, yaitu berenang diantara karang dan juga berenang di dalam danau. Pertama saya akan menceritakan tentang berenang di tengah danau. Danau ini terdapat di tengah Pulau Kakaban. Hal yang menarik dari danau tersebut adalah terdapat banyak ubur-ubur yang hidup di sana, sehingga saya dapat berenang bersama. 
Tidak usah khawatir karena ubur-ubur yang terdapat di sini bukan ubur-ubur laut dengan tentakel panjang dan mengeluarkan bisa. Ubur-ubur di tengah danau ini bentuknya seperti ikon jamur di film kartun. Kepala gede badan gendut dan pendek-pendek. Saat kita berenang di tengah danau, semakin banyak air danau yang bergemercik semakin banyak ubur-ubur yang akan mendekati kita. Ceritanya yah seperti kayak lagi di film barat dimana ada adegan anak-anak SMA yang sedang jatuh cinta pergi ke tengah danau dan berenang di sana *wink.

Setelah puas berfoto-foto dengan ubur-ubur cupu ini (karena nggak beracun), kini saatnya kembali ke laut untuk berenang bersama karang. Saat kembali berjalan menuju laut, air laut sudah mulai pasang sehingga dari pinggir dermaga kita sudah bisa langsung berenang tanpa perlu berjalan melewati karang-karang. Pemandangan bawah laut Pulau Kakaban pun menimbulkan perasaan takjub diselingi ketakutan tersendiri. Bentuk bawah laut pulau Kakaban ini berupa tebing yang memiliki kedalaman puluhan meter dibawah laut. Sehingga bagi yang belum bisa berenang, harus lebih berhati-hati karena arus yang cukup kuat dapat membawa kita hingga ke atas tebing. Setelah berenang berjam-jam akhirnya kepala saya pening dan akhirnya saya kembali ke atas kapal terlebih dahulu. Entah petaka atau kebodohan apa yang terjadi kepada kami sampai-sampai tidak sarapan, masing-masing cuma bawa air mineral 500ml untuk seharian serta berenang berjam-jam dan di Pulau Kakaban ini. Jangankan penjual makanan, kehidupan pun tidak ada ya Tuhan!. Untung salah satu adik teman saya membawa sedus makanan ringan langsung dari Bangka. Hanya kerupuk ini yang menyelamatkan kami untuk tetap hidup tanpa kelaparan. Setelah mau mati dehidrasi karena mata sudah berkunang-kunang, tiba-tiba seorang bapak dari kapal sebelah yang juga mengantar penumpang muncul sebagai malaikat. Bapak tersebut membawa air mineral kemasan gelas yang banyak dan dibagi-bagikan untuk saya dan teman-teman. Akhirnya kami hidup lagi sodara-sodara.

Menjelang matahari terbenam, kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu kepulauan yang bernama Pulau Sangalaki. Pulau ini memang harus dikunjungi sore hari karena dalam perjalanan menuju ke pulau Sangalaki tersebut, saya dan teman-teman dapat bertemu dengan  segerombolan besar ikan pari yang sedang bermigrasi. Pemandangan tersebut sungguh menakjubkan, karena ikan pari terlihat dimana-mana!. Kalau pandai berenang tidak ada salahnya untuk turun ke dalam laut dan melihat ikan pari berenang (note: mo cari mati kamu? Ekornya pari kan beracun kaliii). Berhati-hati saja dengan arus laut yang sangat kuat disini. Setelah kelompok migrasi ikan pari ini berlalu, perjalanan ke Pulau Sangalaki pun kembali dilanjutkan. Di pulau ini, saya dan teman-teman datang untuk melihat tempat penangkaran penyu. Penyu-penyu tersebut akan dilepaskan kembali ke laut setiap matahari terbenam.
Menjelang malam, kami segera kembali ke Pulau Derawan untuk beristirahat. Tidak seperti di Kepulauan Seribu, jarak antara pulau di Kepuluan Derawan ini memakan waktu sekitar 1 sampai dengan 1,5 jam sehingga setelah seharian, saya dan teman-teman hanya dapat mengunjungi 3 pulau yang memang selalu menjadi tujuan wisata di Kepulauan Derawan. Kehidupan malam Kepulauan Derawan ini ternyata ramai juga, banyak terdapat cafĂ©, bar dan restoran yang kebanyakan dikunjungi oleh wisatawan asing. Ada dua tempat makan yang bisa diandalkan rasanya di Pulau Derawan ini yaitu Restoran Agusty  untuk makan Seafood dan Restoran "xxx" lokasinya didekat dermaga masuk derawan. Ini enak untuk makan rasa rumahan dengan anggaran sekitar Rp.20.000-40.000 sekali makan. Menghabiskan malam yang semakin larut bersama teman-teman di beranda penginapan yang menghadap ke laut juga sangat menyenangkan apalagi penginapan ini menyiapkan air panas untuk merebus kopi, teh dan indomie hingga pagi.

Pulau Derawan



Keesokan harinya, saya dan teman-teman sudah nongkrong di pinggir dermaga di depan penginapan kami. Ada sekelompok penyu yang sedang berenang di bawah dermaga. Betapa beruntungnya kami, karena tidak harus mencari penyu ditengah laut, malah penyu yang mendekati kami. Untuk memancing penyu datang gunakan daun pisang yang ujungnya telah diikat sehingga dapat ditarik dari atas dermaga. Ada yang bertugas menarik-narik daun pisang tersebut dari atas, sedangkan ada pula yang harus turun mengabadikan moment ini. Secara aklamasi saya memilih diri saya sendiri untuk bergabung dengan tim bawah laut untuk berenang dan berfoto-foto dengan penyu. Sumpah yah, yang namany penyu itu bener-bener “unyu” sesuai namanya. Udah dia yang ukurannnya gede pas berenang-berenang terus tatap-tatapan mata dengan saya, malah dia yang kabur duluan. Tapi ada juga penyu yang cuek bebek eh salah cuek penyu. Selama dia makan, mau ada manusia berapa banyak di sekitar dan dan megang-megang dia tetap aja donk dia anteng makannya *swt.
Setelah para penyu ini pergi, maka saatnya juga bagi kami untuk pergi mengitari Pulau Derawan. Salah satu spot yang harus dikunjungi adalah dermaga di salah satu penginapan mahal di pulau ini. Tepat di ujung dermaga, ada pemandangan bawah laut yang jernih, banyak karang dan ikan berwarna-warni yang benar-benar memanjakan mata. Cobalah salah satu atraksi loncat dari ujung dermaga, perasaaannya benar-benar what the Huft! Amazing!. Demikian kisah singkat perjalanan ke salah satu pulau cantik di Kalimantan Timur, semoga kamu mempunyai pengalaman yang lebih berkesan lagi. Have a Good Trip *wink

Literary:
Tiket Pesawat Balikpapan-Berau: 
Rp. 600.000 - Rp. 1.000.000/ Orang/ PP
Sewa Mobil Berau- Tanjung Batu: Rp. 300.000- Rp 350.000/ sekali jalan
Sewa Kapal dari Tanjung Batu + Keliling Pulau: Rp. 1.400.000 - Rp 1.500.000 / dua hari
Penginapan di Berau: Rp. 250.000, ++/ Malam/ 3-4 Orang
Penginapan di Derawan: Rp. 200.000, ++/ Malam/ 3-4 Orang
Makan: Rp 30.000-Rp. 50.000/ orang/ sekali makan
Contact Person: Susanto (08998715326)

Cerita oleh Tenri Ake
Editor: Cita Nursyadzaly

Minggu, 23 Oktober 2011

Deadline nge-Blog

Asal muasal Makan sambil Jalan *wink

Si penulis mempunyai hubungan percintaan jarak Jauh. Long distance relationship ini mengakibatkan penulis mulai mencari kesibukan dengan cara nebeng diberbagai acara teman.

Case I.
Penulis: Eh A lo ngapain weekend ini?
A: Gw sih ada rencana jalan ama temen gw
Penulis: Gw ikut donk, gw janji langsung sksdst ama temen lo jd lo ngak perlu suseh-suseh bikin gw berbaur.ok?
A: ^%&^%$#$^%^&^&...yaudah ok

Case II.
*ngecek-ngecek FB teman-temannya. Monolog," si B ini rajin bener yah keluar kota".
Penulis: B lo sering banget yah jalan keluar kota. Ajak gw donk kemana aja lo pergi.
B: gw minggu ini mau pergi keluar kota mau kegunung ama temen-temen gw.
Penulis: Monolog," mampus gw kan ngak pernah naik gunung? ah dari pada ngak ngapa-ngapain". Ok! Pas! Gw ikut berarti.

Case III.
Penulis: Happy bday C...wish all the best bblablalblabla
C: Terima kasih Penulis
Penulis: Lo mau rayain ultah lo dimana?
C: Belum tau, menurut lo dimana yah bagusnya?
Penulis: Kita keluar kota aja, ada tempat bagus namanya AAA,BBB,CCC kalo menurut gw kita ke AAA aja gw udah survey kita nginep disini, ngunjungin ini, trus begini-begini (*pembaca dilarang ngeres)
C: Ok dagh kalo gtu
Penulis: gw hubungin anak-anak yah berarti.

Case IV.
Penulis: Monolog," Asik entar lagi udah diassign ke project luar kota lagi nigh. Jalan-jalan *joget India".
Minggu pertama di project
Penulis: Teman-teman katanya disini ada DDD, kesana yuk.
Teman: Mauuuuuu, Ayu!! Sekarang aja *Gaduh
Minggu kedua diproject
Penulis: Teman-teman katanya disini ada EEE, kesana yuk.
Teman: Ayoooooo!!
Teman 1: Gw ngak ikut degh *satu gugur
Minggu ketiga diproject
Penulis: Teman-teman disini ada FFF, kesana yuk.
Teman: Jangan sekarang degh nanti dl, banyak deadline minggu depan aja
Penulis: Justru banyak deadline makanya kita harus jalan
Teman: Skip dulu degh
Penulis: Mulai menjalankan strategi CASE I,II,III lagi *wink

Lingkaran inilah yang membuat berbagai cerita muncul diblog ini setiap bulannya bahkan setiap minggunya. Satu keganjilan yang terjadi adalah kenapa sekarang menulis blog pake Deadline???...

Penyebabnya:
1. Jalan-jalan pamer di twitter @foodnfeet
2. Mengumpulkan foto-foto yahud selama perjalanan
3.Mengupload semua foto di akun www.facebook.com/tenriake
4.Teman-teman termakan cerita dan foto-foto mulai nanya-nanya cara kesananya
5. Akhirnya update cerita di blog dan dishare ke teman-teman *tetap dalam rangka pamer.
6. Ngak diupdate di tanya detail gimana-gimananya..makin lama ngak diupdate makin banyak yang nanya
7 Akhirnya meng-update cerita sesegera mungkin supaya kalau ada yang nanya cukup kasi link blog saja *wink...

Lalallaallalalla dan weekend saya sekarang ini, benar-benar produktif karena menghasilkan 4 karya pendingan dari 10 karya yang seharusnya diupdate. Blogs pun pake deadline *swt #sukadukaBloger

 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver