All Story Start Here

Sunday, May 15, 2011

Pantai Sawarna



Tepat jam 12 siang, seorang teman saya langsung menghubungi via chating bersiap-siap berangkat jam 10 malam ini ke pantai Sawarna. Dengan perasaan tidak yakin dan hasil google foto-foto Pantai Sawarna yang tidak meyakinkan, maka berbekal pemikirian “saat orang-orang berkata buat apa pergi ke pantai yang hanya dibicarakan segelintir orang, maka ke wisata pantai itulah kita pergi” berangkatlah saya. Intinya buat apa pergi kepantai yang sudah tercemar? Bukannya kita lagi wisata alam? Semakin alami semakin wisata alam bukan? *wink.
Pantai Sawarna adalah nama pantai yang diambil dari nama desa lokasi pantai ini berada. Untuk mencapai lokasi desa ini saya dan teman-teman harus melewati perjalanan sekitar 7-8 perjalanan. Memang tidak pernah ada ruginya untuk berangkat dari Jakarta pada malam hari menuju luar kota. Selain jalanan tidak terlalu macet karena antrian pulang kantor di hari Jumat telah berkurang juga belum banyak orang yang melakukan perjalanan malam. Seperti biasa dihabiskan waktu sekitar 4 jam untuk mencapai pelabuhan ratu dari Jakarta. Setelah pelabuhan ratu ini, dibutuhkan waktu lagi sekitar 2-3 jam untuk mencapai Kabupaten Lebak, Kecamatan Bayah, lokasi desa Sawarna berada.  Karena ini termasuk perjalanan yang melelahkan kendaraan kami sempat mampir di daerah perbukitan diatas pelabuhan ratu. Terdapat banyak warung kopi yang memiliki dipan bamboo buat rebahan menunggu matahari terbit dan meminum kopi. Tapi bagi saya si pencinta tidur, maka saya tidak membutuhkan hal lain kecuali bisa selonjoran. Bukan mata yang perlu selonjoran supaya melek tapi badan saya yang sudah capek tingkat dewa kelamaan duduk dan terkantuk-kantuk.
Akhirnya saat matahari sudah mulai silau maka sampai jugalah kami di Desa Sawarna untuk masuk ke dalam desanya kita diwajibkan membayar retribusi sebesar 2.000 idr perorang tenang saja mau keluar masuk 10 kali juga sudah tidak perlu membayar lagi. Untuk masuk ke dalam desa, saya harus melewati jembatan kayu bergoyang yang panjang dan tinggi sekali dari sungai dibawahnya. Apalagi aliran sungai dibawahnay cukup deras dan cokelat. Otak paranoid ketinggian saya benar-benar kreatif menciptakan kartun accident kalau saja saya jatuh kebawah. Namun apapun yang tejadi foto dulu donk *click
Kalau berjalan-berjalan dengan tim ini ternyata lebih backpacker dari tim jalan saya yang lainnya. Benar-benar semua rencana bisa masuk kedalam tas dan dikeluarkan dilokasi kejadian yang artinya “tiba masa tiba akal”. Sesampainya disana barulah kami mencari tempat tinggal. Jangan mengharapkan ada hotel atau cottage-cottagenya mewah disini bahkan cottage yang bagus, karena sebagian besar tempat penginapan disini itu kamar-kamar bilik bamboo yang berderet 3 atau berderet 2. Tempat nginap paling mewah bisa dibilang adalah menyewa rumah penduduk dan itulah yang kami lakukan. Tapi tidak usah takut bukan acara makan sambil jalan namanya kalo mewah itu sama dengan mahal. Harga yang harus dibayar untuk dua hari satu malam di rumah itu dengan porsi makan 3 kali adalah 80.000 idr perorang. Makanannya pun tidak usah diragukan karena benar-benar nikmat dan segar (ayam, telur, ikan asin, sambel terasi,nasi tentunya…biasalah orang Indonesia yang penting sambelnya mantap semua pun terasa nikmat).




Hal yang menarik lagi dari melakukan perjalanan malam selain bisa tidur selama perjalanan, nyampai lokasi masih bisa istrahat jadi tidak terburu-buru mengejar jadwal kegiatan yang ada. Setelah makan siang sekitar pukul 2 siang barulah kami berjalan menyusuri pantai. Hal ini benar-benar efektif karena matahari sudah tidak terlalu terik dan angin pantai sudah berhembus kencang. Buat foto gaya-gaya angin sudah ok bangetlah *wink.
Hari pertama kami akan menyusuri pantai terdekat. Susur pantai itu isitlahnya buat jalan dari ujung pantai yang satu hingga ujung pantai lainya. Namun apa boleh dikata bukan sengaja atau gimana yah, badan saya dibujuk mulu ama ombak. Jadi selama orang berjalan dipantai saya nyebar-nyebur, foto-foto, snorkeling sedikit, berendam dan kawan-kawan. Kalau tidak percaya bahwa bukan saya yang sengaja tapi saya yang digoda oleh ombak itu, buktikan saja dengan foto-foto ini.




Setelah susur pantai ini akhirnya kita tiba di pemberhentian pertama dikenal dengan nama “Batu Berlayar”. Jika kita lihat pada sore hari dimana air laut sudah mulai pasang, bentuk batu yang tinggi menjulang ini memang persis seperti layar perahu yang karam ditengah laut.  Disini saya disajikan pengalaman berbeda lainnya mengenai pantai. Kalau tadi disuguhi ombak laut dan pasir pantainya maka disini pemandangan karang, batu-batuan dan air laut yang hangat benar-benar memanjakan diri untuk berendam disana. Untuk yang hobby fotografi pun tempat ini memberikan background foto yang menakjubkan sekaligus horor dan mistis buat saya karena melihat ombak yang datang begitu tinggi melewati karang hingga sampai kekaki saya.



Jika berjalan sore-sore dan ingin mampir agak lama ditempat ini tidak perlu khawatir karena ada beberapa warung kopi yang menyediakan makan dan minuman hangat. *Patut untuk dicoba pisang orang ibu warung, entah lapar atau memang enak yang pasti bikin nagih. Setelah menikmati sunset diujung pantai ini, maka itulah saatnya untuk kembali kepondokan dan menikmati makan malam ditemani kelapa muda yang bisa minta di ambilkan dengan yang punya pondokan. Harganya murah kok hanya 5000 rph perbatoknya.


Tidak usah berlama-lama hari kedua perjalanan lebih panjang lagi daripada perjalanan kemarin. Kami dihadapkan pada dua pilihan untuk mencapai lokasi pantai yang bernama “Labuan Pari”.  Jika ingin mencapai lokasi tersebut dengan menyusuri pantai seperti kemarin sore maka kami membutuhkan waktu  2 jam berjalan kaki kesana. Namun jika ingin mencapai lokasi tersebut kurang dari sejam maka harus melewati persawahan. Tidak usah disesali tidak usah disanggah perjuangannya karena setelah kata persawahan saya rasa tour guide kami lupa menyebutkan kata perkebunan, perbukitan dan jalan tanah becek karena hujan terus menerus. Dan beginilah perjalanan kami.


Setelah menempuh perjalanan mendaki ini, maka sampailah kami di “Labuan Pari”. Ombak pantai selatan yang tidak terlalu tinggi dan pantai yang masih jauh menjorok kelaut benar-benar seru untuk bermain ombak. Berdasarkan kreatifitas anak-anak setempat, kalian bisa mengambil kayu-kayu yang terapung dipantai atau terdampat dipinggir pantai untuk sekedar dijadikan papan surfing saat ombak datang *wink .



Setelah menghabiskan waktu berjam-jam bermain ombak, minum air kelapa dan bermain bola pasir maka berangkatlah kita menyusuri pantai karang dan bebatuan ini selama dua jam untuk kembali ke pondokan. (*tips supaya bola pasir tidak mudah hancur: bentuk bola pasir dari pasir pantai yang basah terlebih dahulu setelah bisa dibentuk agak bulat maka keringkan dengan melapisinya menggunakan pasir pantai kering. Hati-hati karena berbahaya jika digunakan jarak dekat *wink).




Dengan berakhirnya susur pantai dihari kedua ini maka berakhir pulalah kisah pantai Sawarna. Selamat menikmati perjalanan kesana yah. Dikarenakan pantai ini masih alami dan masih dalam pengelolaan yang traditional, maka tolong dikelola sampah selama nongkrong disekitaran pantai ini. Ngak mau kan klo saya yang buang sampah pas pantainya lagi bagus trus kalian datang 3 bulan kemudian yang menikmati sampah saya kemarin *wink.





2 comments:

mamet said...

keren yaa sawarna

TAKE said...

Sudah kesana? Iya keren buat foto kalau ada ombak besar yang menghempas batu-batunya ^.*

Post a Comment

 

Copyright © Makan sambil Jalan *wink. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver