Senin, 17 Agustus 2020

Tracking ke Leuwi Cepet

Setelah kami pulang sabtu kemarin dari lewi Hejo, tiga hari kemudian tepatnya hari Selasa kami pun kembali mengunjungi kawasan Curug di Sentul ini. Semua itu karena banyak postingan orang-orang di instagram yang menunjukkan kalau mereka bebas saja mengunjungi Lewi Hejo di hari Senin. Berbekal postingan ini kami pun berasumsi kalau satpol PP hanya bertugas di weekend mengingat pengunjung pasti akan ramai berdatang bersama keluarga diteman dikala weekend. 

Jadilah kami mengambil cuti tambahan dan berangkat hari Selasa kembali ke area Sentul. Ternyata retribusi liarnya beda loh antara weekday dan weekend. Retribusi ilegal ditempat kemari yang ada jalan mendaki yang rusak berubah dari seikhlasnya menjadi 10.000 idr per mobil. Setelah itu, pembayaran untuk parkir dan biaya masukknya juga berubah. Kali ini kami parkir tidak dipinggir jalan lagi, kami masuk kearea yang memang diperuntukkan untuk parkir. Kami harus membayar 50.000 idr per mobil yang sebelumnya hanya 10.000 idr/ mobil. Tapi kali ini tidak ada biaya retribusi perorangan yang diwajibkan untuk kami. 


Lewi Hejo
Pertama tentu saja kami mengunjungi Lewi Hejo, namun ternyata banyak juga orang yang berpikiran sama seperti kami. Mereka juga memilih berlibur dihari kerja sehingga area Lewi Hejo ini benar-benar padat. Susah untuk menjaga jarak antara satu pengunjung dengan pengunjung lainnya. Tentu saja ini ada spot yang paling dikejar oleh orang-orang. Ini Lewi terendah kedua setelah Lewi Barong yang bisa dinikmati disini. Dengan jarak tempuh sekitar 15 menit dari parkiran, anak kecil pun masih bisa diajak untuk menikmati kedua Lewi ini.

Akhirnya kami memilih untuk melanjutkan perjalanan, jarak temputnya 500 meter tapi dengan waktu tempuh 20 menit donk. Perasaan langsung ngak enak yak bacanya. Ternyata benar saja, 500 meter ini ternyata tangga semua. Tangganya pun tidak santai, tingginya dua kali tangga rumah biasanya. Jarak antar tangga pun aman tidak kecil-kecil sehingga bisa santai sedikit jika tidak kuat mendaki, sambil memberi jalan kepada orang yang ingin lebih dulu.

Di 100 meter terakhir ada "peak" dengan pemandangan indah. Kami mampir dulu beristirahat sambil menikmati pemandangannya. Kami pikir perjalanan masih jauh. Ternyata setelah ini perjalanan yang ditempuh sudah turunan menuju ke Lewi Cepet. Retribusi untuk melanjutkan perjalanan ke Lewi Cepet adalah sebesar 10.000 idr.


Jalanan turunnya tidak lagi berbentuk tangga namun sudah terbuat dari akar-akar pepohonan dan jejak yang dibuka oleh orang-orang. Sesampainya kami pun kami melewati warung yang roboh ditebing karena longsor. Tidak heran sih mengingat warung yang bisa muncul tiba-tiba di antara pepohonan dan tebing.

Cuma ada dua warung di Lewi Cepet, masing-masing warung punya kamar ganti namun tidak lebih baik dari kamar ganti di Lewi Hejo. Yang enaknya, disini ada lokernya, loker dihitung perorang jadi satu loker di isi 1 orang bayarnya 3.000 idr. Kalau 1 loker di isi berdua maka bayarnya 6.000 idr, aneh juga yang cara perhitungan biaya loker ini *wink. Lokernya seadanya sih lebih mirim kandang ayam karena dibuat dari bambu-bambu seadanya dengan kunci gembok didalamnya. Tapi ini sangat membantu, karena pasti kita akan berenang cukup jauh dari barang-barang kita selama kita disini.

Ternyata kami hanya dua group disini. Group pertama berjumlah 5 orang dan kami berdua saja. Keputusan yang benar kami milih untuk melanjutkan perjalanan ke Lewi Cepet. Masing-masing Lewi ini berbeda ciri khasnya. Kalau Lewi Hejo dengan warna airnya yang kehijauan efek dari kedalaman kolam +/- 7 meter, Lewi Cepet mempunyai ngarai yang panjang dengan kedalaman +/- 2 meter. Kalau difoto gini seperti punya kolam renang pribadi saja. Airnya yang sejuk dan dingin serta arus sungai baek-baek kakinya ketarik yak *wink. Bagi yang tidak bisa berenag, salah satu warung disini menyewakan jaket pelampung (maaf gk nanya harga tapi barang-barang jualan disini hanganya masih daerah kok bukan mendadak harga tempat wisata gtu). 

Lewi Cepet

Lewi Cepet

Puas berenang bolak balik di kolam renang pribadi ini, kami pun menyusuri sungai untuk melihat pemandangan yang lain. Ternyata banyak kolam-kolam kecil yang kedalamannya +/- 1 meter. Kolam-kolam ini enak juga untuk dipakai berendam-rendam. Suami istri butuh banget yah suasanan berdua begini aja supaya kembali jadi pacar bukan pasangan ataupun orang tua (you know what i mean yah bu ibu).




Tadi kami naiknya jam 8 kemudian setelah jam 12 siang kami pun memilih untuk turun. Karena kurang sreg dengan kamar ganti di Lewi Cepet saya pun memilih mengeringkan badan sebentar dulu sambil berfoto-foto. Setelah itu nyemek-nyemek jalan 30 menit menuju parkiran lagi deh. Dua hari ini saya milih berbaju olah raga sih memang, alasannya biar gampang kering kalau keringantan dan juga biar ngak nyemek-nyemek amat yah kalau harus jalan turun ke parkiran gini.

Next trip sih kita mau ke Lewi Lieuk, ini posisinya setelah Lewi Cepet. Yang khas dari Lewi Lieuk adalah cliff jumpingnya. Berhubung udah U jadinya gak berani ah kalau cm berdua. Lah kalau suami gw kejedot batu dibawah, gw mah cm bs nunggu ngambang bantuinnya cuy hahahahaha (ketok-ketok kepala orang :p)




Jumat, 14 Agustus 2020

Wisata Keluarga Leuwi Hejo

Bagaimana kebiasaan barunya? sudah beradaptasi banget kan yak. Setelah berbulan-bulan di rumah akhirnya gw masuk kantor, suami masih wfh sedangkan anak-anak masih sfh semua. Meskipun mereka nampaknya sudah puas dengan berjalan-jalan keliling kota hanya diatas mobil saja, namun tetap kasian juga sama mereka. Akhirnya minggu kemarin kami memberanikan diri buat mengajak abang dan kakak untuk tracking ke curug.

Tujuan kami adalah ke Lewi Hejo, lokasinya di Sentul. Dari tengah kota Jakarta ke parkir terdekat yang menuju Lewi Hejo memakan waktu +/- 1jam. Jalan yang berbatu, mendaki dan berkelok membuat perjalanan kami lebih lambat. Kami membutuhkan waktu 30 menit untuk 6km dari perumahan sentul hingga ke pintu masuk lewi hejo. Sepanjang perjalanan ada beberapa "polisi" kampung yang memungut retribusi ilegal. Kami hanya memberikan seadanya ke salah satu polisi kampung. Itupun karena jalanan didepan kami jelek dan mendaki, baek-baek yah pas ngak ngasih retribusi terus ternyata mobil kita mogok butuh bantuan dorong dan mereka ngambek ngak mau bantuin hahahhaah.

Setelah perjalanan lumayan jauh ini akhirnya sampai juga di pintu gerbang Lewi Hejo. Betapa kagetnya kami ketika melihat portalnya yang tertutup dan ada tulisan "ditutup sementara". Ternyata lagi ada kasus sengketa lahan antara pihak pegelola Lewi Hejo dan PT. Sentul. Untungnya hari itu adalah hari libur, kami melihat banyak orang yang tetap melaju dengan kendaraan pribadi mereka. Kemudian waze pun menunjukkan titik lain yang menunjukkan arah ke lLewi Hejo. Pikir kami sih, kalau tidak ke Lewi Hejo, curug manapun bolehlah. Kasian banget sama abang dan kakak yang sangat menanti hari ini tiba.


Tidak perlu berjalan jauh kedepan kami tiba di jembatan dengan aliran sungai berbatu dibawahnya. Banyak juga orang yang berhenti disitu. Ternyata kita tetap bisa menuju Lewi Hejo melewati jalan ini. Lagi-lagi retribusi ilegal, kali ini retribusi ilegalnya disebut sebagai biaya tiket masuk oleh orang lokal yang sedang berjaga. Jadilah kami harus membayar 20.000 idr/ orang untuk tiket masuknya dan 10.000 idr/ kendaraan untuk parkirnya. Sebelum memulai tracking, pastikan dulu semua anak-anak ini sudah selesai hajatnya di wc. Setelah itu cek berikutnya adalah covid kit (masker, topi, handsanitizer dan disinfectant). 

Setelah semuanya ok maka kami pun mengikuti rombongan didepan kami. Namun karena suatu hal kami tidak bisa mengikuti mereka. Sempat kami hanya berempat ditengah ladang sambil wondering jalan mana yang mesti kami pilih nih, harus ke kiri atau ke kanan. Alangkah senangnya ketika melihat ada segerombolan akamsi (anak kampung sini) yang menunjukkan jalan mana yang harus kami  lewati. Tapi kata laki gw, bocah-bocah gini juga ngak bisa dipercaya. Akhirnya kami berhenti lagi dan menunggu rombongan lainnya, bener aja donk, ternyata kami hampir salah memilih arah...omg bocah-bocah.

Perjalanan dari tempat parkir ke Lewi Hejo ditempuh +/- 15 menit untuk orang dewasa dan +/- 20 menit ketika membawa anak. Banyak jalan yang landai hanya sesekali terjal keatas, namun tidak membuat anak-anak mengeluh. Gw rasa tujuan utama mereka untuk berenang membuat adrenalin lagi tinggi-tingginya, sabar aja nih nanti pas turunnya (*wink).

Setelah sampai dilokasinya, kami dilarang naik ke Lewi Hejo. Banyak satpol pp yang berjaga disana. Satpol menjelaskan bahwa area lokasi wisata sudah ditutup selama satu minggu terakhir. Kita bisa naik ke Lewi Hejo hanya untuk melihat dan berfoto saja, namun untuk bisa berwisata air kami tidak diperbolehkan. Akhirnya kami turun saja berenang di aliran air setelah Lewi Hejo. Bagi anak-anak sih mereka tidak peduli berenang dan berfotonya harus dimana. Sepanjang perjalanan pun mereka sudah menyarankan kami untuk nyemplung aja langsung dimana-mana aliran sungai terlihat.








Kami memilih menyebrang sungai terlebih dahulu menuju warung diseberang. Selain tidak banyak dilewatin orang-orang yang mau ke Lewi Hejo, barang pun aman digeletakkan diatas meja yang sangat dekat dengan aliran sungai tempat kami bermain air. Selama bermain air mereka senang dan banyak belajar. Terutama belajar berjalan diatas batu yang kadang licin kadang berlumut, atau dasar sungat yang berpasir. 

Tidak hanya itu saja pelajaran lain yang mereka harus lalui adalah kamar mandi yang kurang menyenangkan. Kamar mandi gelap, lantai semen yang berlumut, tanah liat yang harus mereka lewati dari sungai menuju kamar mandi itu sendiri. Namun syukurlah mereka tetap menikmati liburan outdoor mereka. Memang banyak hal yang hanya bisa dipelajari ketika kita berada jauh dari rumah. Semoga pandemi ini bisa segera berlalu dan kita dalam keadaan sehatlah. Amin

Dua hari kemudian, gw dan suami tidak kapok donk untuk mencoba lagi. Tapi kali ini tanpa anak dan dengan persiapan lebih matang. Yuk check sekalin ceritanya Tracking ke Lewi Cepet. 

 

Covid Version

 

 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver