Minggu, 21 Agustus 2011

Beras Basah


Di pagi yang cerah ini saya sudah sangat siap untuk mengunjungi pulau Beras Basah setelah menempuh perjalanan darat sekitar 6-7 jam perjalanan dari kota Balikpapan menuju kota Bontang. Sebenarnya pulau Beras Basah ini adalah pulau pribadi yang dikelola oleh PT. Badak, namun belakangan ini telah dibuka untuk umum. Tidak ada biaya apa-apa yang harus dibayar saat memasuki wilayah pulau ini. Kita hanya perlu membayar sewa kapal yang ditumpangi dari dermaga dekat café Singapura. Untuk satu kapal yang muat 8 orang harga sewanya sebesar Rp.400.000. Perjalanan dengan kapal ini menempuh waktu sekitar 1-1.5 jam. Beruntungnya saya memiliki teman yang bekerja di PT.Badak sehingga saya mendapatkan fasilitas 2 speed boat gratis ke Pulau Beras Basah yang ditempuh hanya dalam 10 menit saja *wink.
Dermaga PT. Badak
Speed Boat dari PT. Badak ke Pulau Beras Basaha
Pantai Pulau Beras Basah
Pulau ini benar-benar hanya sebesar beras kalau dilihat dari atas. Mungkin pula namanya Beras Basah karena pulaunya kecil dan pasirnya yang benar-benar putih sehingga tampak dari atas seperti beras yang selalu basah karena berada ditengah laut. Di dalam pulau ini cuma ada dua bangunan saja yaitu mercusuar dan rumah penjaga pulaunya Sebenarnya banyak yang bisa dinikmati di pulau ini seperti snorkeling dan diving jika kita punya kapal yang membawa kita ke tengah laut. Karang-karang di dekat pulau beras basah sudah banyak yang hancur, dan sekarang baru memasuki tahap rehabilitasi awal lagi, sehingga yang paling bisa kami lakukan untuk menikmati pulau Beras Basah ini adalah bermain air di pantai, mengambil foto di berbagai sudut pulau dan menikmati suasana pantai di dermaga.  Saat menjelang siang hari justru banyak keluarga yang datang mengunjungi pulau Beras Basah ini membawa anak-anak mereka bermain air laut. 
Taman Hijau di Pulau Beras Basah
Family Occasion Pulau Beras Basah
Another View of Pulau Beras Basah
Dermaga Pulau Beras Basah
Mercusuar Pulau Beras Basah

Namun kami hanya memiliki waktu dua jam saja menikmati pulau Beras Basah ini sebelum akhirnya dijemput lagi dengan speed boat PT. Badak. Ada satu hal yang membuat hati miris ketika mendengar cerita dari anak asli sini dengan kalimat seperti ini, “DULU disini banyak karang, tapi banyak juga nelayan yang menangkap ikan dengan bom jadi karangnya sudah rusak”. Benci kata dulu di kalimat itu degh, dulu orang merusak, sekarang saya yang tidak bisa menikmati. Kalau sekarang kita yang merusak pasti dimasa depan ada orang yang seperti saya juga yang mendengar kata yang sama *huks…Dijaga yah pantai dan lautnya belum terlambat inga-inga *wink. 

Cerita oleh T. Ake
Edit oleh C. Nursyadzaly
Foto oleh Yola & Roni

Sabtu, 20 Agustus 2011

Kutai Kertanegara to Bontang


Mungkin bisa dibilang, tidak ada yang bisa menghalangi saya mengunjungi pulau atau saya yang tidak bisa kalau tidak berlibur ke tempat jauh dalam sebulan saja. Kunjungan saya berikutnya dibulan Ramadhan ini adalah pulau Beras Basah. Pulau Beras Basah berjarak 6-7 jam perjalanan darat dari kota Balikpapan menuju kota Bontang. Namun sebelum menceritakan Pulau Beras Basah ini, mungkin ada banyak hal-hal menarik yang harus saya ceritakan terlebih dahulu khusus di halaman blog ini.
Untuk mencapai kota Bontang bisa menggunakan jasa travel sekitar Rp.125.000 / orang atau kalau perginya ramai-ramai bisa rental mobil saja dari Balikpapan dengan rate sekitar Rp.600.000 / harinya. Jika menyewa mobil sendiri tentu saja bisa mampir ke kota-kota yang dilalui sebelum akhirnya sampai di kota Bontang. Salah satu kota yang biasanya dikunjungi di Kalimantan Timur ini adalah kota Kutai Kertanegara. Di kota ini ada dua tempat yang seharusnya dikunjungi. Yang pertama yaitu Jembatan Kutai Kertanegara. Pada malam hari jembatan yang membelah sungai Mahakam ini penuh dengan hiasan lampu dari ujung ke ujung. Sayangnya saya melewati kota ini pada siang hari sehingga hanya bisa berfoto-foto dengan kesan jembatan ini benar-benar panjang.


Selain itu, ada taman yang sebenarnya digadang-gadang untuk menjadi taman bermain di tengah pulau sungai Mahakam. Nama taman ini adalah pulau Kemala, namun sudah banyak fasilitasnya yang rusak dan jarak antar wahana yang cukup jauh pun menjadi salah satu kendala. Untuk mencapai pulau Kumala ini kita harus menggunakan perahu. Perahu ini bisa dipakai hanya untuk menyeberang namun bisa pula disewa untuk berkeliling sungai Mahakam. Biaya masuk ke pulau ini adalah Rp.20.000 /orang untuk fasilitas mobil yang mengantar keliling pulau dan soft drink.
Ojek Perahu untuk menyebrang ke pulau
Bus Wisata untuk berkeliling pulau Kemala

Rumah Adat Suku Dayak


Pura simbol Kutai sebagai kota berkembangnya Hindu
Beranjak ke kota berikutnya adalah kota Samarinda. Kota Samarinda ini adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Timur namun tidak ada yang dapat saya sarankan untuk dikunjungi disini selain makanan pinggir sungai Mahakam dan Islamic Center atau Mesjid Raya kota Samarinda yang dibangun sangat besar dan penuh cahaya lampu pada malam hari. Konon untuk menyalakan lampu seluruh mesjid ini dalam sehari harus menghabiskan solar yang sampai sejumlah Rp.5.000.000  (benar atau salah?).
Tidak berlama-lama perjalanan kembali dilanjutkan hingga tiba akhirnya di kota Bontang. Saya dan teman-teman menginap di Hotel Andika. Selain gratis, buat saya dan teman-teman jaraknya dari tempat keberangkatan pun cukup dekat. Kalau saya gratis kalau kamu tentu saja bayar :p. Harga hotel di sini dimulai dari harga Rp.250.000 hingga Rp.450.000  permalam. Saran saya, jika pergi beramai-ramai ambillah kamar yang seharga Rp.350.000  dan pesan saja kasur tambahan (extra bed) seharga Rp.20.000 . Jangan khawatir karena luas kamar dua kali kamar standar di hotel.

Patung Merlion khas Bontang
Pada malam hari ada dua tempat yang bisa dikunjungi di kota Bontang. Tempat pertama yaitu café Singapura. Dinamakan Singapura karena di cafe ini terdapat Statue Merlion yang juga menyemburkan air dari mulutnya. Kalau pengambilan fotonya hanya badan kita dan Merlionnya saja, orang-orang tentu percaya kita sedang berada di Singapore. Hal yang menarik dari café Singapura ini adalah seluruh bagian café berada di atas teluk. Sebagian besar tempat duduk di cafe ini pun adalah outdoor jadi suasana nyaman dan tenang benar-benar dapat dinikmati di sini. Monolog, ”gimana ngak tenang kalau cuma ada café ini saja di ujung berug Bontang”.
Tempat yang satunya lagi bernama Tanjung Koala. Tanjung Koala ini juga tidak kalah aneh tempatnya dari café Singapura. Kalau café Singapura hanya cafenya saja yang berada diatas air, kalau Tanjung Koala ini dari pinggir jalan masuk kedalam Tanjung Koala sepanjang satu kilometer semuanya berada diatas tanjung. Tanjung Koala ini adalah kumpulan café-café pinggir laut yang biasanya ditemui di kota-kota yang dekat dari pantai. Untuk mencapai café-café ini saya harus berjalan sekitar satu kilometer melewati perkampungan yang rumah-rumah dan jalanan depannya pun dibangun diatas air dengan menggunakan kayu ulin. Monolog,”ulin-ulin betapa malang nasib mu nak nak nak”.
Capek berkeliling kota Bontang pada malam hari saatnya pulang tidur, bagi yang siap melanjutkan perjalanan silahkan mengunjungi bukit di daerah pupuk kaltim. Dari atas bukit, pemandangan pabrik pupuk yang sangat besar ini juga fantastis untuk dinikmati dengan banyak lampu pabrik dan kobaran api abadi di sekeliling pabrik.


Cerita oleh Tenri Ake
Edit oleh Cita Nursyadzaly
Foto oleh Yola & Cak Roni


Minggu, 17 Juli 2011

CANOPY BRIDGE BANGKIRAI

Setelah penat bekerja yang kejar-kejaran dengan waktu akhirnya saya memutuskan untuk memanjakan sedikit otak dengan menulis pengalaman jalan-jalan yang indah. Paling tidak meskipun dibulan Ramadhan ini ngak bisa jalan-jalan, kenangan jalan-jalannya bisa sedikit menyenangkan hati. Perjalanan saya terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan ini adalah ke hutan Bangkirai. 

Hutan bangkirai ini merupakan salah satu hutan lindung di kawasan Kalimantan Timur karena lokasinya yang masih masuk dalam kawasan Bukit Soeharto. Namun kekayaan alam yang dimiliki hutan Bangkirai ini nampaknya tidak dapat menyelamatkannya dari proyek pertambangan. Untuk mencapai kawasan hutan ini, dibutuhkan perjalanan sekitar dua jam dari kota Balikpapan. Untuk mencapai jalan masuk ke hutan Bangkirai sih hanya membutuhkan waktu sekitar sejam namun dari jalan raya terdekat ini dibutuhkan waktu yang sama lamanya hingga bisa masuk ketengah hutan. Mungkin untuk menikmati kawasan wisata ini dibutuhkan niat yang lebih dan ketekukan serta kerja keras *mulai ngawur wink. Tapi kali ini sih saya tidak main-main tentang kondisi jalan yang harus dilewati. Jalan tambang yang berbatu dan tanah merah, serta kondisi jalan yang sempit, mendaki dan berkelok benar-benar pengalaman off-road naik bus yang menyenangkan.
Namun semua usaha yang susah payah untuk mencapati tengah hutan Bangkirai ini rasanya terbayarkan dengan pengalaman yang akan saya dapat nanti. Setelah perjalanan dua jam memasuki kawasan hutan dan pertambangan, kini saatnya turun dari bus dan segera berjalan tracking memasuki hutan menuju “Canopy Bridge Bangkirai”. Canopy bridge adalah jembatan kayu yang dihubungkan dari tali temali. Tali-tali ini diikatkan pada pepohonan tinggi ditengah hutan. Jarak jembatan tersebut sekitar 30 meter dari tanah. Jembatan ini akan menghubungkan beberapa pohon besar yang menjulang tinggi. Baru mendengar deskripsi wisata ini saja saya sudah begitu bersemangat sekaligus memaksakan diri untuk mencobanya (sok-sok ngajakin padahal takut ketinggian *wink). Sebelum jantung berdebar, dari pintu masuk hutan, saya masih memiliki waktu sekitar 20 menit untuk mengumpulkan keberanian. Tracking melewati hutan yang masih alami dan banyak bekas pohon-pohon tumbang dipinggir jalan serta ranting-ranting ala-ala tarzan yang menguak masa lalu saya sebagai Jen :p. 
 
Setibanya dikawasan wisata Canopy Bridge hal yang pertama saya lakukan adalah membeli air minum. Hal ini penting karena saya harus menaiki sekitar 14-20 tangga atau setinggi bangunan 7 lantai untuk sampai keatas pohon. Tidak usah khawatir kalau lupa membawa air minum karena ada monopoli perdagangan minuman dilokasi wisata (tentu saja perdagangan monopoli selalu masang harga seenak jidat, jadi sedia minum lebih baik daripada beli minum :p).  Setelah membeli minuman dan membayar Rp15.000/org (domestik) atau Rp20.000/org (foreigner), maka pendakian anak tangga pun dimulai. Berbagai tips bagi si paranoid ketinggian saat mencoba wisata ini adalah sebagai berikut: 
Menara untuk mencapai atas pohon
 1) saat menaiki tangga paling awal percepatlah langkah sehingga semangat yang belum surut bisa mendorong kamu hingga tangga yang lebih tinggi.
2) Jika pemandangan yang terlihat sudah dedaunan dan ranting maka jangan pernah melihat kebawah karena akan terasa mual, tetaplah menaiki anak tangga.
3) Jika mual tetap terjadi maka melihatlah kebawah sekarang maka dipikiran kamu bisa jadi adalah
  • mau turun udah kepalang basah setinggi ini masa turun
  • makin melihat kebawah makin mual aja
  • keatas sudah lebih dekat, lanjut gannnnn!!! Hahaha ini nama jurusnya adalah menjebak diri sendiri *wink.


Saat sampai ditangga yang paling tinggi maka pemandangan hutan Bangkirai yang hijau dan udara yang sejuk akan segera menyapa. Berdiri diatas memberikan berbagai rasa yang berbeda. Ada perasaan takut karena ini benar-benar tinggi. Ada tiga pemandangan bebas yang bisa saya nikmati. Pemandangan atas langit yang luas setelah melewati hutan yang lebat, pemandangan hijau terbentang sejauh-jauhnya didepan mata dan pemandangan tanah cokelat jauh dibawah kaki saja polos tanpa ada pohon maupun ranting yang menghalanginya. 

Meskipun saya heran kepada diri sendiri kenapa sering sekali membayar untuk membahayakan diri sendiri. Berjalan dijembatan kayu yang hanya dieratkan dengan besi dan tali-temali. Lebar jembatan pun hanya dapat dilewati oleh satu orang. Tentu saja, karena ini hanya kayu yang saling diikat maka mari bergoyang diatas ketinggian 30 meter tanpa alat pengaman sekali pun. Jika pertama melangkahkan kaki ada perasaan mencaci maki diri sendiri terhadap kegilaan ini, maka langkah berikutnya cuma ada rasa takjub dengan pemandangan yang ada. Selain pengalaman hati, pengalaman mata pun benar-benar sangat dimanjakan. Sempatkan beberapa waktu untuk berdiri dan menikmati pemandangan sekitar. Angin dan udara sejuk tentu saja akan menyapa dengan ramah. OMG!! Lagi –lagi alam Borneo ini membuat saya takjub. 

Cerita oleh Tenri Ake
Foto oleh Yola & Cak Roni
Edit oleh Cita Nursyadzaly

Minggu, 10 Juli 2011

Jalan-jalan ke Balikpapan

Selamat datang di kota Balikpapan yang seharusnya menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Timur (pendapat pribadi penulis *wink). Provinsi Kalimantan timur ini dikenal sebagai provinsi yang dihuni beraneka ragam penduduk pendatang yang datang dalam rangka kerja jangka pendek (*saya), kerja jangka panjang (*karyawan tambang atau industri) maupun kerja seumur hidup. Kalau kerja seumur hidup ini bisa jadi karena sudah minum air sungai Mahakam. Konon ceritanya kalau sudah minum air sungai Mahakam maka tidak akan bisa lagi menginjakkan kaki keluar pulau Kalimantan, apa lagi kalo airnya disuguhkan oleh putra-putri daerah, maka cuma tinggal surat yang akan kembali ke kampung halaman *wink. Kalau ini bisa percaya bisa tidak tapi entah kenapa tidak percaya pun namun berdasarkan cerita blog saya dalam setahun ini saja saya sudah dua kali project di pulau Kalimantan *huft dan sekali dalam rangka liburan ditahun 2009. 


Daripada membahas mitos lebih panjang lagi ada baiknya saya menceritakan hal-hal yang lebih nyata dan lebih menarik lainnya mengenai Balikpapan. Kali ini saya dan teman-teman project mengunjungi 3 tempat wisata yang memang menjadi tujuan para wisatawan saat berada di Balikpapan. Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah “Tritip” yang berlokasi 25 km dari tengah kota Balikpapan. Kalau dari namanya saya tidak kebayang tempat macam apa yang akan saya kunjungi ini. Namanya bisa saja lucu tapi apa yang saya kunjungi tidak lucu sama sekali. Tritip ini adalah tempat penangkaran buaya muara. Meskipun Kalimantan memiliki banyak sungai rawa dan muara namun kelestarian hewan ini ternyata perlu dijaga juga dalam suatu penangkaran. Disini terdapat banyak kolam yang airnya hanya sekitar 10 cm tingginya. Bisalah buat cuci-cuci kaki buaya. Setiap kolam memiliki ukuran dan umur buaya yang berbeda. 

Ada banyak kolam disini, dimana ada sekitar 20 ekor buaya perkolamnya. Untuk buaya dewasa yang panjangnya bisa mencapai 3 meter, kolam-kolam biasa sudah tidak cukup lagi untuk menampung. Buaya-buaya yang telah dewasa ditempatkan ditempat seperti rawa. Warna air permukaannya sudah hijau sehingga kadang kita hanya bisa melihat mata buayanya saja. Kalau melihat buaya yang sedang berjemur, bentuknya yang membeku seperti patung benar-benar menipu mata. Kalau buayanya dibiarkan jalan-jalan trus nongkrong diam ditengah gitu bisa-bisa udah foto bareng 1..2..3..HAP lalu ditangkap. Tapi kalau memang mau mewujudkan sensasi foto bersama buaya, dilokasi penangkaran ini itu tentu saja tidak mustahil. Cukup dengan membayar Rp.5000, kita bisa foto bersama anak buaya dengan hitungan 1..2..3..click *wink. Selain melihat kolam, berfoto bersama anak buaya, satu hal lain lagi yang patut dicoba dipenangkaran ini adalah sate buaya. Dengan harga Rp.35000 per porsi (10 tusuk), kita sudah bisa menikmati daging buaya bumbu manis pedas. Tidak hanya hal-hal yang berhubungan dengan buaya, di lokasi ini juga ada beberapa hewan yang saya juga bingung mau mengkategorikan mereka apa. Ada 2 ekor gajah dan beberapa ekor monyet beda ras. Tentu saja bukan hewan dalam penangkaran karena kondisi mereka nampak sangat tidak terurus. 




Setelah beramah tamah dengan buaya-buaya muara sebagai hewan khas Kalimantan, sekarang waktunya mengunjungi lokasi “konservasi beruang madu”. Lokasi beruang madu ini berjarak sekitar 28 km. Tidak terlalu jauh memang dari lokasi penangkaran buaya. Lokasi konservasi ini berada dalam wilayah hutan lindung sungai wain. Kalau tadi kita harus membayar Rp.10000 untuk melihat buaya. maka hanya dibutuhkan biaya Rp.0 untuk melihat beruang madu dari jarak dekat. Tetap ada kotak donasi bagi dermawan yang ingin membantu kelangsungan hidup beruang madu ini. Jika ingin melihat beruang madu, datanglah pada jam 09.00 dan 15.00 karena ini adalah saat makan beruang madu. Tidak banyak hal yang bisa dinikmati sebenarnya di lokasi konservasi ini selain melihat beruang madu lagi makan siang. Namun suasana yang sejuk dan panjangnya jalur tracking yang mengelilingi kandang hutan buatan ini bisa membantu untuk menikmati alam.


Setelah sore menghampiri, perjalanan pulang rombongan saya diarahkan menuju ke satu lagi tujuan wisatawan yaitu “Kebun Sayur”. Kebun sayur ini bukan ladang tempat petani menanam sayur dan kita bisa langsung memetik sayuran segar untuk dibeli dan dibawah pulang kerumah. Kebun sayur ini adalah nama pusat perdagangan oleh-oleh khas Balikpapan. Disini kamu bisa membeli souvenir Kaltim seperti baju, kain corak khas Kalimantan, senjata tradisional daerah Kalimantan (Mandau), pernak-pernik Kalimantan hingga batu-batuan alam yang telah dibentuk menjadi perhiasan yang bagus. Sayang disayang saat saya menawar beberapa perhiasan yang saya suka harganya benar-benar jauh dari ekspektasi saya. Memang sih harganya bisa lebih murah daripada harga diJakarta karena masih dibawah Rp.100000 tapi berbekal pengalaman saya berbelanjan di Martapura harganya lebih mahal karena diatas Rp.50000 semua. Namun dengan niat yang tulus dan keinginan yang kuat setelah berkeliling akhirnya saya mendapatkan satu kalung berbentuk kepala patung dayak dengan harga Rp.35000. Senangnya hatiku turun panas demamku, kini aku bisa pulang dengan tenang *wink. Kalau sampai ke kebun sayur jangan lupa juga mencoba makanan ringan khas Kalimantan timur yaitu “pisang gapit”. Pisang gapit adalah pisang bakar yang dipotong dadu besar kemudian dilumuri dengan saos rasa srikaya plus toping sesuai keinginan kita. 

Dan dengan berakhirnya riwayat pisang gaping dalam perut saya, maka berakhir pulalah perjalan saya diminggu pertama saya di Kalimantan Timur ini. Untuk cerita berikutnya silahkan membuka post list Kalimantan Timur yah… Selamat Liburan yah *wink



Cerita oleh Tenri Ake
Edit oleh Cita Nursyadzaly
Foto oleh Yola

Rabu, 29 Juni 2011

Hari Terakhir di London - Guard Mounting, Arsenal dan London Bridge

Tidak terasa, liburan kali ini harus berakhir. Besok pagi sudah jadwalnya pulang ke Indonesia. Hari ini rencananya mengelilingi London kembali dan tentu saja melihat parade pergantian penjaga istana di Buckingham Palace. Sama seperti kemarin, dengan berjalan kaki dari hotel rasanya semua yang mau kami kunjungi dapat kami temukan dengan cepat dan pegal hahahha. Meskipun kemarin sudah puas di depan Big Ben namun karena lewat yaudah foto lagi degh. Jalan lagi eh ketemu lagi dengan National Museum tapi hanya berakhir dengan foto di depannya, karena kata pacar kami benar-benar harus tiba lebih cepat untuk Guard Mounting. Meskipun terburu-buru namun siapa yang bisa menolak untuk berfoto didepan Kathedral tempat pernikahan keluarga kerajaan. Deket rumah ratu yah ternyata ini Gereja. Pantesan berbagai prosesi kerajaan terlihat rakyat berbaris dari Istana hingga ke Gereja dan tidak ada putusnya. 

Oh iya yang butuh informasi harus naik subway apa dan turun dimana sih biar bisa keliling gini itu ada 5 stasiun kereta terdekat dengan jarak tempuh sekitar 15 menit hingga ke Buckingham Palace. Westminster (Circle, District and Jubilee Lines), St James’s Park (Circle and District Lines), Victoria (Victoria, Circle and District Lines), Hyde Park Corner (Piccadilly Line) and Charing Cross (Bakerloo and Northern Lines).

Tiap stasiun ini akan keluar di salah satu tujuan wisata lainnya, jadi mungkin bisa sambil mengunjungi Big Ben dulu kalau keluarnya di Westminster, atau bisa sambil menikmati taman belakang ratu kalau keluarnya di Hyde Park Corner. Saya sih baru keluar dari dua stasiun ini yah :D

Guard Mounting

Meskipun acara pergantian penjaga istana ini diadakan sekitar pukul 10.30 namun kata pacar kita harus tiba disana pukul 09.00. Wow apakah kita akan nonton konser? Dan ternyata benar saja donk ketika tiba disana, ternyata sudah banyak orang yang berdatangan. Rata-rata mereka mengambil posisi yang tepat agar dapat melihat lebih dekat dan jelas tanpa diselingi kepala maupun ketiak orang yang lebih tinggi yah *wink. 

Ada yang mengambil posisi disekitar bundara depan istana, ada yang digerbang sayap kiri maupun gerbang sayap kanan, dan sisanya berdiri berputar disepanjang jalan depan istana. Saya clueless mengenai posisi ini karena ini pengalaman pertama saya melihat guard mounting. Untung saja si pacar nampaknya berpengalaman banget yah nonton ini , dan memilih posisi digerbang sebelah kanan. Katanya penjaganya keluar dan masuk lewat sini dan juga kita dapat melihat penjaga dari masuk, proses pergantian didalam istana hingga proses keluarnya penjaga shift sebelumnya. Saya iya-iya saja, dan meskipun sudah datang lebih awal namun tinggi badan ini tidak mumpuni untuk melihat guard mounting dari berbagai arah. 

Mendekati pukul 10.45, semua pejalan kaki telah dilarang untung melintas disepanjang jalan. Untuk kegiatan harian seperti ini tetap saja yah banyak yang datang untuk menyaksikan dan tetap padat banget loh. Tidak lama kemudian muncullah pasukan berkuda yang terdiri dari polisi dan penjaga istana, maching band dan juga barisan penjangan yang berbaris rapi masuk kedalam istana. Prosesnya semarak sih yah udah kayak acara 17an di Indonesia, tapi ini meriahnya setiap hari. Pantesan saja bisa menjadi tujuan wisata di London. 

Arsenal Stadion 

Setelah kemarin kepagian sampainya, hari ini pas nih toko souvenirnya sudah buka. Yup kami ke Arsenal Stadium hanya untuk membeli souvenir saja. Udah beli souvenir, eh belinya juga titipan orang lain hahaahha, maklum yah trip on budget. Sekali masuk stadium tour harganya bisa sejuta sendiri perorang dan lagian stadium tour tidak buka setiap hari dan setiap waktu, jadinya harus disesuaikan dengan benar waktu kunjungan kita dengan jadwal stadium tour.

Untuk membeli tiket stadiumnya dapat dilakukan onspot atau lebih baik check paket-paket/ voucher di Internet. Biasanya banyak potongan harga maupun paket yang tidak ditawarkan ketika pembelian on the spot. 

London Bridge

Masih sambil jalan yah teman-teman, mampir di toko kue dulu buat makan manis-manis terus lanjut lagi. Kalau lagi diluar negeri suasana pacaran mah, maunya yang lama-lama nyampenya biar banyakan pegangan tangannya sampai keringetan lap lagi pegang lagi repeat ;P. Setelah sampai di London Bridge yah langsung foto aja diatas jembatannya. Disini kalian bisa duduk-duduk di pinggir sungai untuk melihat kapal-kapal wisatawan berlalu-lalang. Kalau modal dikit bisa juga sekalian menikmati pemandangan kota London dari cruise. 

Pernah liat hop on hop off dibeberapa negara yang kita bayar tiket sekali buat naik bus warna merah itu? Terus kita bisa turun ditempat wisata mana saja, dan kalau mau pindah tempat wisata kita bisa tinggal tunggu bus merah berikutnya lewat saja. Nah cruise disini juga mirip seperti itulah cuma ini versi kapalnya. Jadi hop on hop off-nya dari pier to pier. Harganya beda antara yang mau keliling aja bisa sekitara 11 s.d 16 pound setara Rp.220.000 s.d Rp.360.000 atau yang mau hop on hop off harganya dari 20-40 pound setara Rp.400.000 s.d Rp.800.000. 

Karena waktu kami yang kurang (ehem padahal duitnya), jadilah berjalan-jalan disekitaran pier terdekat london bridge saja sambil pacaran. Beli cemilan dan ngobrol dibawah pohon dengan pemandangan langsung London Bridge. Semoga kalau datang ke Inggris lagi modalan dikit yah jadi bisa nyobain banyak tourist attaction di kota London. Kalau masih budget mahasiswa gini yah liat-liat dulu ajalah.

Demikian perjalanan kali ini, semoga cepat bertemu di Jakarta dan bisa balik bareng lagi ke Inggris lebih modal ya kan. Thadaaaa.



 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver